Industri Hasil Tembakau

Tuhan, Nabi Bloomberg, dan Ajaran Anti-Tembakau

tembakau
Membunuh Indonesia
Ditulis oleh Membunuh Indonesia

Menyatakan tembakau sebagai sesuatu yang tidak ada manfaatnya adalah simbol kedunguan manusia dalam memaknai hakikat ciptaan Tuhan. Satu hal prinsip yang patut kita ingat, bahwa Tuhan tidak pernah menciptakan sesuatu dengan sia-sia. Setiap ciptaan Tuhan selalu memiliki manfaat positif dan membawa serta efek negatifnya.  Maka mengeksploitasi efek negatif suatu ciptaan Tuhan tanpa mau melihat sisi positifnya sama saja dengan melakukan pengingkaran terhadap kebesaran Tuhan.

Tuhan memberikan banyak berkah bagi manusia dengan seluruh ciptaannya. Bisa kita lihat bagaimana nyamuk bisa memberikan rejeki dan penghidupan bagi  pengusaha obat nyamuk dan buruh-buruhnya. Penyakit yang ada, bisa memberikan rejeki dan penghidupan bagi dokter, paramedis, pengusaha farmasi, dan pengusaha rumah sakit atau klinik.  Selalu ada sisi positif dari segala sesuatu hal, tergantung bagaimana kita memandang hal tersebut. Namun demikian, kedunguan dan kepentingan sempit manusia sendiri itulah yang menghalangi cara pandang mereka. Sebab mereka menolak melihat hal-hal yang tidak ingin mereka lihat.

Begitu juga dalam hal tembakau, kepentingan dan kedunguan manusia menyebabkan mereka tidak bisa lagi melihat manfaat tembakau.  Kepentingan dungu yang membutakan ini, telah mendorong mereka untuk membuat gerakan anti-tembakau secara internasional. Mereka menolak ciptaan Tuhan yang telah memberikan berkah bagi ratusan juta umat manusia ini. Mereka menyamakan tembakau seperti izroil, malaikat pencabut nyawa. Mereka terus saja mereproduksi kebodohan ini kepada masyarakat.

Dalam hal ini, eksistensi Tuhan telah digantikan oleh fatwa-fatwa Bloomberg, yang mengganjar aktivis anti-tembakau dengan limpahan uang.  Bloomberg berdiri laksana nabi–entah dari Tuhan yang mana–mengajarkan ajaran baru, yaitu ajaran anti-tembakau. Sebuah ajaran yang secara sadis bermaksud membagi dunia ini menjadi dua bagian. Di mana satu bagian dunia diperuntukkan bagi umat Bloomberg yang anti-tembakau dan  sisanya untuk mereka yang pro-tembakau.

Bagi Bloomberg, keimanan dan kesalehan direpresentasikan oleh mereka yang anti-tembakau. Sementara kesesatan, direpresentasikan oleh mereka yang pro-tembakau. Sama seperti ajaran lain, ajaran anti-tembakau ini juga menjanjikan kebahagiaan dan penderitaan. Bagi mereka yang saleh dan mengimani ajaran Bloomberg maka dijanjikan kesehatan dan kebahagiaan, sementara bagi yang enggan mengimaninya diancam dengan kutukan penyakit dan penderitaan.

Namun sayang, Bloomberg bukanlah nabi, tiada satu mukjizat pun yang dia miliki. Dia juga tidak menjalankan perintah dari Tuhan, sebagaimana Tuhan yang dipeluk umat beragama pada umumnya.  Lantas, siapa Tuhan yang memerintahkan Bloomberg? Tuhan Bloomberg, tidak lain adalah industri farmasi, yang telah mengganjarnya dengan limpahan harta dan membiayai kampanyenya untuk dapat merebut kursi Walikota New York berkali-kali.

Lalu, apa kepentingan Bloomberg menyebarluaskan ajaran anti-tembakaunya?  Tentu saja itu dilakukan dalam rangka mengakomodasi kepentingan Tuhan yang membiayainya. Industri farmasi yang disembah Bloomberg dan penganut ajaran anti-tembakau ini memiliki kepentingan untuk dapat menguasai komoditi tembakau di seluruh dunia. Bagaimana mungkin, bukankah penganut ajaran anti-tembakau ini memandang tembakau sebagai sesuatu yang buruk dan tidak bermanfaat?

Baiklah, mari coba kita bedah kebohongan dan kepalsuan kitab suci ajaran anti-tembakau ini, dan kita lihat betapa dungunya penganut ajaran ini. Muqodimah kitab ini adalah asumsi bahwa, tiada manfaat tembakau bagi kehidupan manusia yang pantas dipercaya kecuali kemadharatan yang akan membinasakan manusia itu sendiri. Asumsi semacam inilah yang diimani oleh penganut ajaran anti-tembakau. Di mana tembakau dipahami sebagai sumber penyakit, dan penyakit adalah salah satu sebab dari kematian. Karena itu keberadan tembakau, sekalipun ciptaan Tuhan, harus ditolak!

