Industri Hasil Tembakau

Kenapa Akun @KerenTanpaRokok Tak Dapat Dipercaya?

rokok
Membunuh Indonesia
Ditulis oleh Membunuh Indonesia

Kabar mengejutkan dilansir oleh akun twiter @KerenTanpaRokok beberapa waktu lalu. Dia menyebut penghasilan petani tembakau sangat rendah, yakni hanya Rp.81.397,00 per bulan. Jika apa yang diungkap oleh akun tersebut benar, tentu saja realitas ini jadi sangat menyedihkan. Betapa tidak, dengan penghasilan sebesar itu, kita tidak bisa membayangkan bagaimana cara petani-petani tembakau bisa bertahan hidup.

Sayangnya, akun tersebut tidak menunjuk waktu dan tempat atau daerah di mana petani tembakau yang berpenghasilan serendah itu tinggal. Akibatnya, data yang dia ungkap tidak dapat diverifikasi. Kebenaran suatu data, salah satunya bisa dibuktikan melalui upaya verifikasi. Dengan demikian, informasi yang tidak lengkap dan tidak dapat diverifikasi, secara otomatis memiliki derajat kebenaran yang patut diragukan. Bukan bermaksud menyatakan, bahwa apa yang diungkap @KerenTanpaRokok itu sebagai suatu kebohongan, namun secara metodologi, data yang dia ungkap tidak dapat diverifikasi kebenarannya.

Selain dengan metode verifikasi, data tersebut juga sulit dipercaya kebenarannya secara nalar dan akal sehat. Dengan penghasilan serendah itu sebulan, maka orang tidak bisa bertahan hidup, bahkan dengan standar yang paling minimal sekalipun. Jika benar ada petani tembakau yang berpenghasilan serendah itu, tentunya dia akan melepaskan pekerjaannya sebagai petani tembakau dan mencari pekerjaan lain yang lebih baik. Hal semacam itu akan terjadi secara alamiah. Karenanya, jika ada orang mempertahankan pekerjaan yang memberikan hasil serendah itu sebulan, menjadi tidak masuk akal. Dan memercayai ada petani tembakau yang bertahan dengan penghasilan serendah itu, maka patut dipertanyakan daya nalarnya.

Pada kenyataannya, kehidupan petani tembakau ternyata tidak seperti yang digambarkan oleh akun @KerenTanpaRokok tersebut. Menurut ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI), Wisnus Brata, penghasilan petani tembakau bisa mencapai 80 – 100 juta rupiah setiap hektarnya untuk sekali panen. Jika dikurangi 30 juta sebagai biaya produksi, maka petani tembakau bisa mengantongi penghasilan bersih sebesar 50-70 juta rupiah sekali panen untuk lahan seluas satu hektar.

Kehidupan petani tembakau di Temanggung, tidak ada yang semiskin seperti apa yang digambarkan oleh akun @KerenTanpaRokok. Bahkan pada tahun 2012 lalu, terdapat ratusan petani tembakau yang sudah mendaftarkan dirinya untuk dapat menjalankan ibadah haji. Nama-nama mereka kini masuk dalam daftar waiting list calon jemaah haji yang akan diberangkatkan mulai tahun 2016 mendatang secara berturut-turut untuk menjalankan ibadah haji ke tanah suci.

Selain mampu menunaikan ibadah haji, kehidupan petani tembakau juga tampak lebih sejahtera ketimbang kehidupan petani yang menanam komoditi lain. Hal ini tampak dari bangunan rumah yang mereka tempati, kendaraan yang mereka miliki, serta kemampuan mereka untuk menyekolahkan anak-anaknya hingga jenjang yang tinggi.

Hal tersebut dibenarkan oleh petani tembakau dari tiga kecamatan di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, yaitu dari Desa Petarangan, Kecamatan Kledug; Desa Legok Sari, Kecamatan Telogo Mulyo; dan Desa Campurejo, Kecamatan Tretep. Ketiga kecamatan tersebut dikenal sebagai sentra penghasil tembakau yang memasok belasan ribu ton tembakau setiap tahunnya untuk tiga perusahaan raksasa rokok di jawa Tengah. Petani tembakau dari ketiga desa tersebut, di antaranya Timbul (40), Sujari (43),  Sugianto (38) Suyanto (67), Supadin (45), Slamet (40) Salim (45), Gustiawan (35), Muhairi (50), dan Ibu Aryanti. Mereka semuanya menyatakan bahwa kehidupan sebagai petani tembakau telah membuat mereka bisa hidup sejahtera.

