Lain-Lain

Dieselgate, Konsumerisme Hijau Bukan Solusi Pemanasan Global

dieselgate
Membunuh Indonesia
Ditulis oleh Membunuh Indonesia

Perusahaan otomotif terkemuka asal Jerman, Volkswagen, terbukti telah melakukan kecurangan dalam uji emisi di Amerika Serikat. Badan Perlindungan Lingkungan Amerika, Environmentalist Protection Agency (EPA) menemukan software canggih bernama ‘Defeat Device’ yang tertanam dalam mobil bermesin Turbocharged Direct Injection (TDI).

Software tersebut akan menurunkan kemampuan mesin dengan otomatis agar menghasilkan emisi rendah pada saat diuji. Namun, dalam keadaan normal ketika dikendarai, mesin bisa menghasilkan tingkat emisi 40 kali lebih tinggi. Kendaraan bermesin TDI sendiri telah terjual sekitar 482.000 unit di Amerika Serikat sejak tahun 2009 sampai 2015.

Cynthia Giles, Asisten Administrator Enforcement and Compliance Assurance, mengatakan bahwa apa yang dilakukan VW merupakan pelanggaran yang serius, karena gas buang yang dihasilkan akan berdampak pada kualitas udara dan tentunya kesehatan masyarakat.

Terungkapnya kecurangan ini juga membuat EPA akan melakukan investigasi untuk memastikan apakah seluruh produsen otomotif melakukan hal yang sama pula. Sejauh ini, selain Amerika Serikat, baru Kanada, Korea Selatan, Italia, dan Inggris yang menyikapi Dieselgate ini dengan serius dan mengintruksikan melakukan pengetatan terhadap uji emisi.

Korporasi besar berani melakukan kecurangan di negara sebesar Amerika Serikat. Bagaimana di negara-negara lain?

Indonesia sendiri adalah pangsa pasar yang besar dalam industri otomotif. Terbukti dengan penjualan mobil yang setiap tahun meningkat. Kasus ini merupakan sebuah ironi ketika produsen otomotif besar dunia berkomitmen untuk menyikapi perubahan iklim dengan menciptakan mobil ramah lingkungan. Tidak menutup kemungkinan industri lainnya melakukan hal yang sama dalam audit energi. Selama ini audit energi hanya dilihat dari sisi efisiensi penggunaan energi, bukan kesehatan.

Pada akhir tahun 2015, negara-negara yang telah meratifikasi United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCC) akan bertemu di Paris dalam Conference of Parties 21 (COP 21) . Indonesia sendiri telah merilis draft final Intended Nationally Determined Contribution (INDC) yang disusun Bappenas dan selanjutnya akan diserahkan pada UNFCC.

Dalam dokumen pendukung INDC, bidang berbasis energi dan transportasi adalah penghasil emisi karbon tertinggi sejak tahun 2000 dan diperkirakan akan menduduki peringkat teratas sampai tahun 2020.

Posisi Indonesia sendiri dalam forum itu sangat dilematis. Di satu sisi Indonesia sedang mengejar target pertumbuhan ekonomi dengan menggenjot sektor industri, namun di sisi lain, Indonesia mendapatkan tekanan untuk ikut mempunyai komitmen yang kuat terhadap agenda pengurangan emisi karbon global.

Dalam forum itu, lobi politik oleh korporasi-korporasi besar sudah dipastikan akan sangat gencar dengan menawarkan jalan keluar yang ‘bersahabat’. Bagaimana menjaga kelestarian planet bumi dan kesehatan masyarakat, juga di saat bersamaan, tidak mengganggu isi kantong pribadi mereka.

Selama satu dekade ini, korporasi-korporasi besar hampir di semua industri sangat getol mengkampanyekan gaya hidup ramah lingkungan untuk menyikapi perubahan iklim dan masalah yang akan dihadapi bumi di masa depan. Dengan membangun wacana ‘perubahan dimulai dari diri sendiri’ atau ‘mulai dari mengubah kebiasaan-kebiasaan kecil’, dan lain sebagainya, mereka menawarkan jalan keluar berupa moralitas konsumen yang mempunyai tanggung jawab ekologi .

Mereka mendramatisir bahwa penggunaan yang tidak efisien dalam skala kecil juga memberikan signifikasi terhadap, misalnya, emisi karbon. Hal ini tidak lain merupakan pelimpahan rasa bersalah kepada publik untuk mengaburkan masalah yang sebenarnya, yaitu korporasi besar yang bermasalah dan melakukan banyak kecurangan.

Kita tidak pernah tahu apakah di dapurnya sendiri, korporasi besar di luar sana benar-benar berkomitmen untuk mengurangi emisi karbon dengan mencari alternatif bahan baku atau teknologi yang ramah lingkungan. Terlebih sektor yang menyumbang emisi karbon terbesar seperti proses industri, yang dalam bahasa Bappenas disebut sebagai Industrial Process and Product Use (IPPU).

Mungkin saja, tidak ada perusahaan yang bersedia mencari bahan alternatif untuk proses produksinya. Tidak peduli ramah lingkungan, menghasilkan emisi karbon yang tinggi atau tidak, yang terpenting adalah efisiensi dalam proses produksi serta laba besar yang merupakan logika mutlak.

Pada akhirnya, konsumerisme hijau tidak akan menyelamatkan kita dari ancaman pemanasan global jika hal-hal besar yang sebenarnya menjadi sumber masalah harus selalu dikompromikan. [Q]

 

Sumber gambar: vrworld.com

Tentang Penulis

Membunuh Indonesia

Membunuh Indonesia

Redaksi Membunuh Indonesia mengumpulkan, mengarsipkan, dan memproduksi konten berupa artikel, dokumen, kajian ilmiah, dan sebagainya yang berkaitan dengan topik-topik ancaman kedaulatan ekonomi politik nasional.

Tinggalkan komentar