Lain-Lain

Akhlak Mulia Petani Tembakau Legoksari

petani tembakau
Membunuh Indonesia
Ditulis oleh Membunuh Indonesia

Terkait dengan kenaikan harga BBM, pemerintah langsung mengucurkan Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) kepada keluarga yang dalam catatan BPS masuk kategori miskin. BLSM ini memiliki 2 makna strategis secara politis dan ekonomis. Secara politis, bantuan ini akan mengamankan kebijakan pemerintah terkait dengan kenaikan harga BBM. Warga miskin penerima BLSM akan membela kebijakan pemerintah soal kenaikan harga BBM, sebab mereka mendapatkan uang dari situ. Selain itu, pemberian uang tunai ini juga dimanfaatkan untuk mendapatkan simpati politik kepada pemerintah.

Secara ekonomis, bantuan tersebut bisa digunakan warga miskin untuk menyesuaikan diri dengan lonjakan harga barang kebutuhan pokok. Sebab sebagaimana kita tahu, kenaikan harga BBM akan membawa efek domino yang menyebabkan harga barang kebutuhan lain juga naik. Namun demikian, karena bantuan ini hanya bersifat sementara, maka pada akhirnya nanti masyarakat miskin tetap akan memikul peningkatan beban hidupnya sendirian manakala BLSM dihentikan.

BLSM memang bukan solusi. BLSM tidak menyelesaikan problem, tetapi justru bakalan mendatangkan banyak masalah. Persoalan mengenai ketepatan sasaran penerima bantuan ini, selalu jadi isu panas. Di banyak tempat terdapat keluarga yang benar-benar miskin, namun karena sesuatu sebab, tidak menerima bantuan. Ironisnya, di daerah lain terdapat banyak keluarga yang berkecukupan yang justru bisa mendapatkan bantuan ini. Akibatnya, BLSM jadi pemicu ketegangan dan kecemburuan antar warga, juga tudingan negatif terhadap sementara Ketua RT, RW, dan pengurus kampung lainnya. Pendek kata, BLSM adalah kebijakan yang tidak mendidik dan tidak positif.

Namun di antara problem ketepatan sasaran penerima BLSM tersebut, masih saja terselip orang-orang jujur dengan moralitas tinggi. Mereka adalah orang-orang yang menyadari bahwa dirinya tidak berhak menerima BLSM, namun tercatat sebagai penerimanya. Kesadaran moral semacam ini telah mendorong mereka untuk menolak dan mengembalikan BLSM yang secara formal menjadi haknya. Mereka adalah petani tembakau dari Desa Legoksari, Kecamatan Tlogomulyo, Temanggung.

Tak kurang dari 59 petani tembakau dari Desa Legoksari ini, meminta agar namanya dicoret dari daftar penerima BLSM. Sebab kesadaran moral mereka mengatakan bahwa mereka tidak berhak menerima bantuan tersebut, sekalipun sebenarnya mereka bisa saja ndableg dan mengambil bantuan itu.  Petani-petani tembakau ini, ternyata masih memiliki sesuatu yang jarang dipunyai kebanyakan orang pada saat ini. Mereka masih memiliki kejujuran, martabat, dan harga diri.

Kejujuran telah mendorong mereka untuk berani mengakui bahwa mereka tidak berhak atas bantuan tersebut, selanjutnya mereka mengambil sikap dengan meminta agar namanya dicoret dari daftar penerima bantuan. Martabat telah menuntun mereka untuk jadi manusia yang tepo seliro, dengan tidak mengambil sesuatu yang mereka yakini tidak pantas untuk diambil, sebab mereka menyadari masih ada banyak keluarga lain yang lebih pantas menerima bantuan tersebut.

Dengan bersikap jujur dan bermartabat, sebenarnya petani-petani tembakau ini telah berhasil mempertahankan harga diri yang mereka miliki. Sikap itu dengan sendirimya akan menghindarkan mereka dari gunjingan negatif orang lain, sekaligus mengukuhkan asumsi bahwa petani-petani tembakau ini bukanlah orang-orang serakah yang mata duitan. Sikap semacam itu yang sekarang ini jarang dipunyai oleh masyarakat kita.

Di tengah situasi ekonomi sulit, di mana orang bisa saling bunuh untuk memperebutkan uang, petani-petani tembakau ini justru melepaskan jatah bantuannya, sebab menyadari bahwa mereka merasa tidak pantas untuk menerima bantuan tersebut. Andaikata setiap orang memiliki akhlak mulia seperti yang dimiliki petani-petani tembakau ini, tentu saja Indonesia sudah sejahtera sejak dulu. Sebab pada saat ini, untuk bisa mendapatkan uang seseorang tidak peduli lagi dengan norma kepantasan, bahkan norma hukum pun berani mereka langgar dan akali.

Sumber gambar: Eko Susanto via Flickr

Tentang Penulis

Membunuh Indonesia

Membunuh Indonesia

Redaksi Membunuh Indonesia mengumpulkan, mengarsipkan, dan memproduksi konten berupa artikel, dokumen, kajian ilmiah, dan sebagainya yang berkaitan dengan topik-topik ancaman kedaulatan ekonomi politik nasional.

Tinggalkan komentar