Industri Hasil Tembakau

Bisnis Anti-Tembakau

tembakau

Tidak banyak orang tahu bahwa perang global melawan tembakau berawal dari persaingan bisnis memperebutkan nikotin antara industri farmasi dengan tembakau di Amerika Serikat. Industri farmasi gunakan isu kesehatan untuk menyantap kue keuntungan dari nikotin.

Riset yang dilakukan Kenneth Warner, John Slade, dan David Sweanor dalam Journal of the American Medical Association menunjukkan bahwa industri farmasi dan tembakau di AS memperebutkan ceruk keuntungan miliaran dolar dari penguasaan pasar nikotin dalam jangka panjang. Sudah mafhum diketahui di lingkaran medis dan kedokteran bahwa nikotin punya banyak manfaat medis. Masalahnya, nikotin tidak bisa dipatenkan. Nikotin terkandung secara alami pada tembakau, tomat, kentang, dan banyak sayuran lain. Hanya senyawa mirip nikotin dan sarana pengantar nikotinlah yang bisa dipatenkan.

Limpahan dolar digunakan perusahaan-perusahaan farmasi untuk mendorong riset-riset kesehatan tentang bahaya tembakau, program-program hibah anti-tembakau, hingga dukungan untuk berbagai konferensi kesehatan dunia anti-tembakau, termasuk WHO Tobacco Free Initiative yang lahir tahun 1998. Industri farmasi berusaha memanfaatkan celah ini untuk meraup keuntungan lewat obat-obatan penghenti kebiasaan merokok atau Nicotine Replacement Therapy (NRT). NRT bentuknya bisa permen karet nikotin, koyok, semprot hidung, obat hirup, dan zyban. NRT sendiri berbahan dasar nikotin. Tak heran jika kampanye kesehatan publik tentang bahaya tembakau getol dilakukan. Kampanye ini ujung-ujungnya jadi dalih bagi kepentingan bisnis: memonopoli nikotin dan memasarkan produk-produk NRT tersebut.

Perang global terhadap tembakau sedang berlangsung. Dana untuk WHO Tobacco Free Initiative ini 75% berasal dari perusahaan farmasi multinasional, antara lain: Pharmacia Upjohn yang menjual permen karet nikotin, koyok transdermal, semprot hidung, dan obat hirup; Novartis yang menjual koyok habitrol; dan Glaxowelcome yang menjual zyban.

WHO Tobacco Free Initiative bertujuan untuk mempromosikan WHO Framework Convention on Tobacco Control (FCTC), perjanjian internasional pengendalian tembakau yang bersifat menyeluruh (mengatur produksi, penjualan, distribusi, iklan, hingga perpajakan tembakau), sebagai landasan hukum internasional dalam memerangi tembakau. Jika kelompok anti-tembakau saban hari selalu bersemangat mempromosikan ratifikasi FCTC, masyarakat boleh curiga, semangat apa yang mendorongnya.

Pada Januari 1999, Dirjen WHO Gro Harlem Brundtland mengumumkan kemitraannya dengan perusahaan-perusahaan farmasi dalam perang anti-tembakau di muka World Economic Forum di Davos. Diakuinya sendiri, ketiga perusahaan tersebut adalah manukfaktur obat-obat NRT, sehingga punya kepentingan terhadap isu ini. Menjelang pergantian abad WHO, Bank Dunia, Centers for Disease Control, dan Cochrane Tobacco Addiction Group giat menyelenggarakan konferensi-konferensi serupa. Asal dananya mudah ditebak, selain perusahan-perusahaan farmasi yang sudah lama jadi penyokong dana, Pfizer dan Johnson & Johnson mulai ikut andil gelontorkan miliaran dolar untuk tujuan sama.

Buah dari dana investasi kampanye langsung dirasakan pada awal abad-21. Penelitian Marcia Angell‎ yang dipublikasikan dalam jurnal New England Journal of Medicine menyebutkan selama beberapa tahun belakangan, industri farmasi secara keseluruhan merupakan industri yang paling beruntung di Amerika Serikat. Sepuluh perusahaan obat terbesar menghasilkan laba rata-rata 30% dari pendapatan.

Keuntungan perusahaan farmasi dari “pembohongan publik” dipastikan akan terus meningkat jika Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) diratifikasi di Indonesia. Keuntungan ini dibayar oleh kerugikan para petani, perusahaan, pedagang kecil, distributor, biro iklan, dan hampir semua lapisan masyarakat di Indonesia. Silakan pilih sendiri keberpihakanmu.*

 

Sumber gambar: Eko Susanto via Flickr

Tentang Penulis

Arya Wiradikha Sudisman

Arya Wiradikha Sudisman

Penulis lepas, pemerhati isu kesehatan, dan penyuka kopi.

Tinggalkan komentar