Mineral

Alam Kendeng Menjemput Keadilan

menjemput keadilan
Membunuh Indonesia
Ditulis oleh Membunuh Indonesia

Ratusan warga dari Kabupaten Pati, Kabupaten Kudus, Kabupaten Blora, Kabupaten Rembang, dan Kabupaten Grobogan, yang tergabung dalam Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JM-PPK) sejak Minggu malam (15/11) menggelar aksi berjalan kaki sejauh 122 km dari Pati menuju Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Semarang. Berharap hakim PTUN memenangkan gugatan mereka.

Sebelumnya, warga telah melayangkan gugatan kepada pemerintah Kabupaten Pati yang menerbitkan Surat Keputusan (SK) Bupati Pati Nomor 660.1/4767 tahun 2014, berisi izin lingkungan pabrik semen serta penambangan batu gamping dan batu lempung kepada PT Sahabat Mulia Sakti (SMS), anak perusahaan PT Indocement Tunggal Prakarsa, seluas 2.868 hektar.

JM-PPK menilai di dalam keputusan Bupati itu terdapat kekeliruan, penyalahgunaan, dan pemalsuan data. Salah satunya tentang sebaran lokasi gua. Fakta lapangan menunjukkan ada gua yang dimusnahkan dengan dinamit. Artinya, ada upaya penghilangan bukti awal. Penelitian JM-PPK bersama Acintyacunyata Speleogical Club (ASC) Yogyakarta menemukan ada 30 gua, 110 mata air, dan 9 ponor. Amdal perusahaan hanya menyebutkan 10 gua, 29 mata air, dan 3 ponor.

Zainal Arifin, kuasa hukum warga dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Semarang mengatakan, dalam berkas gugatan, penggugat mengajukan alasan bahwa SK Bupati Pati bertentangan dengan UU Penataan Ruang, Peraturan Pemerintah Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional, dan Keputusan Menteri ESDM soal Penetapan Kawasan Karst Sukolilo. Juga Peraturan Menteri Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan Dokumen Lingkungan Hidup.

Pegunungan Kendeng terbentang luas mulai dari Tuban (Jawa Timur), Rembang, Gorbogan, Pati, sampai Kudus (Jawa Tengah). Sebelum longmarch, ratusan warga menggelar ritual lamporan. Dalam tradisi Jawa, ritual ini dilakukan untuk mengusir segala macam ancaman dan marabahaya. Saat ini warga berpendapat, rencana pendirian pabrik semen merupakan ancaman bagi warga di sekitar Pegunungan Kendeng yang mayoritas bekerja sebagai petani. Masyarakat meyakini penambangan akan merusak lingkungan hidup dan sumber air yang berujung pada perampasan ruang hidup rakyat. Bagi JM-PPK, penolakan pembangunan pabrik semen adalah harga mati. [B]

Tentang Penulis

Membunuh Indonesia

Membunuh Indonesia

Redaksi Membunuh Indonesia mengumpulkan, mengarsipkan, dan memproduksi konten berupa artikel, dokumen, kajian ilmiah, dan sebagainya yang berkaitan dengan topik-topik ancaman kedaulatan ekonomi politik nasional.

Tinggalkan komentar