Lain-Lain

Rumah Sakit Koq Berorientasi Bisnis

biaya kesehatan
Membunuh Indonesia
Ditulis oleh Membunuh Indonesia

Saat ini banyak rumah sakit (RS) yang mengalami pergeseran sudut pandang dari tujuan penyelenggaraan yang mulanya berorientasi pelayanan masyarakat menjadi orientasi bisnis. Akibatnya, banyak warga miskin yang ditolak pihak RS untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang sering berujung pada hilangnya nyawa.

Publik tentu masih ingat mengenai kisah pilu Revan Adiyaksa Andi Amir, seorang bayi berusia satu tahun tiga bulan yang harus meregang nyawa, Rabu (26/6) sore, akibat terlambat mendapatkan pelayanan medis. Bayi dari keluarga miskin asal Makassar ini, empat kali ditolak pihak RS dengan berbagai alasan.

Revan yang menderita muntaber, pada Senin sore dibawa orang tuanya berobat ke RS. Bukannya mendapat perawatan, ia malah ditolak dan disarankan untuk mencari RS lainnya. Satu RS beralasan tak bisa merawat karena Revan sudah kritis. Tiga lainnya menolak dengan alasan ruangan penuh. Setelah mondar-mandir mencari RS, akhirnya Revan mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Akademis. Namun, akibat terlambat ditangani, kondisi Revan kian memburuk hingga akhirnya meninggal.

Kejadian memilukan tersebut menjadi bukti bahwa pelayanan kesehatan prima yang digembar-gemborkan pemerintah tidak berlaku bagi rakyat miskin. Walau ayah dari Revan sudah mengemis-ngemis berbekal Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda) yang dikeluarkan pemerintah, tapi tetap tidak membuat pihak RS bergeming. Bilapun ada RS yang menerima untuk merawat Revan, itu terjadi bukan lantaran menggunakan layanan Jamkesda, namun terdaftar sebagai pasien umum.

Mungkin bila Hippocrates, bapak profesi dokter, masih hidup, ia akan menangis ketika melihat kasus demikian. Sarana pelayanan kesehatan yang mulanya berorientasi utuk menyembuhkan mereka yang sakit tanpa pandang bulu, tanpa melihat status sosial, dan penuh dengan nilai kemanusiaan, kini RS didirikan karena melihat prospek keuntungan bisnis.

Sementara itu, pendapat berbeda keluar dari Kartono Muhammad, Ketua Tobacco Control Support Centre Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC-IAKMI). Menurutnya, penyelenggaraan rumah sakit pada zaman modern tidak sesederhana dulu lagi sehingga prinsip bisnis tidak dapat dielakkan lagi. Penyelenggaraan rumah sakit masa sekarang membutuhkan modal yang cukup besar terutama dengan makin banyaknya teknologi baru yang harus disediakan dan tersedianya tenaga profesional. Ditambah lagi dengan adanya perubahan tuntutan dari masyarakat pemakai jasa rumah sakit berupa kenyamanan dan kemudahan dalam pelayanan kesehatan.

“Semuanya itu memerlukan biaya investasi yang besar dan tentunya diperoleh dari sumber lain, misalnya bank yang juga harus diperhitungkan bunganya,” ungkapnya.

Walau demikian, RS sendiri mempunyai kode etik yang secara tegas menyatakan bahwa setiap sarana pelayanan kesehatan harus senantiasa berorientasi kepada kebutuhan masyarakat setempat dengan memperhatikan tingkat sosial ekonomi. Jadi, pelayanan yang baik harus menjadi prioritas dan tidak malah mendahulukan urusan biaya.

Harus diakui bahwa peningkatan kualitas pelayanan, kompetensi para medis, dan perbaikan infrastruktur rumah sakit sangatlah penting. Tapi RS juga harus memiliki jiwa sosial yang lebih peka dan tidak hanya fokus pada business oriented seperti yang diungkapkan Widyastuti, Psikolog dari Universitas Negeri Makassar.

Idealnya, setiap RS bukan hanya semata-mata mengedepankan bisnis, tapi fungsi sosialnya. RS kan punya tanggung jawab sosial. Setidaknya CSR digunakan untuk menyediakan tempat bagi mereka dari kalangan menengah ke bawah. Bukan hanya mengeruk keuntungan.

 

Tentang Penulis

Membunuh Indonesia

Membunuh Indonesia

Redaksi Membunuh Indonesia mengumpulkan, mengarsipkan, dan memproduksi konten berupa artikel, dokumen, kajian ilmiah, dan sebagainya yang berkaitan dengan topik-topik ancaman kedaulatan ekonomi politik nasional.

Tinggalkan komentar