Industri Hasil Tembakau

Jaminan Kuota Pembelian dan Kemitraan Tembakau

petani tembakau
Membunuh Indonesia
Ditulis oleh Membunuh Indonesia

Mekanisme pasar tembakau berbeda dengan mekanisme pasar pada umumnya yang mengandalkan pola permintaan dan ketersediaan barang. Komoditi tembakau menjadi satu-satunya tanaman yang memiliki jaminan kuota pembelian oleh pabrik rokok. Di saat komoditi lain kerap kebingungan untuk menjual hasil panennya, petani tembakau saat panen bisa langsung menyetorkannya ke pabrik. Dengan begitu, petani juga harus memerhatikan standar kualitas dan kuantitas yang telah ditentukan oleh pabrik.

Jaminan kuota pembelian dari pabrik memberikan keistimewaan dan kemudahan kepada petani tembakau dibanding petani lainnya. Karena itu, menjaga mutu tembakau seharusnya menjadi tugas semua pihak yang berkepentingan. Paling tidak, harus ada tiga pihak yang terlibat untuk menjaga mutu tembakau. Pertama, yaitu petani sebagai pihak yang terkait langsung dengan produksi tembakau. Kedua, adalah pabrikan sebagai pihak yang menggantungkan persediaan tembakau dari petani. Ketiga, adalah pemerintah sebagai pemegang kebijakan.

Ketiga komponen ini harus saling melengkapi dengan membentuk kemitraan. Petani harus bekerja keras dan bersiap untuk mengasup teknologi dan alih pengetahuan terbaru agar mutu panen tetap terjaga. Pabrik dengan sumber daya dana maupun manusianya juga harus membantu petani agar mempertahankan mutu tembakau. Sementara, pemerintah menjadi fasilitator yang menjadi wadah kerja sama antara dua pihak yang saling menguntungkan. Petani mendapatkan harga yang baik, pabrik mendapat tembakau yang bagus.

Untuk pabrik kretek, keuntungan dari sistem kemitraan sangatlah jelas. Pabrik tidak hanya akan mendapatkan tembakau yang terjaga mutunya, tapi juga memperoleh loyalitas dari petani. Pada pangkalnya, ini membuat stok tembakau pabrik tetap terjaga.

Keuntungan yang lebih jelas diperoleh petani. Dengan sistem kemitraan, petani akan mendapatkan banyak keuntungan, di antaranya transfer dan asupan teknologi, memperoleh perhatian dan bimbingan dari pengepul dan pabrikan, mendapatkan akses kredit dan bunga yang murah, dan pasar yang jelas.

Sekretaris APTI Jateng, Agus Setiawan, menyatakan, petani membutuhkan kerja sama yang berkesinambungan dengan pihak pabrikan. Petani siap menanam tembakau supaya hasilnya berkualitas selama ada jaminan harga yang menguntungkan dari pihak pabrikan. Sementara, pihak pabrik pun harus tetap membeli tembakau sampai habis ketika panen petani belum selesai, meskipun kuota pembelian sudah terpenuhi.

Sumber gambar: Eko Susanto via Flickr

Tentang Penulis

Membunuh Indonesia

Membunuh Indonesia

Redaksi Membunuh Indonesia mengumpulkan, mengarsipkan, dan memproduksi konten berupa artikel, dokumen, kajian ilmiah, dan sebagainya yang berkaitan dengan topik-topik ancaman kedaulatan ekonomi politik nasional.

Tinggalkan komentar