Pangan

Kedaulatan Pangan Hanya Wacana

beras
Membunuh Indonesia
Ditulis oleh Membunuh Indonesia

Sejak 2013 sampai 2015, cadangan beras pemerintah dari tahun ke tahun menurun drastis. Guru Besar IPB, Dwi Andreas Santoso, menilai target swasembada pangan yang digalakkan pemerintah hanya sebatas wacana. Dia justru melihat situasi pangan di Indonesia saat ini tengah kritis. Hal ini terlihat dari tingginya impor pangan yang meningkat dalam 10 tahun ini sebesar 346 persen. Kedaulatan pangan itu seperti wacana saja, indah diucapkan tapi kenyataannya jauh.

Upaya mencapai tujuan kedaulatan pangan, pemerintah harus segera memperbaiki sektor hulu sejalan dengan program pembangunan infrastruktur dasar, seperti jaringan irigasi, dan lain-lain. Dalam rentang tahun 2003 sampai 2013, lahan pertanian di Indonesia hilang seluas 5 juta hektare menjadi 26 juta hektar. Hilangnya lahan mempengaruhi ketahanan pangan, sumber penghidupan petani, meningkatnya konflik agraria, kriminalisasi, dan pelanggaran HAM terhadap petani.

Dampaknya, produksi beras turun. Maka untuk memenuhi kebutuhan beras nasional, pemerintah terpaksa mengimpor beras. (Baca: “Lemahnya Ketahanan Pangan Indonesia”)

Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengakui bahwa distribusi pangan di Indonesia masih kacau. Defisit bahan pangan terus terasa meski ada beberapa bahan pangan yang produksinya sudah mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri. Jika pemerintah tidak bisa mengatasi hal ini, maka swasembada pangan yang digalakkan Jokowi hanya wacana semata.

Beras cadangan pemerintah dalam kondisi kritis. Sebab, dari target yang ditentukan saat ini tercatat kurang dari 35 ribu ton. Cadangan beras pemerintah merupakan hal yang sangat strategis. Pemerintah perlu melakukan tanggap darurat, misalnya terjadi bencana. Cadangan beras pemerintah pada awal 2013 sebanyak 431.000 ton dan digunakan sebesar 62.000 ton.

Pada tahun 2014, pemerintah tidak menambah lagi cadangan beras. Padahal, cadangan beras sebanyak 173 ribu ton pada 2015 dialokasikan pemerintah untuk tanggap darurat bencana dan operasi pasar sebanyak 208 ribu ton. Artinya, hari ini posisi cadangan beras pemerintah minus 35.000 ton. Sehingga untuk menanggulangi alokasi darurat bencana dan operasi pasar, Bulog terpaksa harus menggunakan beras raskin.

Sumber gambar: pixabay.com

Tentang Penulis

Membunuh Indonesia

Membunuh Indonesia

Redaksi Membunuh Indonesia mengumpulkan, mengarsipkan, dan memproduksi konten berupa artikel, dokumen, kajian ilmiah, dan sebagainya yang berkaitan dengan topik-topik ancaman kedaulatan ekonomi politik nasional.

Tinggalkan komentar