Lain-Lain

Pembunuhan Industri Otomotif Asing pada Mobil Nasional

mobil impor
Membunuh Indonesia
Ditulis oleh Membunuh Indonesia

Di saat anak negeri sedang berkarya untuk membangun cita-cita Indonesia mempunyai mobil nasional, pemerintah justru mematikan asa itu. Baru-baru ini pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) No.41 Tahun 2013 pada tanggal 23 Mei 2013 terkait mobil murah. Alih-alih membuat peraturan yang akan mendukung karya anak bangsa, aturan itu malah akan memberangus dan makin menjepit industri otomotif nasional.

Dalam PP itu, terdapat aturan mobil murah yang ramah lingkungan atau Low Cost Green Car (LCGC) yang sulit diikuti oleh industri mobnas. Aturan tersebut juga memberi kebebasan untuk tidak membayar pajak barang mewah bagi kendaraan dengan kapasitas mesin hingga 1.500 cc yang bisa menempuh setidaknya 20 kilometer per liter bahan bakar.

Bagi pelaku mobnas, penghapusan pajak tersebut merupakan upaya pemerintah yang ingin membenturkan mobnas dengan industri otomotif besar. Industri otomotif nasional yang harusnya diproteksi pemerintah seperti mobnas Tawon dan GEA yang berkapasitas 650 cc malah dibiarkan bersaing dengan mobil buatan asing berkapasitas 1.200 cc.

Dengan dibebaskannya pajak tersebut, membuat industri otomotif asing kegirangan. Pasalnya, kekhawatiran akan beralihnya konsumen kepada mobnas yang mempunyai harga terjangkau tidak akan terjadi. Dengan aturan itu, sekarang asing bisa memasarkan produknya dengan harga di bawah 100 juta. Bila dilihat dari kecenderungan pasar, dengan harga yang bersaing dengan mobnas tersebut, konsumen akan lebih memilih produk otomotif asing.

“Jika memang bunyi peraturan tersebut benar, maka itu sama saja menggiring kami untuk bersaing dengan pabrikan mapan. Ibaratnya, kami melawan para penghuni hutan rimba yang buas dan siap menyantap kami kapan saja,” tegas Dewa Yuniardi selaku Ketua bidang Pemasaran dan Komunikasi Asosiasi Industri Automotive Nusantara (Asia Nusa).

Saat ini, dari penduduk Indonesia yang berjumlah 240 juta orang, kurang dari lima persen saja yang memiliki mobil dan menjadi pasar yang sangat potensial. Sebelumnya, kehadiran mobnas diharapkan akan menjadi solusi bagi masyarakat yang ingin memiliki mobil dengan harga terjangkau. Tapi dengan adanya aturan mobil murah yang ditandantangani, sama saja dengan memukul harapan itu.

Menurut Ekonom, Ichsanuddin Noorsy, begitu potensialnya pasar nasional terhadap kebutuhan mobil harga terjangkau, tak jarang membuat pemerintah tidak berdaya oleh intervensi kepentingan perusahaan multinasional asing. “Betapa empuknya pasar otomotif dan elektrik di Indonesia. Itu salahnya pemerintah Indonesia, mudah didikte oleh asing,” ujarnya.

Kabarnya, Toyota bersama kompatriotnya, Daihatsu, bakal menyesaki jalanan dengan dua mobil murah bernama Agya dan Ayla dengan harga Rp 60 juta hingga Rp 100 juta. Raksasa otomotif India, Tata, juga bakal menggelindingkan mobil murah andalannya, Tata Nano, yang konon akan dijual di bawah Rp 50 juta.

Dengan demikian, PP tersebut jelas-jelas akan membunuh embrio mobil nasional karya anak bangsa yang saat ini baru tumbuh dan berusia balita. Kalau sudah begini, semakin terbukti bahwa liberalisasi yang terjadi di berbagai sektor strategis di Indonesia bukannya membawa kemakmuran, malah memicu kerontokan kemandirian bangsa. Sekarang yang dibutuhkan adalah komitmen pemerintah, apakah masih serius ingin menjadikan mobnas sebagai kebanggaan bangsa atau tetap didikte asing?

Tentang Penulis

Membunuh Indonesia

Membunuh Indonesia

Redaksi Membunuh Indonesia mengumpulkan, mengarsipkan, dan memproduksi konten berupa artikel, dokumen, kajian ilmiah, dan sebagainya yang berkaitan dengan topik-topik ancaman kedaulatan ekonomi politik nasional.

Tinggalkan komentar