Pangan

Pemerintah Belum Mengoptimalkan Keanekaragaman Hayati Nusantara

Membunuh Indonesia
Ditulis oleh Membunuh Indonesia

Dari kekayaan dan keanekaragaman hayati di Indonesia, negeri ini dapat sejahtera, asalkan pemerintah serius mengelola. Lebih dari seratus tahun yang lalu Alfred Russel Wallace dalam karya besarnya, the Malay Archipelago sudah mengagumi kekayaan hayati nusantara. Karya ini menginspirasi Charles Darwin menelurkan teori evolusi.

Laporan penelitian Centre on Biological Biodiversity (CBD) mencatat sekitar 10% spesies bunga, 12% mamalia, dan 16% reptil dunia berada di Indonesia. Ada 1.592 spesies burung dan lebih dari 270 spesies amfibi hidup di Indonesia.

Dalam keterangannya di Jakarta, Kamis 8 Januari 2015, Direktur Eksekutif Yayasan Kehati, M.S. Sembiring, menyatakan, “Berbekal potensi yang luar biasa ini dan pengelolaan yang tepat, keanekaragaman hayati seharusnya mampu memberikan kesejahteraan bagi masyarakat Indonesia.”

Keanekaragaman hayati tersebut hingga saat ini belum mampu dimanfaatkan pemerintah secara optimal. Kebijakan-kebijakan pemerintah masih mengesampingkan keanekaragaman hayati dalam isu-isu pengelolaan sumber daya alam.

“Di sisi lain, kerusakan lingkungan terus muncul yang memengaruhi laju kepunahan sehingga mengurangi kekayaan keanekaragaman hayati. Selain itu, terjadi eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan,” lanjut Sembiring.

Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian mengidentifikasi, potensi sumber pangan yang dimiliki Indonesia di antaranya 77 jenis sumber karbohidrat, 26 jenis kacang-kacangan, 389 jenis sumber buah-buahan, 228 jenis sayuran, 40 jenis buah minuman, dan 110 jenis rempah. Dari sudut pandang visi kedaulatan pangan yang dicitakan Kabinet Kerja Presiden Joko Widodo, hal ini dapat dikatakan modal penting.

Terkait isu diversifikasi energi, keanekaragaman hayati yang dimiliki Indonesia sangat berpotensi diolah menjadi sumber energi baru. Salah satu contohnya adalah biomassa. Potensinya mencapai 49.810 MW, namun yang baru digunakan sekitar 1.644,1 MW. Masih terdapat potensi yang belum dimaksimalkan.

Indonesia juga memiliki tumbuhan-tumbuhan herbal yang dapat menjadi alternative pengobatan beberapa penyakit. Tanaman seperti jahe, temulawak, daun mahkota dewa, manggis, dan banyak lainnya selama ratusan tahun telah digunakan dalam resep jamu tradisional. Melalui kerja sama lintas lembaga yang dirintis Menteri Koperasi dan UKM, Anak Agung Gde Ngurah Puspayoga, dengan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), seharusnya Indonesia dapat segera memproduksi dan mematenkan produk jamu kesehatan.

Kesejahteraan tercapai jika terdapat keserasian antara kebijakan pemerintah dan praktik di tataran masyarakat. Pemerintah harus betul-betul mengenali potensi keanekaragaman hayati Indonesia dan merumuskannya dalam kebijakan yang tepat.

Sumber gambar: wikipedia

Tentang Penulis

Membunuh Indonesia

Membunuh Indonesia

Redaksi Membunuh Indonesia mengumpulkan, mengarsipkan, dan memproduksi konten berupa artikel, dokumen, kajian ilmiah, dan sebagainya yang berkaitan dengan topik-topik ancaman kedaulatan ekonomi politik nasional.

Tinggalkan komentar