Lain-Lain

Pengalaman Bolivia, Perancis, dan Kuba, Melindungi Komoditi Pertanian Unggulan

daun koka
Membunuh Indonesia
Ditulis oleh Membunuh Indonesia

Bolivia dan Daun Koka
“Saya bukanlah pedagang obat-obatan terlarang. Saya adalah petani koka. Saya hanya mengolah daun koka yang menjadi produk alami daerah kami,” begitu kata Evo Morales, Presiden Bolivia, kepada media.

Pernyataan itu sering ia tegaskan berulang-ulang dalam upayanya menyelamatkan komoditi pertanian tradisional Bolivia itu. Negara adidaya Amerika Serikat adalah penggerak utama yang mendanai jutaan dolar untuk program penghapusan koka. Itu adalah bagian dari kampanye perang terhadap kokain/narkotika yang digencarkan AS.

“Saya tidak akan menjadikannya kokain, dan baik kokain maupun obat-obatan terlarang bukan menjadi bagian dari  budaya Andean,” begitu argumen Evo Morales, presiden berdarah Indian dan berasal dari kalangan tani.

Daun koka, komoditi pertanian unggulan Bolivia.

Daun koka, komoditi pertanian unggulan Bolivia.

Dia tidak hanya menentang program penghapusan koka, namun juga membangun kontrol nasional terhadap cadangan gas Bolivia yang sangat besar. Partai yang ia pimpin, Partai Movimiento a Socialismo (Gerakan Menuju Sosialisme) atau disingkat MAS, terlibat secara aktif dalam ‘Perang Gas’ (menentang pembangunan pipa gas untuk tujuan ekspor ke Cile).

Kebijakan demi kebijakan yang pro-rakyat digulirkan oleh Morales sejak ia terpilih. Ia memilih para menteri dari kalangan aktivis dan memotong gaji mereka hingga 50% yang dialokasikan untuk menambah anggaran pendidikan bagi rakyat. Ia juga menasionalisasi perusahaan tambang migas di Bolivia, yang sebelumnya bak lumbung emas bagi korporasi-korporasi multinasional seperti Exxon Mobil, Repsol, Petrobras, Shell, dan lain-lain.

Di bawah pemerintahannya pula penanaman koka, tanaman tradisional masyarakat suku Indian Aymar yang merupakan penduduk asli Bolivia, dilegalkan. Koka biasa digunakan dalam upacara adat dan pengobatan tradisional. Daun koka juga dikonsumsi (dikunyah seperti ‘menyirih’) untuk menambah stamina para petani saat bekerja.

Padahal, sebelum Evo Morales menjadi presiden, koka adalah tanaman terlarang karena bisa disalahgunakan menjadi narkotika kokain, dan AS menekan pemerintah untuk melakukan pembasmian koka dan mengalihkannya ke tanaman industri seperti lada dan kacang mademia. Tapi faktanya, harga yang didapat petani untuk hasil panen tanaman itu sungguh tidak kompetitif dengan harga koka dan sulit menemukan pasar untuk menjual komoditi tani ini.

Evo Morales keliling dunia, menghadiri konvensi-konvensi PBB, melobi para pemimpin, dengan kampanye bahwa koka adalah tanaman tradisional yang dipakai untuk kebutuhan tradisional petani. Produksi koka dalam jumlah kecil adalah legal di Bolivia, sementara produksi kokain, ilegal.

Memang, Bolivia adalah salah satu penghasil kokain terbesar di Amerika Selatan. Presiden Evo Morales justru menyalahkan penyalahgunaan konsumsi kokain di negara-negara Barat, yang menyebabkan produksi kokain tinggi. Karena itu Morales sering menuduh AS tidak memiliki ‘hak moral atau kewenangan’ untuk bicara soal perang melawan perdagangan obat bius.

Bulan Januari 2013, kampanye Bolivia melawan kriminalisasi ‘mengunyah koka’ meraih kemenangan penting di dunia. Konvensi PBB untuk Narkotika dan Obat-Obatan Terlarang memberikan pengecualian untuk praktik mengunyah koka sebagai sesuatu yang legal di Bolivia. Ini adalah kemenangan besar untuk petani Bolivia. Sebelumnya, sejak 1961, daun koka dinyatakan ilegal oleh Konvensi PBB.

Perancis dan Anggur
Perdebatan keras sedang terjadi di Perancis dalam beberapa tahun terakhir, terkait perlindungan terhadap produk buah anggur, berupa minuman anggur atau wine. Industri wine di Perancis menginginkan minuman anggur dilindungi oleh undang-undang. Mereka mengatakan, wine harus menjadi bagian dari warisan budaya.

Minuman anggur adalah hal yang penting dalam paket hidangan di Perancis. Berawal dari abad ke-6, kebiasaan orang minum anggur telah menjadi tradisi, bahkan hingga mendunia.

Anggur di Perancis, bagian dari kehidupan dan warisan budaya yang harus dilindungi.

