Industri Hasil Tembakau

Aksesi FCTC Sama Saja Bunuh Diri

pekerja tembakau
Membunuh Indonesia
Ditulis oleh Membunuh Indonesia

Petani tembakau Indonesia secara tegas menolak usulan Badan Kesehatan Dunia (WHO) tentang Kerangka Kerja Pengendalian Tembakau atau Framework Convention on Tobacco Control (FCTC). Penolakan ini dituangkan dalam peluncuran Kampanye “Save Our Farm” dalam Forum Tembakau Asia ke-3 di Manila. Para petani tembakau di Asia mendukung peluncuran “Save Our Farm”, sebuah kampanye untuk menentang pedoman baru yang akan menghancurkan mata pencaharian jutaan petani tembakau di Asia.

Kampanye ini menyerukan kepada pemerintah di wilayah Asia untuk bersama-sama dengan petani tembakau menentang  traktat FCTC.  Penolakan petani tembakau di Asia ini karena acuan dalam traktat FCTC tersebut antara lain bermaksud mengatur;

  1. Menentukan kapan boleh menanam tembakau
  2. Memutus semua dukungan pemerintah dan sektor swasta untuk petani tembakau
  3. Membatasi bahkan mengurangi luas lahan tembakau
  4. Mendesak negara-negara tersebut mengurangi produksi tembakau secara bertahap

Petinggi WHO dengan pengetahuan yang sangat terbatas mengenai pertanian khususnya tembakau, sedang berusaha untuk memaksakan agenda mereka kepada Indonesia yang mana hal tersebut akan menghancurkan mata pencaharian petani, buruh tani, dan komunitas pertanian tembakau.

Petani tembakau akan menentang upaya-upaya pelarangan menanam tembakau.  Terlebih karena di dalam Kesepakatan Kerangka Kerja Pengendalian Tembakau (FCTC),  yang awalnya bertujuan mengamankan petani tembakau, ternyata justru malah bermaksud mematikan pertanian tembakau. Dalam artikel 17 dan 18 FCTC jelas disebut bahwa tembakau dimasukkan dalam golongan zat adiktif dan petani didorong untuk mengonversi tanaman tembakau dengan tanaman lain

Konstruksi berpikir dalam artikel di atas menunjukkan tidak adanya  pemahaman yang memadai dari pembuat keputusan tersebut tentang bagaimana pengusahaan dan budidaya tembakau di tingkat praktik. Di mana budidaya tembakau selama ini justru banyak menopang kehidupan petani dan keluarga juga masyarakat sekitarnya. Maka tidak mengherankan jika konversi tanaman tembakau ini selalu gagal ketika diujicobakan. Contohnya di Madura.

Selama belum  ditemukan tanaman konversi tembakau yang bisa menghasilkan keuntungan yang sama dengan tembakau, terutama di lahan-lahan yang hanya mungkin tanaman tembakau tumbuh, maka selama itu pulalah ide konversi tanaman tembakau akan gagal. Dan petani tembakau sendirilah yang akan menanggung kegagalan ini. Hal tersebut ditandaskan oleh Ketua Asosiasi Petani Tembakau (APTI) Nurtantio Wisnu Brata. Dia menilai, jika ratifikasi FTCC itu juga menyangkut dengan pengalihan tanaman dari tanaman tembakau ke tanaman lain, kemudian diaksesi pemerintah, maka para petani tembakau yang akan dirugikan.

“Tanah yang sekarang di sentra-sentra tembakau itu karunia Tuhan, diberi keunggulan untuk tanaman tembakau. Jika diganti dengan tanaman lain, kualitasnya tidak akan sama bagus dengan tembakau,” ujarnya. FCTC akan menciptakan suatu standarisasi produk tembakau dengan standar tembakau luar negeri. Padahal, produk tembakau di Indonesia memiliki ciri khas sendiri yang tidak bisa begitu saja disamakan. Jika ada standardisasi, sementara perlindungan pemerintah tak ada, maka produk tembakau lokal makin tersisih. Tembakau-tembakau lokal tidak bisa jadi bahan baku rokok dan produk turunan lain.

Konversi tanaman dan standardisasi tembakau adalah peluru FCTC untuk mematikan petani tembakau Indonesia dan petani tembakau dari belahan dunia lain yang negaranya meratifikasi FCTC.  HIngga saat ini tidak ada manfaat signifikan yang terlihat dari negara-negara yang telah meratifikasi FCTC, selain kehidupan petani tembakaunya yang kian terpuruk. Maka sebenarnya tidak ada satu alasan yang masuk akal bagi pemerintah Indonesia untuk meratifikasi FCTC.  Karena tidak ada manfaat dan tidak ada alasan yang masuk akal untuk meratifikasi FCTC inilah, maka Amerika Serikat yang selama ini mendorong FCTC pun malah tidak meratifikasinya. Kontradiktif.

Anehnya, kenapa di Indonesia ada sekelompok masyarakat yang mendesak pemerintah untuk segera meratifikasi FCTC ini. Bahkan mereka mengajukan gugatan ke pengadilan untuk mendesak pemerintah segera meratifikasi FCTC dan mematikan petani tembakau. Untunglah pengadilan menolak gugatan tersebut, sebab memang tidak ada dasar hukum yang mengharuskan Indonesia untuk meratifikasi FCTC tersebut.

Sumber gambar: Eko Susanto via Flickr

Tentang Penulis

Membunuh Indonesia

Membunuh Indonesia

Redaksi Membunuh Indonesia mengumpulkan, mengarsipkan, dan memproduksi konten berupa artikel, dokumen, kajian ilmiah, dan sebagainya yang berkaitan dengan topik-topik ancaman kedaulatan ekonomi politik nasional.

Tinggalkan komentar