Lain-Lain

Impor Batik Masih Tinggi di Hari Batik

batik
Membunuh Indonesia
Ditulis oleh Membunuh Indonesia

Meski batik tercatat di UNESCO sebagai warisan budaya Indonesia, nyatanya nilai impor batik ke Indonesia kini sudah mencapai jutaan dolar Amerika Serikat (AS). Serbuan batik yang berasal dari Cina ini sudah terjadi selama empat tahun.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tercatat sebanyak 1.037 ton produk batik masuk dari Cina ke Indonesia dengan nilai US$ 30 juta atau Rp285 miliar. Impor terbesar adalah untuk jenis kain tenun cetak batik, yaitu sebanyak 677,4 ton senilai US$23,3 juta dan kain tenun yang dicetak dengan proses batik sebanyak 199,2 ton dengan nilai US$1,8 juta.

Yang paling terdampak dari banjirnya produk batik impor ini adalah para perajin batik tulis seperti di Bantul. Sukarman, seorang pemilik galeri batik di sentra perajin batik tulis, Bergan, Wijirejo, Pandak, mengakui dahsyatnya dampak serbuan batik Cina pada usahanya (16/6/2015).

Sukarman mengatakan, “Jika tidak ada kebijakan signifikan dari pemerintah, maka perajin batik akan kolaps.” Dijelaskan Sukarman, harga batik cetak asal Cina yang jauh lebih murah tentu lebih menarik minat masyarakat, ketimbang harga batik tulis yang memang cenderung lebih mahal mengingat proses dan cara pembuatannya yang lebih rumit.

“Satu potong kain batik printing yang sudah jadi baju harganya di bawah Rp100 ribu. Namun satu potong batik tulis minimal harganya Rp400 ribu dan yang harga premium mencapai di atas satu juta,” ujar Sukarman. Dengan kondisi tersebut lambat laun batik tulis dalam negeri semakin kehilangan peminatnya.

Menyambut hari batik sedunia yang jatuh pada hari ini pemerintah mesti segera merealisasikan peraturan yang akan melindungi industri batik dalam negeri. [F]

 

Sumber gambar: wikipedia

Tentang Penulis

Membunuh Indonesia

Membunuh Indonesia

Redaksi Membunuh Indonesia mengumpulkan, mengarsipkan, dan memproduksi konten berupa artikel, dokumen, kajian ilmiah, dan sebagainya yang berkaitan dengan topik-topik ancaman kedaulatan ekonomi politik nasional.

Tinggalkan komentar