Lain-Lain

Pasar Tradisional Semakin Terhimpit Ritel Modern

pasar tradisional
Membunuh Indonesia
Ditulis oleh Membunuh Indonesia

Perkembangan industri ritel dalam beberapa tahun terakhir berkembang sangat pesat. Industri ritel berkembang seiring dengan perubahan yang terjadi dalam masyarakat. Tingkat pendapatan masyarakat yang selalu berkembang menyebabkan terjadinya segmen-segmen konsumen yang menginginkan perubahan dalam pengelolaan industri ritel. Maka, hadirlah ritel modern yang ditandai dengan terbukanya persaingan bisnis ritel. Ritel telah berkembang menjadi industri dan tidak hanya dimonopoli oleh satu pelaku usaha.

Perkembangan ritel modern terhadap pertumbuhan industri ritel Indonesia secara keseluruhan terbilang besar. Namun, pertumbuhan ritel modern ini malah mendatangkan persoalan tersendiri, yaitu tersingkirnya usaha pasar tradisional. Populasi pasar tradisional semakin terdesak oleh pasar modern. Pasar tradisional tumbuh minus 8,1 persen saban tahun. Di sisi lain, pasar modern tumbuh 31,4 persen.

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan tahun 2012, tercatat jumlah pasar tradisional tinggal 10 ribu-an, sementara pasar modern sudah mencapai 14 ribu-an. Pasar modern yang berjumlah 14 ribu tersebut terbagi dalam 358 gerai berbentuk convenience store, 11.569 minimarket, 1.146 supermarket, 141 hypermarket, dan 260 toko berbentuk perkulakan atau grosir.

Melihat kondisi ini, sebenarnya akar masalah industri ritel di Indonesia adalah ‘market power’ ritel asing yang sangat kuat dan tinggi. Sehingga terjadilah ketidakseimbangan dalam bersaing antara ritel asing dengan pasar tradisional. Tersingkirnya pasar tradisional selama ini disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, perawatan infrastruktur pasar tradisional rendah. Berdasarkan hasil survei Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) di beberapa kota, model-model pengembangan kelembagaan pasar tradisional masih dilakukan dengan pola tidak jelas, cenderung menggunakan pendekatan birokrasi pemerintah. Pedagang dan pasar hanya dijadikan objek.

Kedua, belum adanya payung hukum berupa peraturan perundang-undangan yang menimbulkan sanksi tegas dan keras terhadap pelanggar regulasi industri ritel. Ketiga, lemahnya kemauan politik pemerintah daerah untuk mengembangkan pasar tradisional. Hal itu tampak dari rendahnya dukungan dan keberpihakan pemerintah daerah dalam pembangunan fisik pasar tradisional.

Kehadiran ritel modern jelas amat berdampak pada omset penjualan pasar tradisional. Di DKI Jakarta, omset pasar tradisional menurun tajam hingga 60 persen. Kondisi yang tak jauh berbeda terjadi di Malang yang terkenal dengan sentral pasar tradisional di Jawa Timur. Omset pasar tradisional di Malang merosot hingga 30 persen. Penurunan omset juga terjadi di Yogyakarta yang rata-rata omset penjualan pasar tradisional minus 5,9 persen. Penurunan lebih besar dialami kelompok pedagang dengan aset Rp5–15 juta, Rp15–25 juta, dan di atas Rp25 juta. Masing-masing pedagang mengalami penurunan sebesar 14,6 persen, 11 persen, dan 20,5 persen.

Semakin terpinggirnya pasar tradisional juga dapat disebabkan oleh perlindungan terhadap sistem nilai dan modal sosial, arah, aspek, dan model pengembangan pasar tradisional masih belum jelas. Kebijakan perlindungan seharusnya ditujukan untuk melindungi sistem nilai (kebersamaan dan kekeluargaan), modal sosial (budaya produksi), dan seluruh elemen pelaku pasar tradisional meliputi pedagang, pemasok, pengecer, pekerja informal, dan konsumen.

Perlindungan ketiga dimensi dan elemen tersebut semestinya meliputi berbagai aspek komprehensif mencakup pembatasan (kuota) jumlah toko modern, pembagian produk yang dijual, pengaturan perizinan, penyebaran pemilikan toko modern, penyeimbangan hubungan antara pedagang besar, menengah, dan kecil (pembagian pangsa pasar), dan penegasan arah dan pola pembinaan pasar tradisional.

Dengan demikian, pemerintah perlu membuat kebijakan yang tegas untuk melindungi pasar tradisional. Perlindungan tersebut bisa melalui dukungan perbaikan infrastuktur dan penguatan manajemen serta modal pedagang pasar tradisional. Sedangkan untuk pasar modern perlu dilakukan pengkajian ulang mengenai target konsumen dan komponen barang yang dijual, termasuk tentang harga.

Sumber gambar: wikipedia

Tentang Penulis

Membunuh Indonesia

Membunuh Indonesia

Redaksi Membunuh Indonesia mengumpulkan, mengarsipkan, dan memproduksi konten berupa artikel, dokumen, kajian ilmiah, dan sebagainya yang berkaitan dengan topik-topik ancaman kedaulatan ekonomi politik nasional.

Tinggalkan komentar