Industri Hasil Tembakau

Ternyata Ada Campur Tangan Asing Membunuh Pertembakauan Indonesia

tembakau
Membunuh Indonesia
Ditulis oleh Membunuh Indonesia

Bloomberg ternyata sudah bekerja sama dengan Kemenkes RI dalam upaya pengendalian tembakau yang hasilnya terwujud dengan kawasan tanpa rokok di 160 kabupaten/kota dan kampanye pengendalian tembakau melalui media massa yang dilaksanakan sejak tahun 2014 dan kini masih berjalan.

Bloomberg memuji kerja sama dengan Balitbangkes dalam mengumpulkan data-data terkait pengendalian tembakau dan penggunaan tembakau dalam Global Adult Tobacco Surveillance tahun 2011 yang selanjutnya akan dilaksanakan kembali pada tahun 2016. Sedangkan Global Youth Tobacco Surveillance telah dilaksanakan pada tahun 2007, 2010, dan 2014.

Bulan Maret 2015 Bloomberg Philantropies dan Bill and Melinda Gates Foundation juga telah menggelontorkan dana sebesar US$4 juta untuk sebuah lembaga dana baru anti-rokok yang diluncurkan di Abu Dhabi pada konferensi internasional tentang pengendalian tembakau. Bloomberg memang telah bertahun-tahun mendanai dan berkampanye bagi diterapkannya hukum pengendalian tembakau di berbagai negara.

Di balik perang anti-tembakau, Bloomberg menyimpan tujuan untuk memenangkan perusahaan farmasi. Bloomberg dan komplotannya mensinergikan kepentingan korporasi industri farmasi dan tembakau dalam satu kepentingan nasional Amerika. (Baca: “Tuhan, Nabi Bloomberg, dan Ajaran Anti-Tembakau”)

Tahun 2006 Bloomberg menginvestasikan dana sebesar US$125 juta dalam bentuk hibah untuk Bloomberg Initiative to Reduce Tobacco Use. Dua tahun kemudian mengeluarkan US$250 juta untuk kampanye global gerakan anti-tembakau. Gates Foundation menyumbang US$ 125 juta. Total dana US$ 500 juta itu digunakan untuk gerakan global anti-tembakau melalui beberapa organisasi.

Tidak kurang 50 negara sudah menerima dana hibah tersebut. Indonesia yang merupakan negara besar penghasil tembakau tentu saja ikut menikmati kucuran dana tersebut. Indonesia menerima dana US$5,5 juta yang dibagikan untuk lembaga-lembaga yang mempunyai kebijakan anti-tembakau. (Lihat: “Aliran Dana Bloomberg di Indonesia” dan “Komnas Pengendalian Tembakau Bawa Misi Asing”)

Berdasarkan data dari situs Bloomberg Initiatives Grants Program, jutaan dolar AS sudah dikeluarkan lembaga itu untuk operasinya membatasi peredaran industri rokok di Indonesia. Gelontoran dana itu menyebar ke organisasi non-pemerintah, instansi pemerintah, kampus, hingga anggota DPR.

Organisasi kemasyarakatan PP Muhammadiyah adalah yang pertama disoroti pada tahun 2010 karena ketahuan menerima dana dari Bloomberg hingga Rp3,6 miliar demi mengeluarkan fatwa haram merokok. LSM anti-korupsi Indonesian Corruption Watch (ICW) menerima US$45.470 pada Juli 2010 demi mengonsolidasikan kampanye anti-tembakau untuk memulai perubahan fundamental pada aturan soal tembakau di Indonesia.

Indonesian Institute for Social Development yang ditugaskan Bloomberg untuk mencari dukungan publik terhadap Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) pada September 2010 menerima US$322.643. Lembaga ini mengeluarkan penelitian yang mengkritik sistem tata niaga perdagangan tembakau yang diklaim merugikan serta memiskinkan petani.

Lembaga Pusat Pengendalian Tembakau dan Ikatan Kesehatan Masyarakat Indonesia (Tobacco Control Support Centre-Indonesian Public Health Association/TCSC-IPHA) dengan tugas membangun pusat kontrol koordinasi gerakan anti-tembakau, menerima US$542.600 pada Agustus 2007. Pada bulan September 2009 mendapat gelontoran dana US$491.569. Bulan Desember 2011 kembali diguyur dana dari Bloomberg sebesar US$200 ribu. Pada bulan Januari 2009 lembaga ini kembali menerima US$12.800 untuk membuat pertemuan LSM anti-tembakau.

Forum Warga Kota Jakarta (Fakta) yang ditugasi Bloomberg untuk memberi dukungan hukum bagi aturan bebas asap rokok di kota Jakarta menerima US$225.178 pada bulan Juli 2010.

Komisi Nasional Pengendalian Tembakau (National Commission on Tobacco Control-NCTC) yang bekerja untuk Bloomberg demi melawan industri tembakau yang mensponsori industri musik dan film di Indonesia, menerima US$81.250 pada Desember 2009. Pada bulan Februari 2011 menerima US$112.700 dari Bloomberg. Bulan Maret 2012, kembali menerima kucuran dana sebesar US$110,628 untuk mendorong mendapatkan dukungan politik dari pejabat pembuat kebijakan.

Lembaga Pembinaan dan Perlindungan Konsumen Semarang didanai Bloomberg sebesar US$106.368 pada November 2010 untuk mendorong Pemda Kota Semarang mengeluarkan Perda Anti-Rokok. Lembaga Perlindungan Anak Provinsi Bali didanai Bloomberg untuk mendorong dikeluarkannya Perda kawasan bebas rokok di Bali. Pada bulan Januari 2012 mereka menerima Rp300,5 juta.

