Industri Hasil Tembakau

Industri Kretek Nasional Lagi-Lagi Selamatkan Kas Negara

cukai

Industri rokok kretek nasional dipastikan menyelamatkan target penerimaan kepabeanan dan cukai tahun ini. Target penerimaan Rp194,99 triliun sampai dengan bulan kesebelas baru terealisasi sekitar 71–72%.

Industri rokok kretek nasional diperkirakan akan menyetor sekitar Rp20 triliun kepada negara tahun ini dalam bentuk pembayaran cukai hasil tembakau (CHT), pajak pertambahan nilai, pajak daerah, dan retribusi pendapatan daerah. Sebagian besar perusahaan rokok akan memesan pita cukai cukup besar pada bulan ini. Keputusan ini terkait adanya Peraturan Menteri Keuangan (PMK) baru yang menaikkan tarif cukai rokok rata-rata 11,19% mulai 1 Januari 2016.

Tanggal 6 November lalu, Menteri Keuangan Bambang P.S. Brodjonegoro mengeluarkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 20 Tahun 2015. Peraturan ini mewajibkan IHT membayar cukai di muka sebelum waktunya. Kenaikan tarif cukai dipatok pemerintah untuk mengejar target penerimaan cukai hasil tembakau k sebesar Rp 146,4 triliun tahun depan.

Direktur Jenderal Bea dan Cukai, Heru Pambudi, mengatakan ada peningkatan pesanan pita cukai sampai tiga kali lipat oleh perusahaan rokok kretek. Peraturan baru mewajibkan pembayaran pita cukai harus lunas pada Desember 2015. Sebelumnya bisa berlaku mundur pada Januari atau Februari. Pemerintah ingin mengoptimalkan seluruh potensi pendapatan negara.

Heru optimis dengan CHT, penerimaan kepabeanan dan cukai bisa mencapai 92% atau sekitar Rp179 triliun akhir tahun ini. Meski tetap lebih rendah dari penerimaan tahun lalu yang mencapai 94%.

Ketua Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (Gappri ) Ismanu Soemiran menilai pemerintah terlalu memaksakan setoran cukai Industri Hasil Tembakau (IHT). Kebijakan tersebut dianggap memberatkan IHT karena harus setorkan jumlah uang yang banyak di akhir tahun guna membayar cukai di depan.

Ironisnya, produktivitas IHT terus mengalami penurunan. Jumlah pabrik rokok terus menyusut. Dengan kenaikan tarif cukai tiap tahun, 4.900 pabrik rokok pada 2009 menyusut sampai tinggal 600 pabrik awal 2015 ini. Hanya 100 pabrik besar yang aktif ajukan pita cukai, 500 pabrik skala menengah dan kecil di ambang kebangkrutan.

Akibatnya, puluhan ribu karyawan industri ini harus mengalami pemutusan hubungan kerja. Jumlah ini meningkat dari tahun lalu yakni 10 ribu pekerja. Dengan beban cukai tambahan dipastikan jumlah PHK akan melonjak tahun depan.

Pemerintah terus sudutkan IHT, meski secara ekonomi dari tahun ke tahun selalu jadi penyelamat penerimaan cukai negara. Ibarat pepatah, habis manis sepah dibuang, itulah pemerintah Republik Indonesia.*[F]

 

Sumber gambar: Eko Susanto via Flickr

Tentang Penulis

Arya Wiradikha Sudisman

Arya Wiradikha Sudisman

Penulis lepas, pemerhati isu kesehatan, dan penyuka kopi.

Tinggalkan komentar