Industri Hasil Tembakau

Keunggulan Tembakau Dibanding Tanaman Lain

tembakau
Membunuh Indonesia
Ditulis oleh Membunuh Indonesia

Khasanah pertanian nusantara tak bisa tidak memperhitungkan sektor perkebunan tembakau. Harga tembakau yang sangat menjanjikan menjadi salah satu alasan petani dalam negeri yang memilih berbudidaya tanaman tembakau. Bahkan untuk jenis-jenis tembakau tertentu seperti tembakau Deli dan Jember, memiliki harga yang sangat mahal di pasaran Eropa karena tembakau ini digunakan sebagai bahan untuk deckblad dan omblad dari cerutu. Perkebunan tembakau juga merupakan usaha padat karya. Meskipun luas areal perkebunan tembakau di Indonesia diperkirakan hanya sekitar 207.020 hektar, jika dibandingkan dengan pertanian padi, tembakau memerlukan tenaga kerja hampir tiga kali lipat. Kondisi tersebut tentu dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh para petani untuk menanam tembakau.

Kedudukan tembakau bagi petani di antara komoditi pertanian lainnya mungkin bukan yang paling menguntungkan. Tapi tembakau selalu menjadi komoditi yang paling diandalkan di wiayah-wilayah di mana tembakau ditanam.

Di Temanggung, tembakau adalah napas kehidupan tidak hanya bagi para penanamnya, tapi juga bagi puluhan ribu orang yang bisa berharap cipratan rezeki darinya. Penghasilan per bulan banyak petani di wilayah sentra-sentra tembakau bermutu bisa sama bahkan melebihi gaji para pegawai negeri sipil di kantor pajak negara. Pembuat keranjang di Parakan, yang tidak punya lahan itu, tak akan pusing bila panen kopi tahun gagal selama di akhir tahun panen tembakau di seantero Sumbing-Sindoro-Prau bisa diharapkan. Bagi mereka kesuksesan panen kopi hanya akan dinikmati oleh para penanamnya. Sementara panen tembakau bisa dinikmati oleh lebih banyak orang. Tanpa tembakau, mereka bahkan tak tahu apa yang akan mereka kerjakan. Demikian pula dengan pedagang tas di Temanggung yang meraup omset berlipat ganda begitu panen tembakau tiba.

Dalam hal ini, cerita indah petani tembakau bukan satu-satunya kisah. Tembakau adalah komoditi yang bisa dijadikan pegangan saat komoditi lainnya tak bisa diharapkan (bahkan tidak bisa ditanam). Sementara petani di Jember diledek sebagai tembakau minded karena mereka rela meliburkan lahannya dari tanaman lain agar tembakau mereka pada waktunya mendapatkan tanah terbaiknya, sehingga bisa panen maksimal. Itu tak lain karena petani cukup pintar untuk menghitung. Dibanding padi, kapuk, kopi, kelapa, bahkan cengkeh, tanaman tembakau adalah tanaman yang paling menguntungkan.

Di Pamekasan, kabupaten yang terletak di pulau yang identik dengan garam, jumlah tenaga kerja yang tergantung dengan tembakau jumlahnya sepuluh kali lipat dibanding dengan yang tergantung pada garam. Sementara di Sumedang, tembakau lebih disukai dibanding padi karena risikonya yang minimal. Tak seperti padi yang sering terancam puso atau harga yang anjlok, harga tembakau cederung stabil. Jikapun tidak untung besar, risiko paing buruk adalah hasil panen impas dengan modal.

Pada suatu masa yang paling kelam bagi kehidupan petani ngeri ini, sejarawan R.E. Elson menemukan bahwa saat Sistem Tanam Paksa berlangsung, petani di Karesidenan Kedu lebih makmur justru karena mereka menanam tanaman yang tidak diprioritaskan oleh pemerintah kolonial, yakni tembakau.

Sumber gambar: Eko Susanto via Flickr

Tentang Penulis

Membunuh Indonesia

Membunuh Indonesia

Redaksi Membunuh Indonesia mengumpulkan, mengarsipkan, dan memproduksi konten berupa artikel, dokumen, kajian ilmiah, dan sebagainya yang berkaitan dengan topik-topik ancaman kedaulatan ekonomi politik nasional.

Tinggalkan komentar