Industri Hasil Tembakau

Tata Niaga Tembakau Tak Serumit Kelihatannya

petani tembakau
Membunuh Indonesia
Ditulis oleh Membunuh Indonesia

Dalam khasanah pertembakauan, tata niaga sering menjadi bidikan dari kelompok anti-tembakau untuk menyerang petani tembakau. Kelompok ini menuduh rantai panjang tata niaga dan tidak adanya akses petani untuk menentukan harga menjadikan petani miskin, sedangkan pabrik-pabrik rokok semakin berkuasa.

Namun, tanpa bermaksud melebih-lebihkan, beberapa tuduhan itu jelas dilakukan dengan penuh kebencian terhadap tembakau. Kelompok ini mencoba mengulik ketidakberesan-ketidakberesan yang ada dalam tata niaga tembakau untuk ditampilkan sebagai representasi serta menyeluruh dari jagat pertembakauan di Indonesia.

Kelompok ini biasanya bekerja dengan kerangka pikir yang dicanangkan oleh Framework Convention on Tobacco Control (FCTC), di mana target utamanya adalah mewujudkan sebuah dunia tanpa tembakau. Jadi, jika mereka mengajukan kesejahteraan petani tembakau dengan menyerang tembakau dan tata niaganya, maka dapat dibaca bahwa tujuan utama mereka bukanlah untuk meningkatkan kesejahteraan petani tembakau, tapi mengenyahkan tembakau dari bumi Indonesia.

Pada dasarnya, tata niaga tembakau tak banyak berbeda dengan tata niaga komoditi tanaman ekonomi lainnya, seperti gula, kelapa sawit, kopi, kakao, karet, dan lain sebagainya. Pakemnya adalah dari petani, ke pedagang perantara, kemudian berujung pada industri. Perlu diketahui, tembakau memang punya karakteristik tata niaga yang khas jika dibanding kebanyakan komoditi tanaman ekonomi pada umumnya.

Perbedaan yang paling khas dari tembakau dengan komoditi pertanian lainnya adalah pada industri yang menyerapnya. Industri rokok kretek, penyerap terbesar hasil tembakau petani, berada di dalam negeri. Dan, untuk beberapa sentra tembakau terkemuka seperti Temanggung dan Madura, industri ini menampakkan diri di depan petani dengan jauh lebih luas dalam wujud grader atau perwakilan.

Oleh karenanya, perlu ditegaskan bahwa grader atau perwakilan pabrik sebenarnya bukan satu mata rantai yang memperantai pedagang dan pabrik, melainkan pabrik itu sendiri. Dengan demikian, pada prinsipnya, dari petani ke pabrik, tembakau hanya melewati tiga titik: petani – pedagang – pabrik.

Tapi jika pun kelompok anti-tembakau ingin menemukan tata niaga tembakau yang sederhana, mereka bisa menemukannya di sentra tembakau seperti di Malang. Rantai tata niaga tembakau di Malang jauh lebih sederhana dibanding tempat lain karena di sekitar sana grader tidak eksis, sebab pabrik tidak membuka perwakilannya (Alamsyah, 2011:116).

Kemudian, banyak pula tuduhan jika dalam tata niaga tembakau terjadi praktik oligopsoni. Tata niaga tembakau dikuasai oleh segelintir pemain yang sangat berkuasa, yaitu pabrik-pabrik rokok besar. Pabrik-pabrik inilah yang dianggap bisa menentukan hitam-putih niaga tembakau. Tapi, tak bisa dikesampingkan pula bahwa masih ada pabrik-pabrik rokok menengah hingga rumahan yang ikut dalam pasar tembakau. Selain itu, di beberapa tempat seperti Sumedang, Parakan, Malang, dan di beberapa sentra tembakau lain, tembakau petani juga dijual secara eceran di pasar-pasar.

Dengan demikian, meskipun didominasi oleh beberapa pabrik rokok kretek besar, pasar tembakau tak sesepi itu. Pada kenyataannya apa yang terjadi di lapangan adalah sebuah pasar yang semarak. Hal ini disebabkan setiap pabrikan memiliki pedagang-pedagang perantara dalam jumlah yang sangat besar. Dalam satu sentra tembakau saja, masing-masing pabrik bisa diwakili oleh ratusan hingga ribuan pedagang perantara. Hal ini menyebabkan dalam tata niaga tembakau, sistem yang tampak terlalu ramping di atas itu menggelembung di bagian tengah.

Meskipun posisi petani bukannya tanpa masalah dalam tata niaga tembakau, bila dibandingkan dengan kebanyakan petani komoditi lain, petani tembakau justru lebih memiliki posisi tawar. Seperti diketahui bersama, tembakau adalah jenis fancy product, di mana harganya ditentukan oleh mutunya. Jika tembakau petani tembakau bermutu baik, apalagi sangat baik (misalnya dengan kualitas srinthil), petani akan menjadi idola dalam semusim.

Di sini petani mempunyai kesempatan untuk memilih penawar terbaik. Jika tembakaunya bermutu baik, sementara angka tawaran dari pedagang kurang menggiurkan, petani tak perlu khawatir untuk menampik. Sebab, begitu pedagang pertama pergi, pedagang berikutnya akan datang mengajukan tawaran yang lebih baik. Untuk tembakau dengan kualitas srinthil, yang datang ke petani bukan hanya pedagang perantara namun langsung dari perwakilan pabrik.

Sumber gambar: Eko Susanto via Flickr

Tentang Penulis

Membunuh Indonesia

Membunuh Indonesia

Redaksi Membunuh Indonesia mengumpulkan, mengarsipkan, dan memproduksi konten berupa artikel, dokumen, kajian ilmiah, dan sebagainya yang berkaitan dengan topik-topik ancaman kedaulatan ekonomi politik nasional.

Tinggalkan komentar