Lain-Lain

Dominasi Bank Asing Bawa Efek Buruk

Membunuh Indonesia
Ditulis oleh Membunuh Indonesia

Kebijakan pemerintah di bidang perbankan terkait pembelian saham bank umum mengakibatkan semakin banyaknya bank asing yang beroperasi di Indonesia. Dengan adanya PP No.29 Tahun 1999 tentang Pembelian Saham Bank Umum, kepemilikan asing di sektor perbankan Indonesia menjadi sangat dominan. Sayangnya, keberadaan bank asing di Indonesia tidak banyak memberikan kontribusi terhadap perekonomian Indonesia. Bank asing hanya mengeruk keuntungan besar dari masyarakat Indonesia untuk dibawa ke negara bersangkutan.

Dibandingkan dengan sektor-sektor industri lain, perbankan menempati daftar paling atas dalam hal keuntungan dan pendapatan. Masuknya asing ke perbankan Indonesia dilatarbelakangi oleh beberapa hal. Selain saham bank di Indonesia murah, tingkat keuntungan perbankan di Indonesia juga sangat tinggi. Misalnya net interest margin (NIM) bank-bank di Indonesia rata-rata enam persen. Bahkan Bank Danamon dan Bank Tabungan Pensiun Nasional (BTPN), NIM-nya mencapai 11% dan 14%.

Oleh karenanya, tidak mengherankan apabila banyak bank asing yang membuka cabang di Indonesia. Bahkan, bank atau investor asing kemudian membeli bank-bank nasional ataupun lembaga keuangan nasional lainnya, tak terkecuali dari Malaysia. Data lembaga analisis dan publikasi data bisnis, finansial dan ekonomi Indonesia KataData, menyebutkan sejumlah bank nasional, mayoritas kepemilikan sahamnya sudah dipegang asing, seperti Bank International Indonesia (BII) 97,5 persen sahamnya dimiliki Maybank, bank terbesar dari Malaysia. Bank Niaga yang kini menjadi Bank CIMB Niaga, 97,9 persen sahamnya dimiliki CIMB Group, bank terbesar kedua Malaysia.

Selain itu, Bank Ekonomi 98,94 persen sahamnya dimiliki HSBC Holdings Plc, bank terbesar ketiga dunia yang bermarkas di London. Bank NISP kini menjadi Bank OCBC NISP karena 85,06 persen sahamnya dimiliki OCBC Bank, bank terbesar kedua Singapura. Bank Swadesi yang kini beralih nama menjadi Bank of India Indonesia, 76 persen sahamnya dimiliki Bank of India.

Kemudian, Standard Chartered Bank pun menguasai 44,5 persen saham Bank Permata. United Overseas Bank juga tidak mau ketinggalan, bank terbesar ketiga di Singapura itu menguasai 98,99 persen saham Bank UOB Indonesia. Terakhir, bank terbesar di Timur Tengah, Qatar National Bank (QNB) Group menguasai 69,59 persen saham Bank QNB Kesawan.

Terdapat beberapa efek penting masuknya asing di perbankan Indonesia. Pertama, penguasaan pasar aset oleh pihak asing akan semakin besar sejalan dengan gerak ekspansi bank-bank swasta asing yang tidak bisa dihentikan. Kedua, bank-bank yang dimiliki asing dengan cabang yang tersebar di tanah air memungkinkan masuk pasar kredit mikro yang memberikan keuntungan besar pada mereka. Ketiga, kredit konsumsi dengan suku bunga tinggi telah menjadi pasar dominan bagi bank-bank asing.

Keempat, masuknya bankir asing ke Indonesia diharapkan terjadinya transfer teknologi dan pengetahuan. Namun, faktanya mereka mengendalikan bank-banknya untuk bermain di pasar konsumsi yang sebenarnya tidak memerlukan pengetahuan tinggi. Kelima, bank-bank swasta yang dimiliki asing dengan bankir asingnya bukan jaminan tidak melakukan praktik moral hazard. Tidak semua bank yang dimiliki asing menerapkan tata kelola perusahaan yang baik. Keenam, hampir seluruh bank swasta rekap sudah dipimpin bankir-bankir asing. Tujuh, adanya praktik transfer pricing bank-bank swasta asing, baik dalam praktik kredit, tenaga kerja yang bermotif technical assistance, maupun pembelian barang.

Dari uraian di atas dapat dilihat bahwa meningkatnya kepemilikan asing pada sektor perbankan di Indonesia dari tahun ke tahun, tidak disertai dengan pengaruh yang signifikan terhadap perekonomian dan pembangunan nasional. Menurut analis finansial, Lin Che Wei, dengan kondisi seperti ini diperkirakan dalam 5-10 tahun ke depan, pangsa pasar bank BUMN dan swasta yang dimiliki lokal akan terus menyusut.

“Jika ini terus dibiarkan, bila terjadi krisis, dominasi kepemilikan asing berpotensi meningkatkan risiko pelarian modal,” ujar Chi Wei yang juga founder KataData.

Masuknya asing dalam sektor perbankan tentu tidak dapat dilepaskan dari komitmen Indonesia pada kesepakatan di tingkat internasional. Di samping itu, Bank Indonesia juga belum terlalu fokus mengatur ruang gerak bank milik asing di tanah air. Misalnya, menerapkan izin berjenjang alias multiple license seperti yang berlaku di negara-negara lain.

Untuk itu, pemerintah bersama regulator harus melakukan beberapa langkah, di antaranya melakukan pengaturan segmen pasar. Misalnya, bank milik asing tidak diperkenankan menggarap bisnis mikro, didorong ke segmen bisnis wholesale dan infrastruktur yang selama ini kurang diminati. Kita perlu penerapan multi license kepada bank asing. Kita bukan anti asing, tapi harus menerapkan asing sesuai dengan porsinya. Tak hanya itu, pemerintah dan regulator seharusnya menambah modal perbankan. Caranya, dividen bank BUMN seharusnya digunakan untuk menambah modal, dan tidak disumbangkan ke negara.

Tentang Penulis

Membunuh Indonesia

Membunuh Indonesia

Redaksi Membunuh Indonesia mengumpulkan, mengarsipkan, dan memproduksi konten berupa artikel, dokumen, kajian ilmiah, dan sebagainya yang berkaitan dengan topik-topik ancaman kedaulatan ekonomi politik nasional.

Tinggalkan komentar