Lain-Lain

Pemerintah Menutup Keran Impor Batik

batik
Membunuh Indonesia
Ditulis oleh Membunuh Indonesia

Berita baik datang dari pemerintah. Menteri Perdagangan Rahmat Gobel beberapa waktu lalu menyampaikan keinginannya untuk menutup keran impor kain bermotif batik ke Indonesia. Diharapkan langkah ini akan menjaga produk batik nasional dari serbuan batik impor asal Tiongkok.

“Produk kain batik merupakan ikon negeri ini, dan kebijakan pemerintah melarang masuknya tekstil berdesain seperti batik adalah untuk menjaga produk batik,” kata Menteri Perdagangan Rachmat Gobel.

Daya saing batik dalam industri pakaian dunia tidak perlu dikhawatirkan. Pemerintah justru mencemaskan kiprahnya di pasar domestik. Harga batik asli Indonesia pada umumnya relatif mahal karena proses produksinya membutuhkan waktu yang lebih panjang, sebab dikerjakan secara manual dengan tangan pengrajin. Meski menjadi kebanggaan Indonesia, batik, terutama jenis batik tulis, sering tidak terjangkau kelas menengah bawah.

Harga pasar batik tulis mencapai jutaan hingga puluhan juta rupiah. Konsekuensinya, batik jenis ini hanya bisa dinikmati oleh kalangan kelas menengah ke atas. Konsumen kelas menengah ke bawah terpaksa mencari produk batik lain yang lebih murah. Kesenjangan sosial ini justru dimanfaatkan para produsen batik asing. Para produsen batik asing ini mampu memproduksi batik dengan harga yang jauh lebih murah dari batik lokal.

Sebagai gambaran, mantan Menteri Perindustrian M.S. Hidayat mencontohkan, 60% batik di Tanah Abang itu impor. Batik murah inilah yang bisa dijangkau masyarakat kecil. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2012, tercatat sebanyak 1.037 ton produk batik yang masuk dari Cina ke Indonesia dengan nilai 30 juta dolar AS.

Menurut Menteri Perdagangan Rachmat Gobel, niat pemerintah untuk menghentikan impor batik semata-mata untuk mengamankan pasar batik produk Indonesia di dalam negeri. Perlindungan terhadap produk dalam negeri dilakuan dengan fasilitasi tarif kuantitatif, pengamanan anti dumping dan kontra-dumping dalam mengamankan pasar dalam negeri.

“Mengapa itu dilakukan, karena pasar dalam negeri harus dijaga, dan komitmen untuk mendorong sektor potensial di dalam negeri seperti pertanian dan memanfaatkan produk kita sendiri,” katanya.

Beberapa langkah konkret yang akan dilakukan dalam mengamankan pasar antara lain penguatan pasar sendiri, stabilitas pasokan pasar, logistik dan perdagangan daerah.

Selain itu, pemerintah juga mengusung pemerataan produk untuk memenuhi Standardisasi Nasional Indonesia (SNI). Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk kendali kualitas produk termasuk desain. Itikad pemerintah untuk membendung serbuan impor batik asing perlu diacungi jempol.

Sumber gambar: wikipedia

Tentang Penulis

Membunuh Indonesia

Membunuh Indonesia

Redaksi Membunuh Indonesia mengumpulkan, mengarsipkan, dan memproduksi konten berupa artikel, dokumen, kajian ilmiah, dan sebagainya yang berkaitan dengan topik-topik ancaman kedaulatan ekonomi politik nasional.

Tinggalkan komentar