Industri Hasil Tembakau

Ungkapan Syukur Sekaligus Harapan Petani Tembakau

sumbing
Bambang Trisunu
Ditulis oleh Bambang Trisunu

Di lereng Gunung Sumbing, masyarakat Dusun Gopakan, Magelang, Jawa Tengah, yang sebagian besar penduduknya hidup sebagai petani dan pengolah daun tembakau, menggelar ritual merti dusun yang dilaksanakan setiap Selasa Pahing di Bulan Sapar (24/11).

Tradisi ini merupakan salah satu bentuk syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Warga dan beberapa tokoh masyarakat melakukan doa bersama di tepi bangunan Pasanggrahan Sendhang Piwaan. Dalam upacara bersih dusun itu juga digelar ritual pernikahan pohon tembakau. Tradisi manten tembakau merupakan tradisi turun-temurun masyarakat petani tembakau setempat sebagai ungkapan rasa syukur berakhirnya musim tembakau sekaligus harapan kepada Tuhan agar diberi kesejahteraan serta kemakmuran.

Dalam prosesi ritual itu sepasang mempelai yang membawa dua tanaman tembakau yang diberi nama Kiai Pulung Soto dan Nyai Srinthil, diarak keliling desa diiringi alunan suara gending jawa serta tetabuhan kesenian kuda lumping dan sesaji menuju Sendang Gopaan. Selanjutnya, sesepuh desa meminta izin kepada Sang Pencipta dan penunggu mata air untuk melakukan prosesi ritual. Selang beberapa saat, prosesi nikah tembakau pun digelar. Dua tanaman tembakau tersebut dijadikan satu dan dicelupkan ke mata air Sendang Gopaan, sumber kehidupan warga dan pertanian.

Meski saat ini harga tembakau turun dan belum sesuai dengan harapan, dengan dilaksanakannya upacara pernikahan pohon tembakau, para petani berharap tanaman tembakau mendatang dapat lebih memberikan kesejahteraan kepada masyarakat.

Manfaat tembakau bagi perekonomian masyarakat dan negara begitu besar, setiap kebijakan pemerintah harusnya menyatu dengan kehendak rakyat dan melindungi mata air sumber kehidupan rakyat. Selain menopang perekonomian nasional, tembakau telah menjadi bagian tradisi dan budaya nusantara.

Sementara itu, untuk mengejar setoran target penerimaan dari sektor cukai hasil tembakau yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar Rp 139,82 triliun, mulai tahun depan Kementerian Keuangan akan menaikkan tarif cukai sekitar 11,5 %. Kenaikan tarif cukai hasil tembakau ini mulai berlaku pada 1 Januari 2016 dan ditetapkan dalam PMK Nomor 198/PMK.010/2015 tanggal 6 November 2015 tentang tarif cukai hasil tembakau. Ini jelas memberatkan industri hasil tembakau dari hulu hingga hilir.

Industri hasil tembakau terus mendapat berbagai tekanan dari regulasi yang dibuat pemerintah. Industri hasil tembakau yang telah menyetor 95% penerimaan negara dari sektor cukai yang dihasilkan dari industri nasional, menjadi angin lalu bagi pemerintah. [B]

 

Sumber gambar: Eko Susanto via flickr

Tentang Penulis

Bambang Trisunu

Bambang Trisunu

Tembakau, kopi, dan motor tua.

Tinggalkan komentar