Industri Hasil Tembakau

Senyawa Organik dalam Asap Rokok Tidak Berbahaya

rokok
Membunuh Indonesia
Ditulis oleh Membunuh Indonesia

Teriakan memalukan belasan mahasiswa BEM FKM UI meramaikan pembahasan Prolegnas 2015—2019 dalam rapat paripurna DPR. Segelintir mahasiswa ini memprotes RUU Pertembakauan yang sedang dibahas dalam Prolegnas. Salah satu perwakilan mahasiswa, Tahta Kurnia berpendapat, “RUU Tembakau ini tidak akan pernah pro terhadap kesehatan dan tidak akan pernah pro ke petani tembakau. Ini akan menyengsarakan bagi petani tembakau sendiri.”

Lebih jauh mahasiswa BEM FKM UI ini mendesak DPR untuk menghapuskan RUU Pertembakauan dari Prolegnas. Tahta dan kawan-kawan menilai adanya kejanggalan dalam RUU ini. Mereka justru mendukung Indonesia untuk masuk dalam konvensi pengendalian tembakau sedunia, yaitu FCTC (Framework Convention on Tobacco Control). Mahasiswa menilai aksesi FCTC akan melindungi kesehatan masyarakat dari dampak berbahaya yang dikandung tembakau.

Logika bahaya tembakau ini sejalan dengan studi yang dipublikasikan oleh Forum Parlemen Indonesia untuk Kependudukan dan Pembangunan dalam buku Ekonomi Tembakau di Indonesia dan Naskah Akademis RUU tentang Pengendalian Dampak Tembakau Terhadap Kesehatan. Buku tersebut menyebutkan berbagai dampak negatif akibat merokok dan terkena paparan asap rokok.

Namun, hasil studi ini dibantah Pusat Studi Nano Biologi, Universitas Brawijaya. Mereka berpendapat bahwa ada kekeliruan dalam melakukan langkah penelitian yang dikerjakan oleh Forum Parlemen Indonesia untuk Kependudukan dan Pembangunan. Menurut Pusat Studi Nano Biologi, Universitas Brawijaya, studi yang dilakukan Forum Parlemen Indonesia tidak dibangun dengan menggunakan data primer dari hasil survei dengan pendekatan pengambilan data berbasis populasi (population based sampling method). Artinya, penelitian yang menunjukkan dampak berbahaya dari rokok tidak menggunakan sampel perokok (yang difokuskan pada responden kretek). Metode sampel yang dilakukan Forum Parlemen Indonesia justru menggunakan sampel orang sakit yang datang di rumah sakit (hospital base sampling method).

Pusat Studi Nano Biologi, Universitas Brawijaya mengingatkan, mempertimbangkan besaran masalah penelitian ini maka diperlukan untuk melakukan penelitian berdasarkan population based survei secara mandiri berskala nasional yang dilakukan oleh pemerintah untuk tujuan menakar dampak kretek secara komprehensif dan cermat serta tepat.

Hasil temuan Pusat Studi Nano Biologi, Universitas Brawijaya justru menyimpulkan lain. Penyebab utama gangguan kesehatan adalah radikal bebas khususnya atom-atom logam berat seperti merkuri dan bukannya senyawa-senyawa organik dalam asap rokok. Menghilangkan radikal bebas terutama unsur merkuri dan logam berat dalam kretek, adalah strategi yang Pusat Studi Nano Biologi tawarkan untuk membuat asap kretek jauh lebih aman.

Secara kimiawi, radikal bebas dapat dijinakkan dalam asap, keberadaan partikel yang merupakan polimer gabungan komponen organik justru cenderung menyehatkan. Dari hasil simulasi dengan computer software crystal makers yang dilakukan, partikel-partikel tersebut dapat berpeluang memberdayakan energi unsur merkuri yang terperangkap di dalamnya untuk didonasikan ke dalam sistem fisiologis tubuh dalam bentuk transport elektron skala milli Volt.

Oleh karena itu, pengaturan mengenai pertembakauan di Indonesia semestinya meletakkan posisi negara pada tujuan mulanya, yakni menyejahterakan rakyatnya. Peran pemerintah dan DPR sebagai representasi dari perwakilan rakyat mempunyai kewenangan untuk mengatur mengenai tata berusaha petani tembakau dan cengkeh, industri hasil tembakau, industri penunjang, dan perlindungan kesehatan, bukan mendukung kebijakan siluman asing seperti FCTC.

Sumber gambar: Eko Susanto via Flickr

Tentang Penulis

Membunuh Indonesia

Membunuh Indonesia

Redaksi Membunuh Indonesia mengumpulkan, mengarsipkan, dan memproduksi konten berupa artikel, dokumen, kajian ilmiah, dan sebagainya yang berkaitan dengan topik-topik ancaman kedaulatan ekonomi politik nasional.

Tinggalkan komentar