Industri Hasil Tembakau

Ruang Khusus Merokok di Bandara Tidak Manusiawi

ruang merokok
Membunuh Indonesia
Ditulis oleh Membunuh Indonesia

Sesuai amar putusan Mahkamah Konstitusi (MK), Pasal 115 Ayat 1 Undang-Undang Kesehatan No.36 Tahun 2009 tentang Kawasan Tanpa Rokok, setiap KTR wajib menyediakan tempat untuk merokok di tempat kerja, di tempat umum, dan di tempat lainnya. Khusus untuk bandara, tempat merokok (smoking area) memang telah disediakan, tapi ruang yang tersedia tersebut sering kali tidak memadai atau lebih tepat tidak manusiawi.

Sebagai salah satu pintu gerbang negara, bandara internasional harusnya mempunyai fasilitas yang memadai sehingga mampu memberikan kenyamanan bagi siapa pun yang berada di dalamnya, baik itu warga negara Indonesia maupun warga negara asing. Tentu banyak yang tahu bahwa kondisi bandara internasional di Indonesia sebagian besar sangat tidak layak. Dimulai dari listrik mati yang mengacaukan jadwal penerbangan, fasilitas umum yang terbatas dan semrawut, toilet yang kurang bersih, dan yang sedang banyak dibahas adalah ruangan merokok yang disediakan pihak bandara tidak memenuhi syarat.

Di Bandara Soekarno-Hatta misalnya, area merokok yang disediakan pengelola sangat jorok dan tidak memiliki sistem pembuangan yang baik. Pada Terminal 1A setidaknya ada dua smoking room dengan kondisi yang menyedihkan. Ruangannya kecil, kotor, kumuh, dan pengap. Asbak yang tersedia tidak pernah dibersihkan, abu rokok menumpuk dan sangat kotor. Parahnya, kedua pintu ruangan ini tidak bisa ditutup yang membuat asap rokok mengepul ke luar dan menjelajahi ruangan lain yang sebenarnya dianggap terlarang bagi asap rokok.

Hal serupa juga terjadi di Denpasar. Bandara Ngurah Rai menyediakan smoking room di ruang tunggu keberangkatan. Tapi lagi-lagi ruangan khusus itu berada dalam kondisi yang sangat tidak pantas, bahkan lebih buruk dariĀ  toilet. Sebagai bandara internasional yang padat oleh turis lokal maupun mancanegara, ruang merokok yang disediakan hanya sekitar 2 x 4 meter tanpa kursi dan tanpa penyedot asap. Tentu ini amat menyiksa puluhan orang yang ingin merokok.

Dengan demikian, amat jelas bahwa banyak pengelola bandara yang setengah hati untuk menyediakan smoking room yang manusiawi. Padahal, hak perokok telah dilindungi oleh Undang-Undang yang mana pemerintah wajib memenuhi hak-hak para perokok dengan menyediakan tempat khusus merokok yang layak di tempat-tempat publik.

Jadi, bila masyarakat masih banyak menemukan perokok yang merokok di tempat umum, sebenarnya bukan mutlak kesalahan si perokok. Bagaimana mungkin dapat membuat orang untuk tertib merokok di ruangan yang disediakan apabila fasilitas yang tersedia sangat minim dan tidak manusiawi?

Dengan tersedianya tempat merokok yang manusiawi, bukan tidak mungkin akan timbul kesadaran perokok untuk menghormati hak orang-orang yang tidak merokok, dengan cara merokok pada tempat yang telah disediakan. Toh aturan ini sejatinya telah diatur melalui putusan MK tentang Kawasan Tanpa Rokok yang baik bagi perokok maupun bagi non perokok.

Tentang Penulis

Membunuh Indonesia

Membunuh Indonesia

Redaksi Membunuh Indonesia mengumpulkan, mengarsipkan, dan memproduksi konten berupa artikel, dokumen, kajian ilmiah, dan sebagainya yang berkaitan dengan topik-topik ancaman kedaulatan ekonomi politik nasional.

Tinggalkan komentar