Lain-Lain

Harapan Kemitraan Pembangunan Infrastruktur Listrik

listrik
Membunuh Indonesia
Ditulis oleh Membunuh Indonesia

Proyek percepatan pembangunan Pembangkit Listrik Bertenaga Batubara, Gas dan Energi Terbarukan (Fast Track Programme) menjadi program prioritas pemerintah. Pasalnya, kebutuhan listrik di Indonesia berkisar 5.700 MW setiap tahun. Asumsi pertumbuhan sebesar 8% per tahun. Perlu tambahan kapasitas listrik sebesar 1.800 MW. Untuk memenuhi kebutuhan ini pemerintah menggaet beberapa mitra luar negeri.

Pengalaman dengan Tiongkok, proyek pembangkit listrik belum optimal. Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Andrinof Chaniago,  menyampaikan, “Kemarin, sebagian pembangkit listrik yang dibangun ternyata banyak yang tertunda dari jadwal yang ditetapkan karena banyak masalah teknis, maka itu agar ini tidak terulang lagi, nanti akan dilihat lagi teknologinya.”

Pemerintah tetap melanjutkan proyek tersebut. Selain dengan Tiongkok, pemerintah menjalin kemitraan lain dengan Perancis. Kerja sama dengan perusahaan listrik Prancis, Electricite de France (EDF) dan Agence Française de Developpement (AFD), untuk program pembangkit listrik beremisi karbon rendah.

Dengan mempertimbangkan aspek ketersediaan sumber daya alam, Indonesia tidak punya cadangan minyak bumi dan batu bara melimpah. Indonesia punya potensi energi baru terbarukan.

Energi baru terbarukan yang dimiliki Indonesia di antaranya, panas bumi (geothermal) yang bisa jadi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP), sungai yang bisa jadi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), biomassa, gelombang ombak, angin, sampai energi di atas langit, yakni sinar matahari untuk Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi, Rida Mulyana megatakan, “Potensi yang bisa dimanfaatan jadi listrik juga sangat besar, untuk panas bumi bisa lebih dari 28.000 MW, dari air atau PLTA bisa sampai 75.000 MW, ombak, samudera, arut laut hingga energi dari perbedaan temperatur karena kedalaman air laut hingga 61.000 MW, biomassa hingga 32.000 MW.”

Sayangnya, ketersediaan teknologi masih terbatas. Sebagian besar teknologi masih diimpor. Kemitraan harus pertimbangkan tingkat komponen dalam negeri, sehingga mendorong industri dalam negeri tumbuh.

Kedua kemitraan tersebut diharapkan dapat memberi pengalaman dan pengetahuan baru tentang teknologi, sistem perencanaan dan operasi, pemasaran dan regulasi manajemen risiko. Agar tidak melulu bergantung pada asing.

Sumber gambar: pixabay

Tentang Penulis

Membunuh Indonesia

Membunuh Indonesia

Redaksi Membunuh Indonesia mengumpulkan, mengarsipkan, dan memproduksi konten berupa artikel, dokumen, kajian ilmiah, dan sebagainya yang berkaitan dengan topik-topik ancaman kedaulatan ekonomi politik nasional.

Tinggalkan komentar