Lain-Lain

Keteguhan Amir Sjarifoeddin Melawan Kolonialisme

amir rokok
Membunuh Indonesia
Ditulis oleh Membunuh Indonesia

Gerakan pembebasan nasional tidak bisa dilepaskan dari peran yang dimainkan Amir Sjarifoeddin Harahap (1907–48) dalam sejarah perjuangan melawan kolonialisme dan imperialisme asing.

Kemampuan intelektual Amir yang luar biasa dan latar belakang sebagai putra seorang jaksa di Medan memungkinkan ia masuk ke sekolah-sekolah paling elit. Amir menempuh pendidikan di ELS Medan pada tahun 1914–21 kemudian ke Leiden dan Haarlem di Negeri Belanda lalu menyelesaikan sekolah hukum di Batavia.

Lahir dan besar dalam keluarga Muslim, pada tahun 1931 Amir masuk dan menekuni ajaran Kristen. Tiap hari Minggu Amir turut berkhotbah. Khotbahnya selalu menyentuh dan meneguhkan banyak orang. Penggaliannya terhadap Injil sangat mendalam. Ia seorang orator brilian dengan pengetahuan politik dan teologia yang sangat tinggi. Bahasanya sederhana dan lugas, suka membumbui kata-kata dengan humor yang sarkastis, karena itu ia menjadi sangat populer. Ia menempatkan kontekstualisasi Kekristenan di Indonesia sebagai bagian dari perjuangan.

Tahun 1931, Amir menjadi pimpinan Partai Indonesia (Partindo). Menjelang invasi Jepang ke Hindia-Belanda, ia menggalang berbagai pergerakan bahwa tanah dalam aliansi anti-fasis dengan mendirikan Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo). Lalu mendorong terbentuknya Gabungan Politik Indonesia (Gapi) dan Gerakan Rakyat Anti-Fasis (Geraf). Amir mempunyai pengaruh besar di kalangan massa, sebagai orator ia sejajar dengan Soekarno.

Amir gigih menolak untuk berkolaborasi dengan Jepang, tidak seperti tokoh-tokoh lain yang berharap Jepang dapat memberikan kemerdekaan kepada Hindia-Belanda setelah Belanda dikalahkan. Amir Sjarifoeddin yang aktif menggalang gerakan rahasia menentang fasis Jepang itu pun akhirnya tertangkap di tengah gelombang-gelombang penangkapan yang berpusat di Surabaya pada bulan Januari 1943. Ia tetap tertawa menghadapi siksaan fisik dan moral bahkan ketika para penyiksa menggantungnya dengan kaki di atas. Ia dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan militer Jepang, namun hukuman mati itu diubah menjadi hukuman seumur hidup berkat campur tangan Soekarno.

Setelah Jepang menyerah kepada Sekutu dan Republik Indonesia diproklamasikan pada 17 Agustus 1945, Amir Sjarifoeddin kembali ke Jakarta untuk memangku jabatan sebagai Menteri Penerangan. Ketika Sjahrir menjadi Perdana Menteri, Amir diangkat sebagai Menteri Keamanan Rakyat/Pertahanan.

Amir Sjarifoeddin mendirikan Parsi (Partai Sosialis Indonesia) yang kemudian dilebur dengan Paras (Partai Rakyat Sosialis) yang didirikan Sjahrir dan menjadi Partai Sosialis (PS).

Kedatangan tentara Belanda yang ingin menegakkan kembali kekuasaan kolonialnya di Indonesia menyebabkan terjadinya berbagai pertempuran di tanah air yang berujung dengan Perjanjian Linggarjati yang ditandatangani Sjahrir. Kabinet Sjahrir jatuh karena menandatangani perjanjian ini yang mengakui secara de facto wilayah Republik Indonesia hanya Jawa, Madura, dan Sumatra saja. Amir Sjarifoeddin menggantikannya sebagai Perdana Menteri.

Agresi Militer Belanda I melanggar Perjanjian Linggarjati, memaksa diadakannya perundingan di atas kapal perang USS Renville yang berlabuh di Tanjung Priok. Perjanjian Renville makin memperkecil wilayah Republik, tentara Indonesia harus hijrah dari Jawa Barat dan Jawa Timur ke Jawa Tengah. Kabinet Amir Sjarifoeddin mengundurkan diri dan digantikan Kabinet Hatta.

