Industri Hasil Tembakau

Komoditi Perkebunan Indonesia Mendunia

perkebunan tembakau
Membunuh Indonesia
Ditulis oleh Membunuh Indonesia

Indonesia adalah negara yang dilalui garis khatulistiwa. Musim dan cuaca relatif stabil, tanahnya yang subur memungkinkan Indonesia untuk menjadi negara tersohor sebagai penghasil komoditi pertanian. Potensi alam ini sering dibiarkan terlantar hingga tak mampu menjadi negara yang hanya sekadar mencukupi kebutuhan negaranya. Indonesia selalu terseok-seok setiap kali negara pengimpor membatasi penjualan produknya.

Namun, di tengah bertebarannya komoditi impor, ternyata masih ada komoditi pertanian dan perkebunan petani Indonesia yang menjadi komoditi unggulan di kancah internasional.

Indonesia menempatkan diri sebagai produsen minyak sawit mentah terbesar di dunia. Produksi kelapa sawit Indonesia yang merupakan bahan mentah minyak goreng (crude palm oil/CPO) rata-rata mencapai 23,5 juta ton per tahun. Dari jumlah itu, 16,5 juta ton diekspor ke sejumlah negara di dunia, terutama AS dan Eropa. Merujuk data yang dikeluarkan Kamar Dagang dan Industri (Kadin), penerimaan devisa negara 2010-2015 dari komoditi kelapa sawit mencapai 80 miliar dolar AS.

Minyak kelapa sawit dari Indonesia juga mampu menggeser kedudukan minyak kedelai dan minyak nabati negara subtropis. Pangsa pasar minyak sawit di pasar minyak nabati dunia mencapai 27 persen, lebih tinggi dibanding minyak kedelai dan minyak nabati subtropis sebesar 23 persen. Berkembangnya industri biofuel juga membuat minyak sawit menjadi kompetitor utama rapseed oil, sunflower, canola, bahkan minyak fosil.

Kemudian, karet juga menjadi salah satu komoditi andalan Indonesia. Komoditi karet Indonesia menempati peringkat ke-2 setelah Thailand sebagai pemasok karet mentah dunia. Produksi karet meningkat secara perlahan dari 2.440.347 ton di tahun 2009 menjadi 2.990.184 ton pada 2011. Kemudian terus meningkat di tahun 2012 sebesar 3.040.376 dan diperkirakan pada tahun 2013 sebesar 3.100.000 ton.

Produksi karet Indonesia masih didominasi oleh karet rakyat dengan luasan terbesar di Indonesia yang diusahakan oleh jutaan petani kecil-kecil (small farm) dan memberikan kontribusi besar dalam menghasilkan devisa negara. Selain itu, karet rakyat mampu menyerap CO2 sebesar 121.942.555 ton per tahun yang dapat mengurangi pemanasan global (Reducing Global Warming). Dengan demikian proses produksi karet rakyat tetap dapat menjaga nilai-nilai ramah lingkungan (Environmentally Friendly Values).

Komoditas Indonesia lainnya yang mendunia adalah kopi. Indonesia menduduki peringkat 3 sebagai produsen kopi dunia dibawah Brazil dan Vietnam. Basarnya produksi kopi Indonesia per tahun rata-rata sekitar 600 ribu ton. Dari angka ini Indonesia dapat mensuplai  tujuh persen kebutuhan kopi dunia.Data International Coffee Organization (ICO) menunjukkan volume ekspor kopi asal Indonesia mencapai 10.620.000 kantung (satu kantung berisi 60 kilogram/kg) di 2012, naik 72% dari 2011 sebanyak 6,15 juta kantung.

Indonesia yang terdiri atas banyak pulau membuat kopinya begitu kaya rasa dan aroma. Tidaklah mengherankan Indonesia dikenal sebagai salah satu penghasil kopi terbaik di dunia. Jenis yang paling terkenal dengan aromanya yang khas adalah kopi Arabika dan Robusta. Di antara dua jenis itu, kopi Arabika menjadi specialty yang banyak disukai konsumen internasional. Setidaknya terdapat delapan specialty kopi Arabika terbaik Indonesia yang diakui dunia, yaitu: Kopi Gayo dari Aceh, Kopi Toraja dari Sulawesi Selatan, Kopi Java dari Jawa Timur, Kopi Mandailing dan Kopi Lintong dari Sumatera Utara, Kopi Flores-Bajawa dari NTT, Kopi Baliem dari Papua, dan tentunya Kopi Luwak yang menjadi kopi termahal dunia adalah asli Indonesia.

Selanjutnya, terdapat perkebunan tembakau sebagai khasanah pertanian Indonesia yang tidak bisa dihilangkan. Tembakau merupakan salah satu komoditi terpenting bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Industri tembakau dari hulu ke hilir telah melibatkan puluhan juta tenaga kerja. Tembakau Basuki (Jember) dan tembakau Deli (Sumatera Utara) terkenal sebagai salah satu bahan cerutu terbaik di dunia. Bahkan khusus tembakau Deli, tembakau jenis ini sudah dikenal lebih dari 120 tahun oleh bangsa Jerman. Bukti-bukti sejarah tembakau Deli dan peran bangsa Jerman dalam mempopulerkan tembakau Deli ke dunia sudah tercatat pada abad ke-19. Tembakau Deli di pasar Eropa harganya dapat mencapai EUR 150 per kilogram.

Ekspor tembakau Indonesia ke Uni Eropa pada tahun 2011 mencapai 15.698 ton atau senilai USD 85,3 juta. Nilai ini meningkat 52,13% dibanding dengan tahun 2007. Periode Januari-Mei 2012, ekspor tembakau mencapai 6.409 ton atau senilai 34,3 juta, menurun 8% di tahun 2011 pada periode yang sama.

Produk-produk tembakau yang sangat digemari di Eropa adalah cerutu lintingan asal Sumatera Utara. Ramuan cerutu ini bisa dikombinasikan dengan tembakau dari daerah lain sehingga memiliki cita rasa yang istimewa.

Sumber gambar: Eko Susanto via Flickr

Tentang Penulis

Membunuh Indonesia

Membunuh Indonesia

Redaksi Membunuh Indonesia mengumpulkan, mengarsipkan, dan memproduksi konten berupa artikel, dokumen, kajian ilmiah, dan sebagainya yang berkaitan dengan topik-topik ancaman kedaulatan ekonomi politik nasional.

Tinggalkan komentar