Komunitas Tanpa Tembakau (No Tobacco Community) memperoleh dana US$193.968 pada bulan Mei 2011 dari Bloomberg untuk mendorong keluarnya Perda kawasan bebas rokok di Kota Bogor. Sebelumnya, pada bulan Maret 2009, lembaga ini menerima US$228.224 dari Bloomberg.

Swisscontact Indonesia Foundation menerima US$360.952 dari Bloomberg pada bulan Mei 2009 untuk melobi Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo agar mengeluarkan Perda Anti-Rokok. Pada bualn Juli 2011 lembaga itu kembali menerima US$300 ribu.

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menerima aliran dana Bloomberg sebesar US$454.480 pada bulan Mei 2008 untuk mendorong Perda bebas asap rokok di empat daerah di Pulau Jawa. Setelah itu, dana sebesar US$127.800 dikucurkan lagi pada bulan Januari 2011.

Dana juga disalurkan ke Yayasan Pusaka Indonesia yang ditugaskan untuk mengadvokasi Pergub Sumatra Utara untuk membuat kawasan bebas rokok di provinsi itu senilai US$32.010 pada bulan November 2011.

Bloomberg pernah mengucurkan dana sebesar US$240 ribu kepada Indonesian Forum of Parliamentarians on Population and Development (IFPPD) pada bulan Maret 2011. Tujuannya adalah agar para anggota DPR periode 2009-2014 bersedia membantu pembuatan UU Kontrol atas Efek Tembakau terhadap kesehatan. Proyek itu juga bertujuan mencari dukungan Komisi I DPR agar mengaksesi FCTC.

Tidak terhitung dana yang sudah dikucurkan Bloomberg Foundation yang didirikan oleh seorang filantropis Michael Bloomberg, mantan walikota New York City, Amerika Serikat.

Beberapa hari yang lalu, pada tanggal 22 September 2015, Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nila F. Moeloek melakukan pertemuan dengan Michael Bloomberg dan Dr. Kelly Hening, MD (Direktur Program Kesehatan Bloomberg Philantropies) di kantor Perwakilan Tetap Republik Indonesia di New York USA menjelang pelaksanaan sidang umum Persatuan Bangsa Bangsa ke-70. Menkes RI didampingi Dirjen Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak, dr. Anung Sugihantono, M.Kes dan Staf Khusus Menkes Bidang Peningkatan Kemitraan dan SDGs, Diah Saminarsih, MSc.

Mereka membahas program pengendalian tembakau di Indonesia. Dalam pertemuan tersebut lagi-lagi pihak Bloomberg Philantropies bersedia mendukung pengendalian isu tembakau di Indonesia dalam bentuk kampanye.

Meskipun sampai saat ini Indonesia belum aksesi FCTC, namun Menkes mengakui sudah melakukan banyak hal terkait tembakau. Antara lain lahirnya Peraturan Pemerintah No.109/2012 tentang pengamanan bahan yang mengandung zat adiktif berupa produk tembakau bagi kesehatan dan penerapan kawasan tanpa rokok (KTR). Menkes juga mendorong kenaikan harga rokok sehingga menjadi mahal. Pada pertemuan ini Bloomberg mengapresiasi kampanye pengendalian tembakau melalui media massa yang dilakukan Kemenkes.

Yang brutal, Kemenkes telah merilis iklan video kampanye bahaya merokok yang berminggu-minggu sudah ditayangkan di stasiun televisi nasional. Video iklan ini mengekspos penderitaan almarhum Robby Indra Wahyuda yang meninggal pada usia 26 tahun di Samarinda pada 23 Juni lalu. Iklan ini menyatakan bahwa almarhum Robby meninggal karena menderita kanker laring paru-paru akibat kebiasaannya merokok. (Lihat: video Iklan Layanan Masyarakat Berhentilah Merokok)

Iklan layanan masyarakat yang diproduksi Kemenkes ini seperti mengambil keuntungan dengan mengekspos penderitaan seseorang. Sungguh menyedihkan, sebuah kampanye dilakukan di atas penderitaan salah seorang warga negaranya sendiri. Selain itu, apakah betul almarhum Robby meninggal karena faktor rokok dan bukan karena faktor lain seperti polusi udara, makanan, radiasi, atau faktor-faktor lain yang sampai saat ini belum mampu dideteksi secara ilmiah. Apalagi sudah banyak penelitian yang mengungkapkan manfaat tembakau namun tidak terekspos secara luas karena tidak didukung orang sekaya Michael Bloomberg dan komplotannya. (Baca: “Delapan Manfaat Tembakau” dan “Manfaat Tembakau yang Disembunyikan”)

Di balik kampanye kesehatan merokok membunuhmu yang disponsori korporasi asing inilah pada hakikatnya mereka sedang menghancurkan pilar perekonomian Indonesia, mengkambinghitamkan tembakau, kretek, dan rokok nasional. Mereka sedang membunuh Indonesia.

 

Sumber gambar: Eko Susanto via Flickr

Tentang Penulis

Membunuh Indonesia

Membunuh Indonesia

Redaksi Membunuh Indonesia mengumpulkan, mengarsipkan, dan memproduksi konten berupa artikel, dokumen, kajian ilmiah, dan sebagainya yang berkaitan dengan topik-topik ancaman kedaulatan ekonomi politik nasional.

Tinggalkan komentar