Situasi internasional yang ketika itu diwarnai dengan adanya Perang Dingin antara kubu Uni Soviet dan Amerika Serikat pasca Perang Dunia II turut mempengaruhi situasi politik Indonesia. Partai Sosialis (PS) pimpinan Amir Sjarifoeddin bersama-sama dengan organisasi kiri lainnya seperti Partai Komunis Indonesia (PKI), Partai Buruh Indonesia (PBI), Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo), dan Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI), menyatukan diri ke dalam Front Demokrasi Rakyat (FDR). FDR menentang Kabinet Hatta yang menjalankan politik diplomasi dan kompromi dengan Belanda. FDR juga menentang politik restrukturisasi dan rasionalisasi (Re-Ra) TNI yang dilakukan Kabinet Hatta yang dianggap menyingkirkan elemen-elemen kiri di dalam tubuh tentara. FDR menilai Re-Ra hanya akan merugikan kekuatan tentara Republik yang harus menghadapi kembalinya kolonial Belanda.

Terjadi insiden penculikan dan pertempuran terbuka di Solo antara tentara Divisi Panembahan Senopati yang bermarkas di Solo yang menolak program Re-Ra dengan tentara Siliwangi yang hijrah dari Jawa Barat ke Jawa Tengah karena Perjanjian Renville. Pemerintah pusat yang dipimpin Kabinet Hatta berpihak kepada tentara Siliwangi yang akhirnya menguasai Solo, tentara Panembahan Senopati dipukul mundur ke luar kota.

Kekacauan di Solo merambat sampai ke Madiun. Khawatir kejadian di Solo terulang, FDR berusaha mengendalikan Madiun. Wakil Walikota Madiun, Supardi, diangkat untuk sementara sebagai Residen Madiun menggantikan Samadikun yang tidak berada di tempat guna mengendalikan situasi yang kacau di Madiun

Pemerintah pusat menanggapi dan mengeluarkan pernyataan bahwa FDR telah melakukan kudeta dengan mendirikan pemerintahan soviet di Madiun. Kabinet Hatta kemudian memobilisasi tentara untuk melakukan pembersihan di Madiun. FDR tidak memberikan perlawanan yang berarti, Amir Sjarifoeddin dan pimpinan FDR lainnya dipukul mundur lalu melarikan diri ke luar kota sambil bermaksud melakukan gerilya sebagai persiapan menghadapi serangan Belanda.

Pengembaraan yang melelahkan itu pun berakhir, Amir Sjarifoeddin dan pimpinan FDR lainnya tertangkap akhir November 1948. Mantan menteri dan perdana menteri ini hanya memakai piyama, sarung dan tidak lagi bersepatu. Ia berjenggot dan berambut gondrong. Kacamatanya masih bagus, pipa cangklongnya yang tak terpisahkan itu telah hilang. Ia berjalan pincang, kelihatan kurus dan pucat akibat disentri yang sudah lima hari dideritanya.

Mereka kemudian dibawa ke Kudus dan Solo. Tiba di Solo, Amir dan kawan-kawan diserahkan kepada Kolonel Gatot Subroto yang telah diangkat sebagai gubernur militer. Tanggal 5 Desember, Amir dan kawan-kawan tiba di Yogyakarta menggunakan kereta api. Mereka ditunggu oleh beribu-ribu orang. Wartawan diizinkan mewawancarai mereka. Amir diam dan membaca Shakespeare. Mereka dibawa ke benteng Fort Vredeburg.

ngalian amirTanggal 19 Desember 1948 Amir bersama sepuluh pimpinan FDR lainnya dibawa ke Desa Ngalihan di sebelah timur Solo untuk dieksekusi. Amir dan kawan-kawan dieksekusi tanpa melalui pengadilan yang semestinya diadakan untuk memutuskan bersalah tidaknya mereka.

Sebelum dieksekusi, kesebelas orang itu menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Internasionale. Selesai bernyanyi, Amir berseru: bersatulah kaum buruh seluruh dunia! Aku mati untukmu! Kemudian mulailah kesebelas orang yang gagah berani ini ditembak satu per satu. Amir dengan Kitab Injil di tangan adalah orang pertama yang ditembak mati malam itu. ngalian 2 amir

Di sini, di tangan bangsa sendiri, berakhir riwayat Amir Sjarifoeddin, seorang pejuang nasionalis sekaligus internasionalis, seorang komunis sekaligus Kristen yang teguh, dalam perjuangan pembebasan melawan penindasan kolonialisme dan imperialisme.

Pada hari itu juga, kolonial Belanda menyerbu Republik dengan Agresi Militer II tanpa perlawanan yang berarti.

 

Sumber gambar: Yayak Yatmaka

Tentang Penulis

Membunuh Indonesia

Membunuh Indonesia

Redaksi Membunuh Indonesia mengumpulkan, mengarsipkan, dan memproduksi konten berupa artikel, dokumen, kajian ilmiah, dan sebagainya yang berkaitan dengan topik-topik ancaman kedaulatan ekonomi politik nasional.

Tinggalkan komentar