Lain-Lain

Asing Klaim Lumpia, Kita Mengulang Kesalahan Sama

tembakau
Membunuh Indonesia
Ditulis oleh Membunuh Indonesia

Generasi kelima pencipta jajanan lumpia Semarang, Cik Me Me, bersama para aktivis dari Forum Masyarakat Peduli Budaya Indonesia (Formasbudi) menggelar aksi di depan Kedutaan Besar Malaysia di Jakarta pada Jumat pagi (20/2/2015). Aksi ini digelar sebagai bentuk protes atas upaya Malaysia mengklaim makanan lumpia Semarang.

Klaim atas warisan budaya Indonesia adalah cerita lama yang terus terulang. Berdasarkan catatan Forum Masyarakat Peduli Budaya Indonesia (Formasbudi), sudah ada sepuluh kebudayaan Indonesia yang pernah diklaim Malaysia. Kesepuluh budaya Indonesia yang diklaim tersebut adalah batik, lagu Rasa Sayange, reog Ponorogo, wayang kulit, Kuda Lumping, rendang padang, keris, angklung, tari Pendet dan tari Piring, serta gamelan Jawa.

Cik Me Me mewakili para pengunjuk rasa mengatakan, “Pada kesempatan ini, kami secara khusus mendatangi Kedubes Malaysia di Jakarta, menyampaikan kuliner lumpia Semarang, warisan budaya Indonesia, kepada Dubes Malaysia, Dato Seri Zahrain Mohamed Hashim, dengan peringatan agar nantinya tidak diklaim sebagai peninggalan nenek moyangnya.”

Sejak 17 Oktober 2014 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia telah menetapkan lumpia Semarang sebagai warisan budaya nasional. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jateng akan mengusulkan ke Unesco agar lumpia mendapat pengakuan dunia internasional sebagai warisan budaya dunia yang berasal dari Indonesia.

Kementerian Pelancongan dan Kebudayaan (Ministry of Tourism) Malaysia giat melakukan kampanye kebudayaan melalui berbagai media, mulai dari iklan pariwisata di media internasional hingga event-event kebudayaan yang mereka gelar. Slogan “Malaysia Truly Asia” sering muncul di jeda iklan stasiun televisi internasional semacam Fox Channel. Dalam pariwara iklan pariwisatanya, pemerintah Malaysia selalu menampilkan produk-produk kebudayaannya. Sialnya, separo di antaranya berasal dari Indonesia. Tarian Reog Ponorogo dan rendang Padang tidak pernah absen dalam berbagi iklan pariwisata mereka.

Bandingkan dengan pemerintah Indonesia yang tidak memiliki inisiatif mengampayekan hal tersebut kepada dunia internasional. Persoalan pokoknya bukan pada klaim-klaim yang dilakukan negara asing. Tetapi bagaimana cara negara melindungi dan mengelola aset-aset nasionalnya termasuk aset budaya. Kretek warisan budaya Indonesia pun suatu saat nanti bisa diklaim buatan Amerika, Inggris, atau Korea. Mereka jelas-jelas sudah memproduksi kretek di Indonesia dengan cara membeli pabrik-pabrik rokok kita.

Jadi, jangan cuma menggerutu menyalahkan asing.

Sumber gambar: Eko Susanto via Flickr

Tentang Penulis

Membunuh Indonesia

Membunuh Indonesia

Redaksi Membunuh Indonesia mengumpulkan, mengarsipkan, dan memproduksi konten berupa artikel, dokumen, kajian ilmiah, dan sebagainya yang berkaitan dengan topik-topik ancaman kedaulatan ekonomi politik nasional.

Tinggalkan komentar