Mineral

Carut-marut Bisnis Minyak

migas
Membunuh Indonesia
Ditulis oleh Membunuh Indonesia

Permasalahan bisnis bahan bakar minyak (BBM) di Pertamina Energy Trading Limited (Petral) terungkap dalam hasil audit Korda Mentha, lembaga yang bergerak di sektor konsultan investasi dan audit yang berdiri di Australia. Ditemukan ada intervensi mafia minyak dan gas (migas) di Pertamina Energy Services Pte (PES). Menyebabkan harga BBM semakin mahal dan negara mengalami kerugian yang sangat besar.

Wacana pembubaran Petral telah lama, namun hanya sekadar rencana. Para pemain migas selama ini aman menikmati hasil kolusi dari transaksi bisnis migas. Lobi yang kuat dari mafia migas membuat upaya membubarkan Petral tidak pernah terwujud. Peraturan pemerintah sampai aturan-aturan lain yang lebih detail mereka masuki untuk menguasai bisnis ini. Pemerintahan Joko Widodo merealisasikan pembubaran anak usaha Pertamina yang berbasis di Singapura itu bersama dua anak perusahaan Petral, yaitu PES dan Zambesi Investment Ltd.

Sesuai rekomendasi yang dikeluarkan Tim Reformasi Tata Kelola Migas, pemerintah kemudian mengalihkan pengadaan dan penjualan minyak mentah dan produk kilang kepada Integrated Supplay Chain (ISC) yang berada di bawah PT Pertamina. ISC merupakan divisi di dalam Pertamina yang dibentuk pada 2008 oleh Ari Soemarno saat menjabat sebagai direktur utama PT Pertamina.

Sejak pengadaan minyak mentah dan BBM diambil alih ISC, Pertamina mengklaim ada penghematan 30 sen dollar AS sampai 40 sen dollar per barrel. Sofyano Zakaria, Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik mengatakan, pengalihan fungsi tersebut bisa menjadi angin segar bagi perusahaan nasional yang bergerak di bidang perdagangan migas jika ISC lebih memprioritaskan perusahan nasional dalam tender pengadaan BBM. Selama ini, perusahaan nasional nyaris hanya menjadi penonton. Pengadaan BBM hampir semua telah jatuh ke tangan pengusaha asing.

Menyikapi hasil temuan dalam audit Petral, pemerintah akan menindaklanjuti kasus tersebut tanpa mengganggu proses likuidasi yang ditargetkan tuntas pada April 2016. Menteri ESDM Sulaiman Said bahkan blak-blakan soal skandal Petral dan menjelaskan beberapa poin yang berkaitan dengan keterlibatan pihak ketiga dalam mengatur BBM yang dijalankan Petral.

Sementara itu, pengamat migas Yusri Usman menilai, hasil audit terhadap Petral Group tidak memuaskan. Audit tidak membongkar secara menyeluruh mafia yang terlibat dalam impor minyak mentah dan BBM. Ia menegaskan seharusnya audit terhadap Petral dilakukan sejak 2004-2014, pemerintah hanya mengaudit periode 2012-2014. Pada periode itu peran Petral dalam pengadaan minyak mentah dan BBM hanya sekitar 20%. Peran terbesar dipegang ISC Pertamina. Pihak yang berperan sebagai owner estimate hingga memutuskan siapa yang menang tender dan berapa harga yang disepakati adalah ISC.

Senada dengan Yusri, Kardaya Warnika Ketua Komisi VII DPR mengatakan pembubaran Petral tanpa perubahan tata cara perdagangan impor minyak mentah dan BBM sebagai langkah yang sia-sia. ISC sama seperti Petral karena tidak mampu menurunkan biaya pengadaan BBM. Kalau dengan membubarkan Petral biaya pengadaan BBM tidak turun dan harga BBM tidak turun, bukan Petral yang bermasalah. Yang diperlukan masyarakat adalah harga BBM yang murah. Tata niaga migas lebih transparan dan berpihak kepada kepentingan masyarakat. [B]

Tentang Penulis

Membunuh Indonesia

Membunuh Indonesia

Redaksi Membunuh Indonesia mengumpulkan, mengarsipkan, dan memproduksi konten berupa artikel, dokumen, kajian ilmiah, dan sebagainya yang berkaitan dengan topik-topik ancaman kedaulatan ekonomi politik nasional.

Tinggalkan komentar