Lain-Lain

Energi Terbarukan adalah Solusi Menekan Emisi Karbon

polusi udara

Ambisi pemerintah kurangi emisi karbon hanya retorika. Delegasi Indonesia mestinya fokus kedepankan energi terbarukan untuk menekan emisi karbon pada pertemuan tingkat tinggi terkait iklim di Paris bulan depan.

Sekitar 400 delegasi dari Indonesia akan menghadiri konferensi yang dikelola di bawah United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC). Konferensi ini bertujuan melahirkan kesepakatan legal untuk mengurangi pemanasan global.

Dalam Intended Nationally Determined Contributions (INDC) Indonesia, pemerintah Indonesia berjanji mengurangi emisi karbon sebanyak 29% pada 2030. Target ini meningkat dari 26% pada 2020. Merujuk pada INDC Indonesia, pemerintah nyatakan komitmen kurangi emisi karbon yang berasal dari sektor kehutanan dan energi.

Target tersebut jelas mengada-ada. Pasalnya, dalam lima tahun ke depan pemerintah memilih gas alam dan batu bara untuk mencapai target pasokan listik. Berdasarkan dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN), Presiden Joko Widodo menargetkan tambahan 25 gigawatts pada 2019, sekitar 60% berasal dari pembangkit listrik tenaga batu bara. Sisanya berasal dari gas alam.

Terkait tawaran untuk pembangunan energi alternatif dari forum Paris, Indonesia harus hati-hati. Dian Abraham dari Masyarakat Anti-Nuklir Indonesia (Manusia) menilai nuklir memiliki potensi dampak yang sangat buruk. Meski menjadi sumber energi yang lebih baik dari gas alam, nuklir tidak cocok dengan Indonesia karena secara geografis rentan bencana alam.

Astrid Puspitasari, peneliti dari Sawit Watch, memperingatkan pemerintah untuk hati-hati menerapkan INDC. Penggunaan biofuel untuk menekan emisi karbon dari sektor energi menjadi dalih untuk ekspansi perkebunan sawit yang lebih luas. Perluasan sawit sama dengan deforestasi dan emisi karbon yang lebih banyak.

Dampak kebakaran hutan dan lahan gambut untuk pembukaan lahan sawit, sudah kita alami tahun ini. Menurut World Resources Institute (WRI), emisi karbon dari kebakaran hutan tahun ini melampaui emisi karbon dari aktivitas ekonomi Amerika Serikat. Menanggapi tekanan internasional, pemerintah mengeluarkan moratorium terkait pembukaan lahan gambut dan konservasi lahan. Aturan baru yang malah memudahkan korporasi besar untuk buka lahan sawit.

Jika pemerintah memang sungguh ingin kurangi emisi karbon, pemerintah harus kurangi penggunaan batu bara dan gas alam. Tawaran internasional untuk bangun pembangit energi tenaga nuklir dan biofuel juga harus ditolak. Energi terbarukan, yaitu energi yang berasal dari “proses alam yang berkelanjutan” seperti tenaga surya, tenaga angin, arus air proses biologi, dan panas bumi adalah solusi terbaik. [F]

 

Sumber gambar: pixabay

Tentang Penulis

Muhammad Firman Eko Putra

Muhammad Firman Eko Putra

Penyuka teh, buku, dan petualangan.

Tinggalkan komentar