Industri Hasil Tembakau

Tembakau Bernilai Ekonomi Tinggi

tembakau
Membunuh Indonesia
Ditulis oleh Membunuh Indonesia

Saat kemarau panjang menerpa suatu wilayah, permukaan tegalan menjadi tumpukan debu. Hampir semua tanaman kering bahkan mati, termasuk gulma dan rerumputan. Buah kopi serimbun apa pun bakal rontok. Daun pisang pun akan terkulai layu. Satu-satunya tanaman yang mampu bertahan tetap hijau, bahkan semakin membagus kualitasnya adalah tembakau.

Meski begitu, karena tanaman ini bukan tanaman monokultur yang tumbuh sepanjang tahun, membuat tembakau tak sesempurna kelihatannya. Tembakau masih punya titik lemah yang belum bisa diatasi, yaitu cuaca. Komoditi tembakau tidak mampu tumbuh dengan baik saat curah hujan tinggi. Sehingga saat musim penghujan tiba, banyak petani yang menanam komoditi lain seperti kopi, pohon suren, jambu biji, berbagai palawija, dan berbagai jenis sayuran. Namun, di antara tanaman-tanaman alternatif tersebut tidak ada yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding tembakau.

Harga kopi tak pernah melebihi Rp30 ribu per kilo, Cabe harganya sangat fluktuatif, sementara sayuran seperti bawang-bawangan, kubis, atau wortel, juga berbagai jenis buah-buahan, selalu menghadapi anomali pasar yang sama, yakni harganya jatuh justru saat panen sedang bagus. Hal tersebut tejadi karena persedian barang melebihi jumlah permintaan.

Oleh karenanya, tidak perlu dipermasalahkan bila terdapat banyak petani di Jember dan Temanggung yang memiliki kecenderungan untuk menganakemaskan atau mengistimewakan tembakau dalam pola bercocok tanam. Menurut petani-petani tersebut, daripada menanam tanaman sela sebagai tambahan penghasilan, mereka lebih memilih untuk membiarkan atau mendiamkan lahan beberapa waktu agar saat ditanami tembakau akan mendapat hasil yang maksimal. Jikapun ada tanaman lain yang ditanam di sela-sela tembakau, itu tak lain hanya sebagai pelengkap saja.

Perhatian, persiapan lahan, dan tenaga yang mereka curahkan hanya untuk tembakau tersebut berbuah manis. Seperti diketahui bersama, bahwa tembakau hasil petani Jember terkenal sebagai salah satu bahan cerutu terbaik dunia yang memiliki pangsa pasar Eropa dan otomatis mendongkrak harga jual tembakau Jember.

Begitu pula dengan tembakau Temanggung yang diklaim sebagai tembakau terbaik di Indonesia. Sebanyak apa pun persediaan tembakau Temanggung, pasti akan terserap pasar. Jika perawatan baik ditambah masa petik jatuh pada cuaca yang baik, harga tembakau bisa meroket naik. Untuk jenis tembakau srinthil dari ladang petani Temanggung, harganya bisa mencapai lebih setengah juta per kilonya.

Dengan demikian, anjuran diversifikasi pertanian pada wilayah-wilayah di mana tembakau ditanam akan menjadi urusan yang lebih runyam karena menyangkut alasan ekonomi. Petani belum menemukan komoditi lain yang mempunyai nilai ekonomi lebih tinggi atau sekadar sepadan dengan tembakau. Sebab, jika memang komoditi itu ada, petani tentu tidak perlu disuruh-suruh untuk berpindah menanam komoditi lain.

Sumber gambar: Eko Susanto via Flickr

Tentang Penulis

Membunuh Indonesia

Membunuh Indonesia

Redaksi Membunuh Indonesia mengumpulkan, mengarsipkan, dan memproduksi konten berupa artikel, dokumen, kajian ilmiah, dan sebagainya yang berkaitan dengan topik-topik ancaman kedaulatan ekonomi politik nasional.

Tinggalkan komentar