Siapa bilang tembakau hanyalah sebagai biang penyakit?  Beberapa penelitian justru menunjukkan manfaat lain tembakau, bahkan kemampuannya dalam mengatasi berbagai penyakit. Fakta semacam inilah yang disembunyikan oleh Nabi Bloomberg, demi kepentingan industri farmasi junjungannya.

Kenapa fakta ini disembunyikan, dan apa kepentingannya? Seperti kita tahu, pada saat ini mayoritas daun tembakau diproduksi menjadi rokok. Industri rokok menjadi industri utama yang membeli dan menampung produksi tembakau petani dengan harga bagus.  Berbagai pola kemitraan antara industri rokok dengan petani tembakau dibangun dalam suatu pola kerja sama yang saling menguntungkan. Pola kerja sama ini, sudah berlangsung puluhan tahun di Indonesia.

Industri farmasi bukannya tak menyadari manfaat tembakau bagi kesehatan, dia justru sangat menyadari hal itu. Sebenarnya, yang jadi pangkal soal dari wacana ini adalah kesulitan industri farmasi untuk dapat mengakses tembakau dengan harga murah. Industri farmasi sangat membutuhkan tembakau sebagai bahan baku obat untuk penyakit tertentu. Namun industri farmasi enggan membayar tembakau dengan harga yang sama atau lebih tinggi dari harga yang digunakan industri rokok dalam membeli tembakau dari petani.

Ini bisa dimaklumi, sebab mata rantai distribusi obat-obatan memang menelan biaya yang sangat mahal. Selain harus membayar biaya promosi dan distribusi, pabrik obat juga harus memberikan komisi kepada penjual dan pihak-pihak yang merekomendasikan penggunaan obat-obat merk tertentu kepada pasien. Dengan sistem distribusi yang demikian, harga jual obat kepada pasien bisa belasan kali lipat biaya produksinya. Akibatnya, pasien harus membayar mahal obat-obatan yang sebenarnya diproduksi dengan biaya murah tersebut. Itulah kejahatan utama industri farmasi, yang menyebabkan mahalnya biaya kesehatan.

Industri farmasi membangun kartel yang mengatur dan menentukan harga jual obat. Namun perbuatan jahat ini dibiarkan begitu saja. Hingga saat ini tidak ada pihak yang mengutak-utik kartel bisnis obat yang dibangun industri farmasi. Padahal obat-obatan adalah kebutuhan vital manusia. Pemerintah seolah menutup mata melihat hal ini, bahkan mengamini dengan menetapkan harga eceran tertinggi (HET) obat-obatan tertentu dengan tanpa melihat berapa besar biaya produksi dari obat tersebut. Maka legallah kartel obat, setelah pemerintah turut campur menentukan harga eceran tertingginya.

Selain mengatur harga jual obat, industri farmasi juga mengatur harga pembelian bahan baku.  Namun sayangnya, ketika mereka bermaksud mengatur harga beli tembakau sebagai bahan baku obat-obatan, mereka harus berhadapan dengan industri rokok yang juga menggunakan tembakau sebagai bahan baku utamanya. Industri farmasi tidak mampu bersaing melawan industri rokok dalam mendapatkan tembakau. Sebab industri rokok berani membayar mahal untuk tembakau petani.

Tidak kehilangan akal, industri farmasi lantas menggunakan badan kesehatan dunia (WHO) untuk menekan industri rokok yang jadi pesaingnya untuk memperoleh tembakau. Selanjutnya WHO menekan pemerintahan di berbagai negara untuk membuat regulasi yang mengatur penggunaan tembakau dan rokok. Pada lain sisi, industri farmasi mengucurkan dana dalam jumlah besar untuk mengkampanyekan bahaya tembakau ke sejumlah negara.

Maka ajaran anti-tembakau pun mulai merebak ke seluruh dunia. Ajaran ini menjadi sangat kuat di negara-negara penghasil tembakau dan rokok, termasuk di Indonesia. Dalam sekejap, umat yang mengimaninya semakin berlipat, seiring dengan pundi-pundi dolar yang dialirkan industri farmasi melalui berbagai lembaga. Bahkan sebuah lembaga yang semula getol melakukan advokasi terhadap hak konsumen, kini merasa lebih nyaman untuk menyebarkan ajaran anti-tembakau ini. Bahkan mereka kini tidak lagi intens melakukan advokasi terhadap kasus malpraktik rumah sakit atau dokter dan kesalahan penggunaan obat yang direkomendasikan paramedis.

Tentang Penulis

Membunuh Indonesia

Membunuh Indonesia

Redaksi Membunuh Indonesia mengumpulkan, mengarsipkan, dan memproduksi konten berupa artikel, dokumen, kajian ilmiah, dan sebagainya yang berkaitan dengan topik-topik ancaman kedaulatan ekonomi politik nasional.

1 Comment

Tinggalkan komentar