Anggur di Perancis, bagian dari kehidupan dan warisan budaya yang harus dilindungi.

Perdebatan muncul ketika industri wine Amerika Serikat memasang label dalam kemasannya yang memberi kesan unggul. Persaingan dagang ini mengancam industri wine di Perancis. Belum lagi mereka menghadapi persoalan di dalam negeri seperti pengetatan aturan.

Parlemen di Perancis belum tuntas membahas aturan soal pelarangan uji minum anggur, kewajiban memberi peringatan kesehatan pada botol, dan larangan berpromosi di internet. Kalangan industri mengatakan, mereka sudah bekerja sama dengan pemerintah untuk mempromosikan edukasi terkait konsumsi wine yang sehat.

Seorang penulis blog dan penikmat anggur, Alain Fourgeot mengatakan, “Anggur Perancis adalah bagian dari kehidupan, warisan budaya, dan harus diperkenalkan seperti itu.”

Perlindungan terhadap wine lewat Undang-undang akan memastikan minuman tersebut memang berbeda dibanding minuman berlakohol lainnya.

Kuba dan Cerutu
Nama Kuba telah telanjur identik dengan sebuah produk yang terkenal di seantero dunia: cerutu. Ini adalah gulungan daun tembakau yang diracik dan dihisap untuk para bangsawan, dan ditemukan pada awal abad ke-20. Namun kini bukan hanya bangsawan yang menikmatinya. Siapa saja bisa, meski harganya pun tergolong mahal.

Cerutu Havana 100% asli Kuba, merupakan tiga jenis tembakau asli dari pulau ini yang menjadi bahan utamanya. Tembakau ditanam hampir di seluruh lahan di daerah barat daya Havana, di daerah Vuelta Abajo. Daun tembakau Kuba yang tebal dan kuat tumbuh di daerah berangin, menjadikannya memiliki cita rasa yang khas. Daun tembakau yang telah dipetik kemudian disimpan di dekat daerah San Luis dan Pinar del Rio sebelum disetorkan ke pabrik cerutu di Havana.

Industri cerutu tidak begitu saja berkibar mulus. Setelah perusahaan cerutu dinasionalisasi oleh pemerintahan Fidel Castro, dan ketegangan Perang Dingin memuncak, embargo pun dijatuhkan. Amerika Serikat tentu saja, yang paling getol menghambat industri atau apa pun yang berbau Kuba.

Tapi pemerintah Kuba menyadari potensi ekonomi dan sosial yang terdapat pada cerutu. Mereka tidak kehilangan akal akibat embargo AS. Pangsa pasar cerutu dialihkan ke Eropa dan terus berkembang. Pada tahun 1981, pemerintah Kuba mengeluarkan sebuah merk cerutu baru, yaitu Cohiba. Merk ini sebetulnya khusus ditujukan bagi para tamu kenegaraan Kuba, namun akhirnya digunakan juga untuk produk ekspor.

Penghargaan besar dan perlindungan juga diberikan terhadap mereka yang terlibat dalam industri ini, baik petani tembakau hingga peraciknya. Salah satunya adalah peracik cerutu Kuba paling dikenal, Alejandro Robaina, belum lama ini meninggal dalam usianya yang ke-91. Robaina selama ini telah diangkat menjadi duta untuk industri cerutu di Kuba. Dia menjadi satu-satunya petani tembakau yang namanya kemudian diabadikan menjadi salah satu jenis cerutu Kuba.

cerutu kuba

Pemerintah Kuba memberikan perhargaan dan perlindungan kepada petani tembakaunya.

Saat menghadapi pengunjung yang melihat tanaman tembakau di lahan miliknya, Robaina selalu mengatakan, “Anda harus menyayangi tanah yang Anda gunakan dan juga peduli untuk merawatnya,” katanya.

Di sana dia akan menunjukkan kepada mereka bagaimana merawat dan melindungi tanaman tersebut dari sengatan matahari di Kuba. Dia menggunakan kain katun untuk melindungi tanaman tembakaunya dari sengatan matahari. Kualitas tembakau yang dihasilkan oleh Robaina sudah melegenda. Ketika tembakau mulai tumbuh, menurutnya, mereka akan berbicara dan mengatakan apa yang mereka butuhkan, dan Anda harus mendengarkannya.

Jika ingin mencari siapa orang paling berjasa yang membuat Kuba bisa mengantungi untung besar karena industri cerutunya dalam beberapa tahun terakhir, orang itu adalah Don Alejandro Robaina. (jon)

Sumber gambar: wikipedia, pixabay

Tentang Penulis

Membunuh Indonesia

Membunuh Indonesia

Redaksi Membunuh Indonesia mengumpulkan, mengarsipkan, dan memproduksi konten berupa artikel, dokumen, kajian ilmiah, dan sebagainya yang berkaitan dengan topik-topik ancaman kedaulatan ekonomi politik nasional.

Tinggalkan komentar