Industri Hasil Tembakau

Impor Tembakau Virginia Matikan Petani Lokal

tembakau
Membunuh Indonesia
Ditulis oleh Membunuh Indonesia

Data yang diperoleh Kementerian Pertanian menunjukkan impor tembakau ke Indonesia lebih tinggi dibandingkan volume ekspornya. Impor tembakau berasal dari China, India, dan Thailand. Volume impor tembakau meningkat tiap tahun. Tahun 2011, impor tembakau mencapai 106.570,46 ton. Kenaikan pada 2012 hingga 137.425,70 ton. Sedangkan pada 2011, ekspor tembakau hanya sampai di angka 38.904,70 ton. Tahun 2012, ekspor tercatat 37.110,46 ton.

Kondisi ini disebabkan oleh meningkatnya permintaan akan rokok putih yang berbahan dasar varietas tembakau Virginia. Tembakau Virginia meskipun merupakan tanaman indigenous Amerika Serikat kini ditanam di China dan India. Serbuan tembakau Virginia dari China dimulai sejak penandatanganan ASEAN-China Free Trade Agreement (CAFTA) di Bangkok pada 15 Agustus 2009. Liberalisasi perdagangan dengan India dilakukan lewat ASEAN-India Trade in Goods Agreement (AITIGA) yang ditandatangani pada 13 Agustus 2009.

China dan India merupakan negara-negara penghasil tembakau dan rokok terbesar di dunia. Merupakan kompetitor utama Indonesia baik di pasar dalam negeri maupun luar negeri. Sekretaris Jenderal Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI), Hasan Aoni Aziz, mengakui saat ini sekitar 50-55% kebutuhan tembakau Virginia diimpor dari kedua negara tersebut. Produksi tembakau dalam negeri terutama untuk tembakau grade menengah ke bawah semakin kehilangan pangsa pasarnya.

Hasan berpendapat, meningkatnya konsumsi rokok putih disebabkan oleh kebijakan dalam negeri yang tidak berpihak. Misalnya, Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 81 Tahun 1999 tentang Pengamanan Rokok bagi Kesehatan. PP tersebut mengatur kandungan zat yang ada di dalam rokok seperti kadar tar dan nikotin. Aturan ini wajib diikuti oleh seluruh produsen rokok di tanah air. (Baca: “Lindungi Petani Tembakau Nasional)

“Dampaknya, dengan ukuran seperti itu, rokok hanya bisa dimasuki oleh tembakau impor, akhirnya impor kita naik setiap tahun,” ujar Sekjen GAPPRI tersebut.

Kebijakan nasional yang tidak berpihak pada petani tembakau dalam negeri serta tekanan rezim pasar bebas memaksa banyak petani gulung tikar. Perusahaan berskala nasional seperti Sampoerna akhirnya diambil alih Philip Morris Internasional tahun 2005 dan Bentoel diambil alih British American Tobacco tahun 2009.

Sekarang petani Indonesia dalam posisi terjepit. Pemerintah justru memberi pilihan untuk membuka lahan baru dan mengganti varietas tembakau yang ditanam menjadi tembakau Virginia. Pemerintah lebih melayani kepentingan pabrik rokok skala besar yang mayoritas sahamnya dikuasai asing daripada melindungi petani dan tembakau nasional.

Gambar foto: wikipedia

Tentang Penulis

Membunuh Indonesia

Membunuh Indonesia

Redaksi Membunuh Indonesia mengumpulkan, mengarsipkan, dan memproduksi konten berupa artikel, dokumen, kajian ilmiah, dan sebagainya yang berkaitan dengan topik-topik ancaman kedaulatan ekonomi politik nasional.

Tinggalkan komentar