Industri Hasil Tembakau

Sponsor Rokok Haram, Dunia Seni Akan Lesu

rokok
Membunuh Indonesia
Ditulis oleh Membunuh Indonesia

Selama ini produsen rokok menjadi penyandang dana terbesar bagi berbagai acara seni. Mulai dari pagelaran teater hingga konser grup band dan artis internasional tidak lepas dari sponsor rokok. Namun, sejak ditetapkannya Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 109/2012, membuat pelaku seni hanya mempunyai dua pilihan: mencari sumber pembiayaan lain atau mati.

Peraturan yang lebih dikenal sebagai PP Tembakau ini, dalam Pasal 36 Ayat 2 mengatur tentang larangan bagi produsen rokok untuk promosi maupun memberikan sponsorship dalam kegiatan yang diliput media.

Bagi industri musik, meski dalam penyelenggaraan suatu konser mereka mempunyai sponsor lain dari industri perbankan dan telekomunikasi, tapi dana yang terkumpul itu dinilai belum mampu menutupi semuanya. Bilapun konser akhirnya digelar, imbasnya akan jatuh kepada penonton yang harus membayar tiket lebih mahal.

Selain itu, dengan gagalnya pemerintah memberantas pembajakan hak cipta kaset dan CD, ditambah pemasukan dari RBT yang pasang surut, membuat pelaku industri hiburan mengandalkan show sebagai tulang punggung aktivitasnya. Jika penonton enggan memenuhi sebuah pertunjukan karena melambungnya harga tiket, secara tidak langsung ini akan ‘mematikan’ industri tersebut.

Kegelisahan serupa juga melanda para pegiat teater. Harus diakui bahwa pemasukan dari tiket yang didapat dari sebuah pagelaran teater, kerap belum mampu menutup ongkos produksi. Oleh karenanya, untuk tetap berkarya mereka membutuhkan keterlibatan sponsor, salah satunya industri rokok.

Selain membatasi pemberian sponsor, PP tembakau yang mulai efektif 2014 ini, pada Pasal 39 juga  ”mengharamkan” adegan atau gambaran orang sedang merokok pada media cetak, media penyiaran, dan media teknologi informasi.

Ketentuan ini dinilai aneh oleh Slamet Rahardjo. Aktor senior sekaligus budayawan ini mengambil contoh bagaimana bisa nanti seorang sineas mengangkat sosok Chairil Anwar yang perokok berat tanpa menampilkan adegan merokok.

“Jangan bicara bahwa seniman nanti mati kalau tidak rokok. Tapi kita bicara, kalau saya tidak suka merokok, jangan melarang orang merokok. Kalau saya ingin berikan dukungan, saya ingin lebih memulai dari berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, berkepribadian dalam kebudayaan,” ujarnya.

Sumber gambar: Eko Susanto via Flickr

Tentang Penulis

Membunuh Indonesia

Membunuh Indonesia

Redaksi Membunuh Indonesia mengumpulkan, mengarsipkan, dan memproduksi konten berupa artikel, dokumen, kajian ilmiah, dan sebagainya yang berkaitan dengan topik-topik ancaman kedaulatan ekonomi politik nasional.

Tinggalkan komentar