Mineral

Di Negeri Ini Nyawa Tidak Lebih Berharga Dibanding Pertambangan

tani
Membunuh Indonesia
Ditulis oleh Membunuh Indonesia

Tanah adalah sumber kehidupan masyarakat desa. Sejarah mencatat bahwa setiap persoalan tanah akan selalu berakhir dengan konflik berkepanjangan. Perampasan tanah-tanah rakyat terus saja terjadi. Petani dengan paksa dipisahkan dari tanah-tanah yang merupakan faktor produksi utama mereka. Persoalan konflik agraria berlangsung terus-menerus.

Beberapa hari yang lalu terjadi konflik agraria di Desa Selok Awar-Awar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang. Warga menolak aktivitas pertambangan pasir besi. Atas peristiwa tersebut, Salim alias Kancil (52) warga Dusun Krajan II ditemukan tewas. Tosan (51) warga Dusun Persil terluka parah. Keduanya dikeroyok beramai-ramai oleh kelompok warga pro-tambang (26/9/2015).

Fatkhul Khoir koordinator Kontras Jatim saat menggelar rilis dengan sejumlah media, Minggu (7/09/2015) mengatakan bahwa Salim diambil dari rumahnya dan dianiaya di Balai Desa Selok Awar-Awar dengan berbagai macam penyiksaan. Ini jelas ada keterlibatan aparat desa. Salim disiksa dengan cara disetrum, digergaji di bagian leher, dan dipukul dengan benda tumpul juga cangkul. Salim menemui ajal setelah dipukul menggunakan batu di bagian kepala dan sekujur tubuhnya. Salim ditemukan dengan kondisi yang mengenaskan, terikat dan penuh luka sayatan.

Sedangkan korban bernama Tosan, didatangi di rumahnya dan dihajar beramai-ramai oleh orang-orang pro-tambang. Dalam kondisi tidak berdaya, Tosan dilindas dengan sepeda motor dan dipukul dengan menggunakan kayu serta senjata tajam lainnya. Tosan mengalami luka kritis dan saat ini sedang dirawat di rumah sakit terdekat.

Salim dan kawan-kawan berhadapan dengan 30 orang milisi sipil yang dibentuk untuk kepentingan pertambangan pasir besi. Kedua korban kekerasan ini dikenal sebagai warga penolak tambang pasir di pesisir Pantai Watu Pecak. Aktivitas pertambangan pasir besi di Lumajang sudah lama ditolak warga. Aktivitas tersebut mengganggu sistem irigasi pertanian rakyat yang menyebabkan kekeringan panjang. Infrastruktur publik pun mengalami kerusakan fatal akibat lalu lalang kendaraan berat yang digunakan untuk menambang dan mengangkut pasir besi.

Sejumlah organisasi masyarakat sipil memberikan dukungan solidaritas terhadap perjuangan warga Desa Selok Awar-Awar. Widodo salah seorang aktivis Paguyuban Petani Lahan Pantai (PPLP) Kulon Progo Yogyakarta menyatakan mengutuk keras atas tindakan brutal dari pihak penambang dan negara harus bertanggung jawab atas kekerasan agraria yang terjadi bumi Lumajang. Bahwa sudah sepantasnya segala macam aktivitas pertambangan di muka bumi ini dihentikan, agar tidak merusak lingkungan dan menimbulkan konflik sosial.

Setiap perlawanan terhadap pencaplokan lahan dihadapkan pada senjata dan penjara. Ketimpangan di perdesaan tak hanya terpelihara, tapi juga makin tajam. Di tengah kondisi seperti ini, hanya mereka kaya yang punya akses ke perlindungan politik. Mereka yang miskin hanya bisa mengandalkan diri mereka sendiri. Semangat UUPA 1960 pun makin tersingkir jauh ke belakang gemerlap palsu pembangunan.

Konflik agraria akan terus terjadi selama pemerintah negara ini tidak menjalankan konstitusi UUD 45 Pasal 33 dan melaksanakan secara konsekuen UUPA 1960. Di negeri ini nyawa tidak lebih berharga dibanding pertambangan. [R]

 

Sumber gambar: @komunalstensil

Tentang Penulis

Membunuh Indonesia

Membunuh Indonesia

Redaksi Membunuh Indonesia mengumpulkan, mengarsipkan, dan memproduksi konten berupa artikel, dokumen, kajian ilmiah, dan sebagainya yang berkaitan dengan topik-topik ancaman kedaulatan ekonomi politik nasional.

Tinggalkan komentar