Lain-Lain

Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan

sawit
Membunuh Indonesia
Ditulis oleh Membunuh Indonesia

Perkebunan kelapa sawit, terutama di Pulau Kalimantan, menjadi sorotan aktivis lingkungan. Merusak keseimbangan alam dan sering terjadi konflik agraria.

Pembukaan lahan untuk perkebunan sawit saat ini seluas 2.504 hektare dari total luas izin 6.700 hektare. Namun, saat ini pihak perusahaan hanya memberikan lahan plasma seluas 210 hektare. Tidak sampai 10% dari total luasan lahan yang saat ini ditanami. Padahal, di dalam Permentan No.26 Tahun 2007 dan SK Ditjenbun Kementan No.03/Kpts/Rc.110/1/07 dan beberapa perjanjian lain, pihak perusahaan harus menyediakan lahan petani plasma sekurang-kurangnya 20% dari total luasan lahan yang ditanami.

Berdasarkan laporan Emi­ly B. Fitzherbert dan kawan-kawan (Trends in Ecolo­gy and Evolution, Vol.23 No.10: 538-545, 2008), pembukaan lahan hutan menjadi lahan kelapa sawit khususnya di wilayah Kalimantan sering dilakukan dengan pemba­karan (fire) dan pembalakan (logging). Menyebabkan kerusakan lingkungan pada lahan yang terbakar dan mengganggu areal lain. Pembakaran dan penebangan hutan dapat mening­katkan CO2 di udara, sehing­ga menambah andil pemanasan global.

Kegiatan pembakaran se­ca­ra langsung merusak ling­kungan biotik. Me­mus­nahkan tumbuhan dan hewan langka yang dilin­dungi, juga akan mengganggu keseim­bang­an alam (equilibrium) yang berdampak buruk bagi keanekaragaman hayati (bio­diversity). Terdapat tumbuhan atau hewan endemik pada kawasan tersebut. Tum­buh­an atau hewan tersebut tentu tidak dapat lagi hidup, karena habitat aslinya bukan lahan kelapa sawit tetapi hu­tan primer.

Beragam persoalan pun muncul, seperti sumber air bersih hilang, perambahan ruang kelola dan pertanian warga, perampasan tanah warga, penghilangan fungsi hutan melalui kebijakan pembukaan hutan skala besar untuk perkebunan sawit, konflik dan kriminalisasi warga. Keadaan ini menjadi bom waktu, suatu saat pasti akan terjadi bencana. Pemerintah cenderung hanya tunduk pada pemodal.

World Bank mencatat, berdasarkan output dari usaha sektor kelapa sawit, Indonesia menduduki peringkat ketiga sebagai negara eksportir Crude Palm Oil (CPO) terbesar di dunia. Sayangnya, peringkat ini tidak sejalan dengan hasil yang dinikmati rakyat.

Dwitho Frasetiandy, Direktur Eksekutif WALHI Kalsel, telah mencatat bahwa dalam kurun waktu tahun 2008–2014 terdapat 26 kasus perkebunan sawit yang menimbulkan konflik agraria antara masyarakat dan perusahaan. Sudah seharusnya pemerintah daerah melakukan penyelesaian terhadap akar permasalahan agraria dengan membentuk kelambagaan penanganan konflik agraria di tingkat kabupaten dan provinsi sehingga permasalahan konflik agraria tidak semakin meluas.

Harizajudin, Kepala Departemen Sosial dan Inisiasi Kebijakan Sawit Watch, meminta agar pihak perusahaan segera menyelesaikan permasalahan masyarakat.  Pemerintah harusnya dapat bertindak tegas terhadap perusahaan-perusahaan nakal yang tidak memenuhi prosedur perizinan yang berlaku sesuai dengan aturan yang ada. Jika melanggar harusnya ada tindakan tegas.

Izin perkebunan ternyata meningkatkan krisis sosial dan ekologi. Kekerasan, kerusakan lingkungan, kriminalisasi, konflik, selalu terjadi hampir di seluruh wilayah.  Berbicara soal perkebunan bukan semata membahas seberapa besar rupiah yang masuk ke kas negara. Namun juga berkaitan erat dengan keselamatan dan ruang hidup warga.

Sumber gambar: wikipedia

Tentang Penulis

Membunuh Indonesia

Membunuh Indonesia

Redaksi Membunuh Indonesia mengumpulkan, mengarsipkan, dan memproduksi konten berupa artikel, dokumen, kajian ilmiah, dan sebagainya yang berkaitan dengan topik-topik ancaman kedaulatan ekonomi politik nasional.

Tinggalkan komentar