Industri Hasil Tembakau

Impor Tembakau Menguras Devisa Negara

tembakau
Membunuh Indonesia
Ditulis oleh Membunuh Indonesia

Peran tembakau dalam perekonomian nasional sangatlah besar. Hal itu bisa dilihat dari beberapa indikator seperti perannya sebagai penerimaan negara, sumber lapangan kerja, dan pendapatan masyarakat.

Meskipun permintaan dan konsumsi rokok baik di tingkat global maupun nasional terus mengalami peningkatan, namun produksi tembakau dalam negeri mengalami penurunan produksi dalam satu dekade terakhir. Penurunan terjadi pada seluruh aspek yang terkait dengan pengadaan tembakau seperti luas areal, produksi, dan produktivitasnya. Hal ini menyebabkan terjadinya impor besar-besaran tembakau.

Kebijakan impor tembakau itu tentu berdampak pada usaha petani tembakau nasional. Pasar Indonesia didominasi oleh tembakau petani asing yang menghancurkan harga tembakau lokal. Parahnya, perusahaan raksasa lebih senang menggunakan tembakau impor karena dinilai mempunyai kualitas lebih baik.

Menurut data APTI, impor tembakau dalam beberapa tahun terakhir selalu melonjak. Pada 2003, volume impor tembakau hanya 23 ribu ton. Sementara, pada 2011 naik menjadi 91 ribu ton, dan pada 2012 impor tembakau menembus 100 ribu ton. Dengan semakin meningkatnya jumlah impor, dipastikan uang negara mengalir kepada negara-negara pengekspor tembakau ke Indonesia seperti Cina, Brasil, dan Amerika.

Hal tersebut semakin diperparah oleh jumlah ekspor rokok yang setiap tahun selalu defisit dibandingkan dengan impornya. Usut punya usut, hal tersebut disebabkan oleh regulasi dari negara-negara asing yang menerapkan hambatan tarif, yaitu bea masuk yang sangat tinggi bagi tembakau. Cina mengenakan bea masuk tembakau sampai 57 persen. Sementara itu, di Amerika setiap produk tembakau yang masuk pasar Amerika Serikat dikenakan bea masuk 350 persen.

Sedangkan di Indonesia, sejak Letter of Intent diteken, liberalisasi melibas sektor pertanian. Tata niaga dibebaskan, subsidi ditiadakan, dan harga diserahkan pada mekanisme pasar. Proteksi kepada petani juga dihilangkan, seperti pajak, cukai, dan bea tarif. Tidak heran, bea masuk tembakau di Indonesia hanya 40 persen. Nilai yang lebih rendah dari yang diterapkan Cina dan Amerika Serikat.

Akibatnya, Indonesia tak kuasa membendung banjir tembakau impor. Sedangkan jumlah ekspor tembakau dan produk tembakau Indonesia sulit menembus pasar-pasar negara maju dan terus mengalami penurunan. Tak pelak, Indonesia mengalami defisit neraca perdagangan. Defisit tersebut mengindikasikan bahwa tembakau dan produk tembakau bukan menjadi sumber devisa negara. Akan tetapi, kondisi semacam ini akan merugikan negara dari sisi perdagangan. Impor tembakau pada akhirnya juga hanya akan menyejahterakan petani luar negeri dan menguras devisa negara.

Sumber gambar: Eko Susanto via Flickr

Tentang Penulis

Membunuh Indonesia

Membunuh Indonesia

Redaksi Membunuh Indonesia mengumpulkan, mengarsipkan, dan memproduksi konten berupa artikel, dokumen, kajian ilmiah, dan sebagainya yang berkaitan dengan topik-topik ancaman kedaulatan ekonomi politik nasional.

Tinggalkan komentar