Lain-Lain

Sesat Pikir Mobil Nasional Hendropriyono

Membunuh Indonesia
Ditulis oleh Membunuh Indonesia

Wacana menggalakkan kembali program mobil nasional bangkit kembali setelah PT Adiperkasa Citra Lestari milik A.M. Hendropriyono menandatangani nota kesepahaman dengan industri mobil Proton Malaysia. Kerja sama bisnis mantan Kepala Badan Intelijen Negara itu dengan Proton ditandatangani di Kuala Lumpur pekan lalu disaksikan langsung oleh Presiden Joko Widodo dan Perdana Menteri Malaysia Najib Razak.

Menteri Perindustrian Saleh Husein menyanggah MoU yang diteken tersebut bersifat Bussiness-to-Bussiness bukan perjanjian antar negara. Namun kehadiran kedua pemimpin tertinggi dua negara yang bertetangga tersebut menimbulkan kejanggalan.

Pengamat politik dan pemerintahan dari Universitas Padjajaran, Bandung, Idil Akbar menilai kerja sama yang dilakukan cukup janggal karena dihadiri kedua pemimpin negara. Seolah ini perjanjian atas nama negara. Kejanggalan lainnya adalah isi dari perjanjian itu sendiri yang dianggap dapat mematikan pengembangan proyek mobil nasional.

Idil menduga, kerja sama tersebut dicurigai merupakan konsesi politik-bisnis antara Hendropriyono dan Joko Widodo. “Semakin sulit menampik tuduhan bahwa keterlibatan Hendropriyono di dalam perjanjian itu bukan upaya balas jasa politik Jokowi,” ujar Idil.

Kecurigaan Idil dengan pertimbangan peran Hendropriyono dalam pemenangan Jokowi pada Pilpres lalu. Meski Hendropriyono tak mendapatkan jabatan politik apa pun di pemerintahan, namun Hendropriyono mendapatkan posisi-posisi penting. Sebut saja selain konsesi mobil nasional, menantu Hendro memperoleh posisi Danpaspampres. Bahkan anak kandungnya mendapatkan posisi strategis sebagai petinggi Telkomsel.

“Jadi, kendati, ada penyangkalan bahwa semuanya murni bisnis, tapi sulit untuk tidak menilai bahwa itu adalah sebuah konsesi,” kata Idil.

Lain lagi dengan pengamat otomotif, Dewa Yuniardi, yang menilai konsesi ini dari sisi bisnis. Dewa menilai kerja sama dengan Proton Malaysia berpotensi memandulkan pengembangan industri otomotif nasional. Karena dalam klausul tersebut Indonesia diposisikan sebagai tempat perakitan dan pemasaran. Jika begitu, Indonesia kemungkinan hanya akan menjadi tempat pengujian produk sebelum Proton melakukan ekspor ke negara lain.

Dewa mengatakan, pengembangan mobil nasional memang membutuhkan kerja sama dengan pabrikan asing. Namun, agar tak hanya menjadi tempat pemasaran, kerja sama harus sangat dibatasi. “Kalau niat mengembangkan mobil nasional ya jangan beli lisensi. Lisensinya punya kita sendiri,” kata Dewa. Pembelian lisensi menurut Dewa akan membatasi pengembangan mobil nasional.

Saat ini, penjualan Proton di Malaysia memang sedang lesu. Pada 2014, Proton mencatatkan penjualan 115.783 unit mobil di Malaysia. Jumlah ini turun 16 persen dari penjualan 2013 sebanyak 138.753 unit. Kerja sama dengan Indonesia ini dikhawatirkan akan menjadi pelecut penjualan mobil Proton semata.

Pengamat otomotif sekaligus anggota Asosiasi Industri Automotif Nusantara itu menilai saat ini Indonesia belum memiliki konsep mobil nasional yang benar-benar siap berproduksi. Tahapan produksi massal dan serapan pasar menjadi kendala utama. “Secara umum ada tiga tahapan dalam memproduksi mobil nasional,” kata Dewa.

Tahapan pertama adalah pembuatan desain dan konsep. Konsep yang masih berbentuk gambar tersebut kemudian diwujudkan dalam bentuk nyata yang disebut prototipe. Langkah ketiga adalah tahapan industrialiasasi atau produksi massal.

Produksi mobil nasional mutlak membutuhkan dukungan dari APBN selain gencar melakukan penetrasi pasar domestik. Hingga saat ini beberapa mobil nasional yang sudah masuk tahap industrialisasi, seperti Tawon dan Fin Komodo, bernasib naas. Hanya digunakan sebagai kendaraan angkut di perkebunan. Bahkan mobil nasional semacam Esemka terhenti pada tahap prototipe. Bagaimana jika pemerintah aktif mendukung pabrik-pabrik otomotif lokal sehingga dapat membatasi susupan-susupan kerja sama swasta seperti perusahaan Hendropriyono dengan Proton yang dapat merugikan pengembangan industri mobil nasional?

Sumber gambar: wikipedia

Tentang Penulis

Membunuh Indonesia

Membunuh Indonesia

Redaksi Membunuh Indonesia mengumpulkan, mengarsipkan, dan memproduksi konten berupa artikel, dokumen, kajian ilmiah, dan sebagainya yang berkaitan dengan topik-topik ancaman kedaulatan ekonomi politik nasional.

Tinggalkan komentar