Lain-Lain

Unilever Mendominasi, Industri Nasional Terbengkalai

say-no-to-unilever-products-300x163
Membunuh Indonesia
Ditulis oleh Membunuh Indonesia

Di Indonesia, setiap orang pasti mengenal Unilever. Semua barang kebutuhan sehari-hari hampir dipastikan merupakan produk yang didominasi raksasa consumer goods dunia ini. Perusahaan multinasional asing ini hadir di Indonesia sejak tahun 1930-an yang terus mempertahankan keberadaannya dalam kondisi ekonomi-sosial bagus maupun buruk. Termasuk ketika akhir tahun 1950-an, ketika Unilever yang merupakan perusahaan Belanda-Inggris harus menghadapi ancaman nasionalisasi semasa pemerintahan Bung Karno.

Bukan hanya kemampuan tinggi memahami pasar Indonesia yang bisa dipertahankan Unilever, tapi juga jaringan pemasaran yang sangat luas dan dalam. Ini yang membuat hingga saat ini Unilever mempunyai posisi kuat, meski di beberapa kategori produk tingkat persaingannya sangat sengit. Peningkatan variasi produk belakangan ini menjadi strategi Unilever. Dengan modal besar yang dimiliki Unilever, mengakibatkan tingkat produksi yang tinggi dan produksinya tidak terfokus pada satu barang saja. Unilever memproduksi barang yang jenisnya merata. Hampir semua jenis barang kebutuhan sehari-hari diproduksi Unilever. Saat ini Unilever memiliki 27 brand home and personal care. Brand tersebut mendominasi 75% produk yang dimiliki Unilever. Sisanya merupakan produk food and baverage dengan 16 brand.

Dengan banyaknya produk yang dapat digunakan sebagai kebutuhan pokok masyarakat, secara tidak langsung membuat Unilever dapat menguasai pasar. Unilever menguasai Indonesia dengan brand-brand andalannya dalam kategori personal care product, seperti Sunsilk, Lifebuoy, Clear, dan Dove, untuk produk perawatan rambut; produk perawatan wajah seperti Pond’s, Citra, dan Vaseline; produk perawatan tubuh dan gigi seperti Lux, Dove, Lifebuoy, dan Pepsodent; serta parfum dan deodorant seperti Axe dan Rexona.

Unilever juga menguasai dengan brand-brand home care product-nya seperti Rinso, Molto, dan Sunlight. Keseluruhan home and care product ini merupakan 78% dari total seluruh penjualan Unilever. Sisa penjualan sebanyak 22% kemudian didapat dari food and ice cream product, seperti Sari Wangi, Blue Band, Royco, Buavita, Bango dan Wall’s.

Posisi Unilever yang kuat sebagai pemimpin pasar ini ironisnya malah memenangi berbagai penghargaan nasional dan internasional yang telah diterima perusahaan. Pada tahun 2012 yang lalu, Unilever Indonesia menerima 153 penghargaan lokal dan regional dari media papan atas dan berbagai instansi pemerintah dan institusi lain.

Untuk mempertahankan posisinya sebagai market leader produk-produk home and personal care di Indonesia, Unilever menyerang pasar domestik dengan banyak cara. Yang paling kentara adalah Unilever menerapkan strategi price discrimination untuk produk-produknya. Penetapan harga yang dilakukan Unilever lebih kuat karena mereka mengemas produknya dalam kemasan ekonomis atau eksklusif, sehingga dapat menyerang di semua harga. Misalnya dalam produk Pond’s, Unilever memiliki Pond’s Whitening Cream yang harganya dibuat lebih murah dari Pond’s Flawless White. Namun Pond’s Flawless White ditambah formula dalam komposisinya sehingga lebih menarik konsumen. Formula inilah yang dipakai oleh Unilever dalam menyerang pasar domestik.

Selain itu, Unilever juga melakukan serangan product differentiation-nya. Brand proliferation dilakukan untuk mengisi semua segmen yang ada di pasar agar tidak ada celah bagi new entrant untuk masuk ke pasar. Contohnya multiple brand dalam produk sabun mandi yang dimiliki Unilever, yakni Lux, Lifebuoy, dan Dove yang hampir menguasai 72% pangsa pasar sabun cair di Indonesia.

Sepanjang berdirinya di Indonesia, Unilever juga beberapa kali telah melakukan akuisisi untuk membunuh industri-industri nasional. Setelah berhasil mencaplok teh Sariwangi dan kecap Bango yang masing-masing merupakan merek terkemuka di pasarnya, Unilever juga mengakuisisi Sara Lee melalui dua brand unggulannya. Kedua brand Sara Lee itu adalah Switzal dan She. Praktis akuisisi ini semakin memperkuat posisi Unilever di produk perawatan kulit dan deodoran.

Tinggal tunggu waktu saja, penguasaan Unilever akan semakin membunuh industri nasional. Unilever bisa saja menguasai industri dari hulu sampai hilir karena secara pendanaan memiliki kemampuan. MNC asing lebih gemar mencari peluang ekonomi yang paling menguntungkan dan tidak bisa diharapkan untuk memberi perhatian kepada soal-soal kemiskinan, ketimpangan pendapatan, dan lonjakan pengangguran. Karena faktanya, perusahaan tersebut hanya sedikit sekali mempekerjakan tenaga-tenaga setempat. Operasi mereka cenderung terpusat di sektor modern yang mampu menghasilkan keuntungan maksimal semata.

Tentang Penulis

Membunuh Indonesia

Membunuh Indonesia

Redaksi Membunuh Indonesia mengumpulkan, mengarsipkan, dan memproduksi konten berupa artikel, dokumen, kajian ilmiah, dan sebagainya yang berkaitan dengan topik-topik ancaman kedaulatan ekonomi politik nasional.

Tinggalkan komentar