Industri Hasil Tembakau

Abbot Intervensi Lagi Indonesia

tembakau
Membunuh Indonesia
Ditulis oleh Membunuh Indonesia

Tanggal 18 Februari 2015, PM Australia, Tonny Abbot, mendesak pemerintah Indonesia membatalkan eksekusi mati terhadap dua orang warga negara Australia. Andrew Chan (31) dan Myuran Sukumaran (33) terjerat kasus perdagangan narkoba di Bali dan terancam hukuman mati. Abbot menyinggung soal bantuan kemanusiaan Canberra dalam tragedi tsunami Aceh tahun 2004. Pernyataan Abbot membuat berang rakyat Indonesia, terutama rakyat Aceh. Di beberapa daerah terjadi aksi pengumpulan koin untuk Australia.

Abbot menganggap Indonesia berhutang budi atas bantuan kemanusiaan Australia itu. Namun, selama ini kebijakan pemerintah Australia ternyata banyak merugikan Indonesia. Australia memberlakukan peraturan tarif cukai tinggi untuk produk rokok dan tembakau.

Australia juga menerapkan kebijakan kemasan polos untuk produk rokok dan tembakau (The Tobacco Plain Packaging Act) sejak Desember 2012. Produk rokok dan tembakau wajib dikemas dalam kemasan polos tanpa mencantumkan warna, gambar, logo, dan slogan produk. Australia merupakan negara pertama yang menerapkan aturan kemasan polos. Sebagai negara acuan, kebijakan Australia diikuti Selandia Baru dan Irlandia dalam menerapkan aturan tersebut.

Kebijakan kemasan polos rokok ini bertentangan dengan Pasal XXIII dari GATT 1994, serta tiga ketentuan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), yakni: Understandings on rules and procedures governing the settlement of dispute; agreement on trade-related aspects of intellectual property rights; dan agreement on technical barriers to trade.

Pemerintah Australia juga mengeluarkan Strategi Tembakau Nasional 2012—2018 yang diadopsi pemerintah federal dari semua negara bagian. Prioritasnya ada tujuh, yaitu melindungi kebijakan kesehatan dari campur tangan industri rokok, melarang iklan dan sponsorship rokok secara total, mengurangi ketersediaan rokok, meningkatkan kawasan tanpa rokok, memperkuat kampanye media massa dan pendidikan publik, meningkatkan layanan berhenti merokok, dan regulasi lebih ketat terhadap isi rokok serta suplai tembakau.

Kebijakan ini menghambat masuknya ekspor produk rokok dan tembakau dari Indonesia. Ini merupakan penerapan Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) yang diinisiasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Pembatasan dan pelarangan penjualan produk tembakau ini mirip dengan pembatasan dan pelarangan penjualan produk lain seperti minyak kelapa dan kelapa sawit (crude palm oil).

Semua kebijakan anti-rokok Australia ini mengancam mata pencaharian jutaan pertanian tembakau, pertumbuhan ekonomi, penyerapan tenaga kerja, dan pendapatan negara Indonesia. Industri tembakau memberikan sumbangan besar terhadap pendapatan negara dari pembayaran cukai, yaitu sebesar Rp84,4 triliun (APBN 2012). Jauh lebih tinggi dibanding penerimaan negara dari sektor tambang yang hanya Rp13,77 triliun.

Memulihkan harga diri bangsa tidak perlu dengan melakukan aksi pengumpulan koin untuk Australia. Cukup dengan keberanian pemerintah bersama-sama rakyat Indonesia, melawan kebijakan anti-rokok Australia.

Sumber gambar: Eko Susanto via Flickr

Tentang Penulis

Membunuh Indonesia

Membunuh Indonesia

Redaksi Membunuh Indonesia mengumpulkan, mengarsipkan, dan memproduksi konten berupa artikel, dokumen, kajian ilmiah, dan sebagainya yang berkaitan dengan topik-topik ancaman kedaulatan ekonomi politik nasional.

Tinggalkan komentar