Lain-Lain

Oleh-Oleh dari Kunjungan Jokowi ke Amerika Serikat

jokowi obama
Membunuh Indonesia
Ditulis oleh Membunuh Indonesia

Kunjungan kenegaraan Presiden Joko Widodo ke Amerika Serikat pada 25-28 Oktober 2015 membuahkan oleh-oleh investasi asing perusahaan Amerika Serikat sebesar $20,3 miliar. Menteri Luar Negeri, Retno LP Marsudi mengakui kunjungan ini menempatkan isu seputar ekonomi sebagai prioritas agenda pembicaraan kedua kepala negara.

Untuk agendanya, Jokowi mengunjungi Kamar Dagang Amerika Serikat di Washington DC. Kunjungan ini mempertemukan 250 pengusaha dan pembuat kebijakan dari kedua negara. Jokowi diterima oleh Presiden Kamar Dagang Amerika Serikat, Tom Donohue, Presiden Dewan Bisnis AS–Asean Alexander Feldman, dan Presiden US–Indonesia Society (Usindo) David Merril.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Frangky Sibarani menjelaskan bahwa kesepakatan bisnis tersebut menghasilkan 12 kesepakatan yang sudah dalam tahap tanda tangan dan 6 kesepakatan lainnya masih dalam tahap pengumuman. Meski masih dalam tahap pengumuman, beberapa kesepakatan sudah mengantungi izin prinsip di BKPM.

Investasi Amerika Serikat akan diarahkan ke sektor-sektor yang selama ini belum tersentuh, seperti sektor industri baja, kelistrikan, dan transportasi. Frangky mengakui dirinya juga telah melakukan pertemuan privat dengan perusahaan-perusahaan farmasi asal Amerika Serikat untuk membahas beberapa isu dan kemungkinan investasi di Indonesia. Beberapa sektor tersebut menjadi lahan garapan baru investor Amerika Serikat karena untuk periode 2010 hingga kuartal III 2015, mayoritas investasi adalah di sektor pertambangan.

Berikut di antaranya daftar investasi $20,3 miliar yang telah disepakati:

  1. Perjanjian pembalian liquid natural gas (LNG) antara perusahaan minyak dan gas plat merah Pertamina dengan Corpus Christie Liquefaction bernilai $13 miliar untuk pendistribusian LNG ke Lampung Floating Storage Regasification Unit (RSFU) untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar di bagian barat Indonesia dan terminal LNG di bagian timur Indonesia.
  2. Komitmen perluasan pabrik korporasi tembakau AS, Phillip Morris senilai $1.9 miliar dalam rentang 2016 sampai 2020.
  3. Investasi Coca-Cola sebesar $500 juta dari 2015 sampai 2018 untuk peningkatan produksi dan perluasan pabrik.
  4. Rencana pengembangan blok migas bawah laut Fasken Eagle Ford antara Saka Energi dan Swift Energy di Webb Country Texas senilai $175 juta.
  5. Perusahaan Listrik Negara (PLN) bekerja sama dengan General Electric dalam investasi sebesar $100 juta untuk pengembangan turbin 100 megawatt di Gorontalo.
  6. Universitas Udayana Bali bekerja sama dengan Skychase Energy untuk investasi sebesar $30 juta untuk proyek konservasi air.
  7. BNI Syariah dan Master Card akan meluncurkan kartu debit card khusus haji dan umroh.
  8. PLN dan UPC Renewables bekerja sama dalam investasi $850 juta untuk membangun pembangkit listrik tenaga angin sebesar 350 megawatt dari 2015 to 2018
  9. Cikarang Listrindo dan General Electric bekerja sama dalam investasi $600 juta untuk pengembangan pembangkit listrik.
  10. PT Indonesia Power dan General Electric bekerja sama untuk membangun pembangkit listrik sebesar 700 megawatt dengan nilai investasi $400 juta.
  11. PLN Batam dan General Electric bekerja sama membangun pembangkit listrik sebesar 500 megawatt di Mataram, Bangka, Tanjung Jabung, Pontianak, Lampung, dan Sei Rotan yang bernilai $525 juta.
  12. PT Kereta Api Indonesia dan General Electric bekerjasama mem bangun 50 lokomotif dalam delapan tahun sebesar $60 juta.
  13. PLN dan Caterpillar bekerja sama membangun pembangkit listrik hibrida 2 gigawatt dan PV+ solar project senilai $500 juta.
  14. Cargill berencana memperluas kapasitasnya dalam investasi sebesar $750 juta dari 2015 sampai 2019.
  15. Caterpillar akan mengembangkan Remanufacturing Facility for Cylinder Head di Cileungsi, Bogor, Jawa Barat, senilai $12 juta.
  16. Perum Peruri dan Crane Currency menginvestasikan $10 juta untuk membangun pabrik percetakan uang di Karawang.
  17. Pertamina dan Bechtel Corporation menginvestasikan $800 juta untuk pembangunan sarana pengolahan.
  18. Kilat Wahana Jenggala dan Hubell Power Systems bekerja sama dalam proyek perluasan pabrik senilai $5 juta sampai $10 juta.

Dengan suntikan investasi segar ini Amerika Serikat makin menegaskan posisinya sebagai sepuluh besar negara yang paling banyak menanamkan modalnya di Indonesia. Total investasi Amerika di Indonesia periode 2010 – September 2015 sebesar US$ 8,0 miliar dan menduduki peringkat ke-3 (ketiga) di bawah Singapura dan Jepang. Siapa sekarang menguasai Indonesia? [F]

Tentang Penulis

Membunuh Indonesia

Membunuh Indonesia

Redaksi Membunuh Indonesia mengumpulkan, mengarsipkan, dan memproduksi konten berupa artikel, dokumen, kajian ilmiah, dan sebagainya yang berkaitan dengan topik-topik ancaman kedaulatan ekonomi politik nasional.

Tinggalkan komentar