Lain-Lain

Bank Asing Minim Kontribusi pada UMKM

warung rokok
Membunuh Indonesia
Ditulis oleh Membunuh Indonesia

Kehadiran asing pada perbankan Indonesia, awalnya diharapkan pemerintah dapat memulihkan industri perbankan nasional yang sempat kolaps. Namun kehadiran asing tidak memberikan kontribusi yang berarti terhadap perekonomian nasional, khususnya sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Bank asing lebih agresif menyalurkan kredit konsumtif yang memberikan imbal hasil tinggi pada mereka daripada melakukan peningkatan kredit produktif dan UMKM.

Seperti diketahui, peran UMKM dalam pekenomomian Indonesia cukup besar dan sudah terbukti tahan uji menghadapi krisis, baik pada 1998 maupun saat krisis global 2008. Berdasarkan data Statistik Bank Indonesia, kontribusi kredit bank asing masih minim, yakni sebesar 11% dari total kredit industri perbankan Rp 2.725,6 triliun.

Ketua Umum Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HPPI) DKI Jakarta, Dhaniswara K. Harjono, mengatakan, bank asing seharusnya memiliki komitmen untuk turut membangun bangsa melalui pengembangan UMKM. Menurutnya, saat ini 90 persen pengusaha skala kecil dan menengah, justru yang menjadi ujung tombak pembangunan nasional. “Lihat saja saat krisis, pengusaha kecil tetap bertahan,” tandasnya.

Namun, nyatanya bank-bank asing lebih asyik bermain dan menikmati sektor kredit konsumtif yang memiliki keuntungan dan pangsa pasar cukup besar. Sedangkan, penyaluran kredit untuk sektor produktif dan UMKM lebih banyak dilakukan oleh bank BUMN atau milik Pemerintah Daerah, seperti Bank DKI, Bank Jabar, dan lainnya. Saat ini memang ada beberapa yang terjun ke sektor UMKM. Tapi, itu disebabkan persaingan di sektor konsumer yang sudah sangat ketat dan UMKM dipilih lantaran sektor ini menjanjikan keuntungan yang tinggi.

Dengan demikian, wajar bila banyak pihak yang menyuarakan pentingnya pembatasan kepemilikan asing di industri bank. Pemerintah seharusnya tidak begitu saja memperkenankan asing memiliki saham perbankan nasional tanpa batasan yang cukup. Bank lokal memang membutuhkan tambahan modal, namun tak berarti harus membuka pintu terlalu lebar bagi asing untuk menguasai pasar.

Kemudian, terkait minimnya kepedulian bank asing terhadap UMKM, seharusnya Bank Indonesia bisa membuat aturan yang mendorong bank asing untuk terlibat dalam pengembangan sektor ini. Hal itu dilakukan agar bank asing tidak hanya membawa pundi-pundi emas ke negara asalnya, tapi juga harus memberikan kontribusi yang lebih besar bagi perekonomian Indonesia.

Keterangan gambar: warung rokok, salah satu bentuk usaha mikro/kecil
Sumber gambar: Eko Susanto via Flickr

Tentang Penulis

Membunuh Indonesia

Membunuh Indonesia

Redaksi Membunuh Indonesia mengumpulkan, mengarsipkan, dan memproduksi konten berupa artikel, dokumen, kajian ilmiah, dan sebagainya yang berkaitan dengan topik-topik ancaman kedaulatan ekonomi politik nasional.

Tinggalkan komentar