Industri Hasil Tembakau

Masyarakat Lombok Mengandalkan Tembakau di Tengah Ketidakberpihakan Pemerintah

lombok
Bambang Trisunu
Ditulis oleh Bambang Trisunu

Sikap abai pemerintah kepada sektor pertanian dan industri berbasis tembakau terjadi hampir di seluruh wilayah penghasil tembakau di Indonesia.

Ketidakberpihakan pemerintah kembali ditunjukkan dengan rencana menaikkan cukai rokok tahun depan hingga 15%. Sementara produksi dan distribusi rokok dibatasi, target pendapatan negara dari cukai rokok terus dinaikkan. Beragam perundang-undangan tidak berpihak, cenderung hendak memberangus industri hasil tembakau (IHT) dalam negeri.

UU No.39 tahun 2007 tentang perubahan atas UU No.11 tahun 1995 tentang cukai, yang diterbitkan pada masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, memberi peluang peningkatan tarif cukai terjadi setiap tahun. Penetapan cukai yang semakin tinggi mengusung misi yang selaras dengan ketentuan Framework Convention on Tobacco Control (FCTC).

Tahun 2008, ketika Peraturan Menteri Keuangan (Permenkeu) No. 200/PMK.04/2008 tentang Tata Cara Pemberian, Pembekuan, dan Pencabutan Nomor Pokok Pengusaha Barang Kena Cukai untuk Pengusaha Pabrik dan Importir Hasil Tembakau terbit, banyak industri kecil dan menengah yang kolaps. Di tahun ini pula Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT), mulai didistribusikan.

Dari penelitian yang dilakukan Indonesia Berdikari tahun 2013, DBH-CHT di tingkat daerah ternyata menjadi sarana bagi rezim kesehatan untuk memperlemah produsen tembakau.

DBH-CHT yang tidak tepat sasaran menjadi keluhan para petani tembakau, dana 2% dari cukai hasil tembakau tidak digunakan untuk menyejahterakan petani. Dinas Kesehatan paling banyak menerima DBH-CHT. Saminudin, petani tembakau asal Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), menilai pemerintah kurang tanggap dengan apa yang menjadi sumber penghidupan rakyatnya. Menurut Saminudin, cukai tembakau tahun ini mencapai 137 triliun, dan kalau diambil 2% saja kemudian dibagi ke masing-masing provinsi, sebenarnya dapat meningkatkan produksi di daerah masing-masing.

Tembakau virginia menjadi andalan ekonomi masyarakat Lombok. Harga tembakau yang menjanjikan menjadi salah satu alasan petani memilih budidaya tanaman tembakau. Di wilayah subur yang dikenal dengan nama Sabuk Rinjani, tembakau virginia terbaik tumbuh menghidupkan perekonomian NTB.

tembakauBudayawan Lombok, Paox Iben Mudhaffar, mengatakan bahwa harapan satu-satunya bagi Lombok hanya tembakau. Tembakau menghidupkan banyak hal. Sementara sektor pariwisata Lombok yang selalu digadang pemerintah sebagai pesaing Bali, ternyata belum berdampak banyak bagi masyarakat.

Paox Iben melihat ancaman yang sangat serius dari sektor pariwisata. Tanah di seluruh lingkar pantai hampir semua telah dimiliki asing. Banyak masyarakat yang dulu memiliki tanah di wilayah pariwisata, sekarang hanya menjadi tukang kebunnya.

Bagi masyarakat Sasak yang mayoritas petani, tanah diukur dari kemanfaatan dan kesuburannya. Pantai bukan sesuatu yang seksi. Masyarakat yang masih dalam kebudayaan agraris jelas belum siap memasuki sektor pariwisata. Akhirnya hanya menjadi penonton, tak tahu pariwisata ini mainan apa.

Sementara, sumbangsih tembakau yang besar untuk perekonomian, tidak mendapat perhatian dari pemerintah. Orientasi pembangunan diarahkan ke wilayah non-pertanian, tidak ada implementasi pembangunan yang berpihak kepada petani tembakau. Masyarakat tembakau tidak mempunyai pelindung, sampai sekarang pemerintah tidak membantu menyelesaikan persoalan tembakau, pemerintah tidak menjadi bagian dari solusi, tetapi malah menjadi bagian dari masalah.

Di Lombok, saat kampanye di depan 25 ribu petani tembakau tahun lalu, Jusuf Kalla berjanji bahwa kebijakannya akan selalu berpihak kepada para petani, termasuk petani tembakau. Setahun pemerintahan Jokowi-JK, berapa banyak IHT yang rontok dan buruh di-PHK? Berapa banyak petani tembakau yang kini banting stir menjadi TKI? Lombok yang tadinya andalan negeri tembakau, kini jadi penyuplai buruh migran terbesar di Indonesia.

Tembakau menjadi sorotan serius belakangan ini. Pihak anti-rokok selalu mengaitkan tembakau dengan masalah kesehatan, sementara di sisi lain tembakau memberikan kontribusi yang sangat besar bagi pendapatan negara, lebih besar dibanding pendapatan pemerintah dari sektor lain. Jutaan rakyat bergantung kepadanya, dari mulai petani, buruh musiman, buruh pabrik rokok, pelaku industri, sampai pengasong dan usaha rakyat kecil yang menjual produk hasil tembakau.

Dari hulu sampai hilir manfaat tembakau mengalir membangun perekonomian masyarakat Indonesia. Ketangguhannya dalam terpaan krisis teruji pada saat negeri ini mengalami krisis ekonomi. Industri tembakau yang bahan bakunya 90% dari dalam negeri bertahan saat sektor lain gulung tikar. Kini, di tengah isu miring tentang tembakau, pihak asing menunggu kehancuran industri tembakau lokal. Potensi pasar tembakau yang besar menarik minat mereka menguasai sektor ini.

 

Sumber gambar: Dona Roy

Tentang Penulis

Bambang Trisunu

Bambang Trisunu

Tembakau, kopi, dan motor tua.

Tinggalkan komentar