Video

Capitalism: A Love Story (2009)

Capitalism: A Love Story (2009) merupakan film dokumenter karya Michael Moore. Di film dokumenter ini, Michael Moore membahas fenomena kandasnya ekonomi Amerika Serikat yang sangat kapitalistik.

Melalui film ini, Moore mengekspos bahwa tidak ada manfaat dari sistem kapitalisme bagi kehidupan manusia, kecuali untuk merusak dan menghancurkan tatanan peradaban. Secara cerdas ia mengungkap penderitaan yang dialami kaum buruh dan masyarakat umum. Lewat narasi yang kuat, kritis, analitis, dan kaya akan sentilan, film ini berhasil menegaskan bahwa kapitalisme adalah problem.

Moore menggambarkan penjahat-penjahat dalam sistem kapitalisme itu seperti Wall Street, bank-bank besar, perusahaan-perusahaan investasi yang mengelola dan mempertaruhkan uang milik para investor, bisnis perjudian, serta perusahaan-perusahaan yang memecat ribuan karyawan meskipun perusahaan itu meraup keuntungan. Bahkan politisi-politisi dan pejabat-pejabat AS seperti Ronald Reagan, George Bush, juga menjadi sosok antagonis karena hubungan mereka dengan bank-bank besar sehingga berbagai kebijakan yang dikeluarkan pemerintah selalu berpihak pada kepentingan segelintir orang di Wall Street. Bukan untuk kepentingan masyarakat luas.

Kapitalisme (baca: ekonomi AS) sejatinya tidaklah pernah tumbuh menjadi tubuh yang sehat. Gampang sakit, sangat rentan guncangan, ringkih, dan seolah-olah terlihat sangat kokoh dari luar padahal sangat keropos di dalamnya. Cepat ataupun lambat, kapitalisme akan tersungkur dan berpelukan dengan tanah.

Tanda-tanda kehancuran sistem ekonomi kapitalisme kerap muncul dan telah membentuk siklus. Krisis demi krisis ekonomi terus berulang tiada henti sejak tahun 1923, 1930, 1940, 1970, 1980, 1990, dan 1998–2001. Roy Davies dan Glyn Davies (1996), dalam buku The History of Money From Ancient Time of Present Day, menguraikan bahwa sepanjang abad XX telah terjadi lebih 20 kali krisis besar yang melanda banyak negara. Fakta ini menunjukkan bahwa rata-rata setiap lima tahun terjadi krisis keuangan hebat yang mengakibatkan penderitaan bagi ratusan juta umat manusia. Bahkan krisis semakin mengkhawatirkan dengan munculnya krisis finansial di AS tahun 2008 lalu.

Ibarat balon, kapitalisme ini memang bisa kelihatan besar, namun isinya hampa, kulitnya tipis, mudah goyah, rawan meletus meski hanya dengan guncangan/serangan ringan. Kalaupun dibiarkan dalam kondisi normal dan aman dari tekanan luar, akhirnya juga bakal kempes sendiri.

Moore mengangkat banyak kasus, misalnya kasus lapas remaja yang dimiliki swasta dan kasus “penipuan” yang memanfaatkan asuransi dan kredit rumah. Kasus-kasus ini merupakan sebab-sebab terjadinya krisis di Amerika Serikat.

Michael Moore menggali pandangan agama terhadap kapitalisme. Beberapa pastor dan uskup diminta pendapat dan pandangannya tentang kapitalisme. Pemuka-pemuka agama tersebut memiliki pandangan yang sama, bahwa kapitalisme itu salah dan bertentangan dengan ajaran agama. Pendapat dan pandangan agamawan tersebut, oleh Moore, diperkuat dengan sebuah adegan satir, di mana adegan Yesus mengatakan bahwa Kerajaan Surga sudah dekat. Yesus menjelaskan cara masuk ke Kerajaan Surga, di mana suaranya di-dubbing oleh Michael Moore dengan kata-kata: “lakukanlah deregulasi finansial”.

Meskipun setting film ini adalah Amerika Serikat, tetapi film ini tetap penting untuk ditonton oleh orang Indonesia. Banyak sekali kemiripan kondisi di Amerika Serikat dengan di Indonesia, khususnya di bidang politik dan ekonomi. Pemerintahan Amerika Serikat dikuasai oleh orang-orang korporat yang serakah (hampir seluruh Treasury Department di era Bush adalah orang-orang Goldman Sachs), tak jauh berbeda dengan kondisi pemerintahan di Indonesia. Ekonomi Amerika Serikat yang dibangun dengan fondasi kapitalisme, dicontek habis-habisan oleh pemerintahan dan pelaku ekonomi kapitalistik di negeri ini. Oleh karena itu, dengan menonton film ini, diharapkan dapat melahirkan kesadaran akan bahaya laten kapitalisme yang terus meningkat. [I]

 

Sumber: youtube

Tentang Penulis

Membunuh Indonesia

Membunuh Indonesia

Redaksi Membunuh Indonesia mengumpulkan, mengarsipkan, dan memproduksi konten berupa artikel, dokumen, kajian ilmiah, dan sebagainya yang berkaitan dengan topik-topik ancaman kedaulatan ekonomi politik nasional.

Tinggalkan komentar