Industri Hasil Tembakau

Sebaiknya Hari Terima Kasih Tembakau

terima kasih tembakau
Membunuh Indonesia
Ditulis oleh Membunuh Indonesia

Tanggal 31 Mei dikenal sebagai Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Seperti negara-negara lainnya, Indonesia melalui kelompok anti-tembakau pada hari ini mengintervensi orang agar berhenti merokok. Tapi peringatan Hari Tanpa Tembakau tidak relevan diselenggarakan di Indonesia. Negeri ini lebih butuh peringatan Hari Terima Kasih Tembakau Indonesia sebagai simbol perlawanan terhadap neoliberalisme asing yang ingin membunuh budaya kretek dan meruntuhkan kekuatan ekonomi nasional.

Seperti diketahui, keberadaan industri hasil olahan tembakau, yaitu rokok, telah memberikan sumbangan besar terhadap pertumbuhan, penyerapan tenaga kerja, maupun pendapatan negara. Industri rokok merupakan satu-satunya industri nasional yang terintegrasi dari hulu ke hilir. Karakter industri rokok lebih unggul dibandingkan dengan industri nasional lainnya. Mulai dari penyediaan input produksi, pengolahan, hingga proses pendistribusiannya dikerjakan di dalam negeri. Semuanya melibatkan tenaga kerja yang sangat besar jumlahnya.

Ini berbeda dengan kebanyakan industri lain seperti mie instan yang juga merupakan salah industri nasional yang relatif kuat. Tapi seluruh input gandumnya dipasok dari impor. Begitu pula dengan industri besi baja yang komponen inputnya berasal dari impor. Sementara dalam industri rokok, meskipun terdapat komponen impor, namun jumlahnya minim.

Industri rokok mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, baik sektor pertanian tembakau, sektor pengolahan, maupun sektor penjualan. Selain itu, industri ini juga menyediakan kesempatan kerja bagi pedagang kaki lima, warung kelontong, dan usaha tidak langsung lainnya.

Data International Labour Organization (ILO), industri rokok mampu menyerap sedikitnya 1,3 juta orang bekerja di ladang-ladang tembakau, 1,5 juta orang bekerja di ladang cengkeh, dan 10 juta orang terlibat langsung dalam industri rokok. Jumlah yang besar karena mencapai 30 persen dari jumlah tenaga kerja sektor formal, dan 10 persen dari tenaga kerja Indonesia secara keseluruhan. Total ada 30,5 juta orang, baik langsung maupun tidak langsung, yang mendapatkan manfaat dari tembakau.

Kemudian, melalui pembayaran hasil cukai tembakau tahun 2012, industri rokok nasional menyumbang negara sebesar Rp 84,4 triliun. Untuk tahun 2013, diperkirakan target penerimaan cukai dapat menembus Rp 103,73 triliun, dengan besar pertumbuhan 22,90 persen.

Jumlah tersebut belum termasuk pajak lainnya yang dibayarkan oleh perusahaan tembakau dan tenaga kerja. Itu juga belum termasuk sumbangsih industri rokok melalui dana sponsorship dan dana Corporate Social Responsibility (CSR) terhadap pengembangan kebudayaan nasional, baik itu untuk memajukan sektor olahraga, pendidikan, dan seni.

Jadi, sangat wajar bila pada hari yang sedianya merupakan peringatan Hari Tanpa Tembakau, tapi kenyataannya berubah menjadi Hari Terima Kasih Tembakau seperti yang  dilakukan para petani di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Petani tembakau melakukan aksi di perempatan Tugu Yogyakarta. Petani yang didukung aktivis Komunitas Kretek ini menggelar aksi budaya menggunakan perlengkapan dari spanduk, replika daun tembakau, alat musik, dan karpet merah. Aksi budaya ini juga menolak diskriminasi terhadap tanaman tembakau, yang mendiskreditkan petani tembakau, industri kretek nasional, buruh pabrik, dan seluruh pemangku kebijakan yang terlibat dengan industri tembakau.

Tentang Penulis

Membunuh Indonesia

Membunuh Indonesia

Redaksi Membunuh Indonesia mengumpulkan, mengarsipkan, dan memproduksi konten berupa artikel, dokumen, kajian ilmiah, dan sebagainya yang berkaitan dengan topik-topik ancaman kedaulatan ekonomi politik nasional.

Tinggalkan komentar