Pangan

Ketergantungan Gandum Impor dan Urgensi Produk Substitusi

beras
Membunuh Indonesia
Ditulis oleh Membunuh Indonesia

Prediksi volume impor gandum Indonesia lima tahun ke depan akan meningkat lebih dari 10 juta ton per tahun. Menurut analis Rabobank International, Pawan Kumar, saat ini gandum adalah bahan pangan dengan nilai impor tertinggi, mencapai 7,1 juta ton. Nilai ini meningkat dari realisasi impor tahun 2009 yang mencapai 5,3 juta ton. Dengan kecepatan ini Indonesia berpotensi menggeser Mesir sebagai negara pengimpor gandum terbesar di dunia.

Kepala Pemasaran CBH Group, Tom Puddy, memprediksi pembelian gandum Indonesia dapat meningkat menjadi 11,5 juta ton dalam lima tahun ke depan.

Kenaikan ini didorong oleh permintaan masyarakat akan produk hasil olahan gandum, di antaranya mie, roti, kue, snack, dan gorengan. Gandum saat ini menjadi makanan pokok yang paling banyak dikonsumsi masyarakat setelah beras.

Ketergantungan Indonesia terhadap gandum dapat membahayakan stabilitas perekonomian nasional. Gandum merupakan komoditi yang sepenuhnya diimpor dari negara-negara eksportir seperti Australia yang setiap tahunnya mengirimkan 4,3 juta ton gandum ke Indonesia. Dalam kondisi ketergantungan penuh ini harga dikendalikan oleh para eksportir.

Ketergantungan masyarakat pada gandum Menurut Syafputri (2012) dimulai sejak era orde baru. Indonesia menandatangani kerja sama dengan Amerika Serikat, PL 480 pada tahun 1969. Dalih Soeharto untuk memperkenalkan gandum pada masa itu adalah untuk mendiversifikasi pangan dan menanggulangi harga beras yang tinggi pada masa itu. Wacana pada saat itu adalah bahwa impor gandum dianggap lebih rasional ketimbang impor beras. Sejak saat itu impor gandum Indonesia terus merangkak naik. Iklim tropis Indonesia tidak ramah terhadap tanaman gandum yang hanya cocok ditanam di iklim subtropis.

Tahun ini diprediksi impor gandum meningkat 38%. Sebab ada rencana pembangunan 5 pabrik pengolahan gandum baru di Indonesia. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Terigu Indonesia (Aptindo), Franciscus Welirang, mengatakan dengan penambahan investasi lima perusahaan baru, maka impor gandum akan bertambah menjadi 9,7 juta ton gandum per tahun.

Sesungguhnya banyak penelitian telah dilakukan untuk menemukan varietas substitusi impor gandum. Di antaranya tepung MOCAF (Modified Cassava Flour) yang merupakan tepung singkong yang termodifikasi karena fermentasi bakteri asam laktat sehingga mengubah sifat tepung tersebut. Keistimewaan dari MOCAF adalah dapat mengembang setara dengan pengembangan tepung terigu dengan kadar protein sedang.

PT Batan Teknologi (Persero) saat ini sedang mengembangkan dan mengelola perkebunan sorgum di Nusa Tenggara Timur. Sorgum merupakan bahan alternatif pengganti gandum dan padi. Direktur Utama Batan Teknologi, Yudiutomo Imardjoko, menjelaskan bahwa sorgum tidak perlu air seperti padi. Sorgum diubah jadi beras sorgum. Lebih murah dari beras. Bahkan Sorgum dapat diolah menjadi bahan bakar terbarukan yang ramah lingkungan yakni bio-ethanol. Batangnya diperas untuk bio-ethanol 99%. Itu untuk masyarakat NTT. “Walaupun kami di bidang nuklir, kami dukung renewable energy,” kata Imardjoko.

Ketergantungan pangan harus segera diselesaikan. Indonesia harus serius mewujudkan kedaulatan pangan. Impor gandum sudah seharusnya dikurangi. Pemerintah semestinya mulai memperkenalkan produk pangan pengganti gandum seperti MOCAF dan Sorgum. Di satu sisi BUMN seperti PT Batan Teknologi (Persero) berupaya keras mengembangkan produk subtitusi impor namun di sisi lain tidak didukung oleh Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, dan para pengusaha nasional. Pemerintah harus memberdayakan sumber daya lokal, tidak melulu bergantung pada asing.

Gambar foto: wikipedia

Tentang Penulis

Membunuh Indonesia

Membunuh Indonesia

Redaksi Membunuh Indonesia mengumpulkan, mengarsipkan, dan memproduksi konten berupa artikel, dokumen, kajian ilmiah, dan sebagainya yang berkaitan dengan topik-topik ancaman kedaulatan ekonomi politik nasional.

Tinggalkan komentar