Kondisi kehidupan para petani di tiga desa tersebut boleh dibilang sejahtera dan sangat baik. Hal ini bisa dilihat dari rumah-rumah penduduk, fasilitas seperti masjid, jembatan, jalan, sekolah, dan balai pertemuan desa. Semuanya sudah terbangun dengan baik. Mayoritas rumah petani adalah rumah permanen. Beberapa di antara rumah-rumah permanen tersebut dibangun dengan berlantai dua. Namun lantai atas tidak ditempati dan dibiarkan kosong,  karena dimanfaatkan sebagai tempat untuk mengeringkan tembakau..

Lebih lanjut Suyanto mengatakan, bahwa petani tembakau yang ada di Desa Petarangan tak hanya mampu membangun rumah, beli mobil dan motor. Tetapi dengan cara swadaya, para petani mengumpulkan uang hasil penjualan tembakau untuk membangun fasilitas jembatan penghubung. “Sekarang transportasi kami ke kota semakin mudah. Hasil-hasil panen bisa diangkut ke kota dengan lancar,” kata Suyanto.

Sistem swadaya untuk membangun fasilitas desa juga diterapkan di Desa Legok Sari. Kepala Desa Legok Sari, Supadin, mengatakan setiap tahunnya,para petani secara swadaya mengumpulkan iuran sebesar Rp 1.025.000 untuk membangun fasilitas-fasilitas desa seperti masjid ataupun sekolah. “Di Desa Legok Sari, ada sekitar 400 petani. Dengan iuran Rp 1.025.000 per tahunnya, kami bisa mengumpulkan iuran lebih dari Rp 400 juta,” kata Supadin.  Uang sebanyak ini selanjutnya dipergunakan untuk membangun masjid dan gedung SD Negeri. SD Negeri yang kami bangun saja menghabiskan biaya Rp 500 juta. Bahkan kami juga bisa naik haji dari hasil bertani tembakau,” ujar Supadin.

Kondisi yang sama juga terjadi di Desa Campurejo. Muhairi mengatakan, keterlibatan pabrikan tembakau membeli tembakau petani mampu memperbaiki taraf hidup warga di Desa Campurejo. Sebelum pabrikan masuk, rumah-rumah warga di Desa Campurejo hanya berdinding tepas. Kini setelah pabrikan membeli tembakau petani, rumah-rumah petani pun sudah berubah menjadi lebih baik lagi dari tepas menjadi beton dan berlantai dua.

Kepala Desa Campurejo, Gustiawan, mengatakan masa tanam tembakau di Temanggung adalah April hingga November. Normalnya, untuk dipanen, tembakau membutuhkan waktu enam bulan dengan masa panen sebanyak tiga kali. Dikatakan Gustiawan, waktu yang dibutuhkan untuk tiga kali masa panen adalah dua bulan. Selama dua kali masa panen ini, kata Gustiawan, tembakau yang dipanen dan dijual bisa mencapai 19 ribu ton. Dengan harga penjualan rata-rata Rp 50 ribu per kg, maka uang yang berputar di Temanggung selama dua bulan bisa mencapai Rp 1 triliun. “Jauh lebih besar dari APBD Temanggung tahun 2010 yang hanya Rp 625 miliar,” ujar Gustiawan.

Dari ulasan di atas, dapat kita pahami bersama bahwa tuit dari akun @KerenTanpaRokok, sama sekali tidak memiliki dasar kebenaran, dan karenanya tidak dapat dipercaya. Data yang diungkap adalah angka manipulatif yang diambil secara ngawur. Jika untuk hal-hal kuantitatif yang sederhana saja mereka menggunakan data-data ngawur dan tidak benar, bisa dipastikan juga bahwa data-data mereka yang lebih kompleks, sebenarnya juga lebih ngawur lagi dan lebih tidak berdasar lagi. Alangkah bijaknya jika kita mulai bersikap kritis terhadap keberadaan akun-akun yang membenci tembakau. Sebab data mereka adalah ngawur dan tidak benar semuanya.

Tentang Penulis

Membunuh Indonesia

Membunuh Indonesia

Redaksi Membunuh Indonesia mengumpulkan, mengarsipkan, dan memproduksi konten berupa artikel, dokumen, kajian ilmiah, dan sebagainya yang berkaitan dengan topik-topik ancaman kedaulatan ekonomi politik nasional.

Tinggalkan komentar