Lain-Lain

Kerja Sama Bilateral Tidak Menguntungkan

ekspor impor
R. Geos Wirya
Ditulis oleh R. Geos Wirya

Kerja sama bilateral regional maupun multilateral yang dilakukan Indonesia belum menguntungkan. Terlihat dari neraca perdagangan Indonesia dengan beberapa negara yang masih defisit.

Direktur Eksekutif Institute Development of Economics and Finance, Enny Sri Hartati mengatakan, Indonesia dalam kerja sama antar negara masih belum siap. Kesepakatan kerja sama bilateral dan multilateral yang dilakukan pemerintah justru semakin memudahkan barang impor masuk ke Indonesia. Apalagi produk industri Indonesia belum mampu mengimbangi barang dari luar negeri baik harga, kualitas, dan kontinuitas.

Contohnya, kerja sama perdagangan antara Indonesia dengan Tiongkok yang selalu defisit di sisi Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, ekspor non migas Indonesia ke Tiongkok periode Januari–Oktober 2015 mencapai US$ 11 miliar. Sementara impor dari Tiongkok periode yang sama mencapai US$ 23,8 miliar.

Kemudian ekspor non migas Indonesia ke Jepang periode Januari–Oktober 2015 mencapai US$ 10,9 miliar. Sementara impor dari Jepang di periode yang sama mencapai US$ 11,3 miliar.

Indonesia harus mengurangi ekspor bahan mentah menjadi bahan jadi, supaya tidak menjadi negara konsumen. Kerja sama bilateral yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia semestinya bisa memberikan kemakmuran bagi bangsa Indonesia sendiri. Bukan menjadikan masyarakatnya konsumtif terhadap barang-barang luar negeri. [M]

 

Sumber gambar: pixabay

Tentang Penulis

R. Geos Wirya

R. Geos Wirya

Pemerhati batuan dan pecinta sepeda.

Tinggalkan komentar