Industri Hasil Tembakau

Perempuan Ini Selamat Lantaran Rokok Klobot

rokok klobot
Membunuh Indonesia
Ditulis oleh Membunuh Indonesia

Konon tersebutlah seorang perempuan bernama Roro Mendut. Dia adalah gadis rupawan yang dibawa ke Mataram sebagai bagian dari rampasan perang setelah Sultan Agung menaklukkan Pati pada 1627. Selanjutnya Sultan Agung menghadiahkan Roro Mendut kepada Tumenggung Wiroguno, selaku panglima perang Kerajaan Mataram dalam penaklukan Pati.  Sekalipun telah cukup berumur, Tumenggung Wiroguno tetaplah lelaki yang bisa kepincut pada perempuan muda jelita, maka pemberian hadiah itu pun diterimanya dengan senang hati.

Sekalipun menjadi bagian dari pemegang tampuk kuasa, Tumenggung Wiroguno tidak serta-merta langsung memperistri Roro Mendut. Namun dengan berbekal pada pegangan adat yang ada dan demi mendapatkan keselamatan, maka Tumenggung Wiroguno mengutus istrinya Nyai Ageng Wiroguno untuk melamar Roro Mendut. Proses pelamaran ini adalah bagian dari etika moral dan adat Jawa yang harus dipegang teguh oleh siapa pun, termasuk Tumenggung Wiroguno.

Niat baik Tumenggung Wiroguno untuk tidak menggunakan pendekatan kekuasaan ternyata berbuah pahit. Lamarannya ditolak Roro Mendut. Bahkan dihadapan Nyai Ageng Wiroguna, Roro Mendut dengan beraninya menjelek-jelekkan Tumenggung Wiroguno. Roro Mendut bukan saja menjelek-jelekkan Tumenggung Wiroguno, tetapi bahkan juga berani menghina dan mencemoohnya. Maka pulanglah Nyai Ageng Wiroguno dengan hati masgul.

Sesampainya di rumah, Nyai Ageng Wiroguno melaporkan hasil pertemuannya dengan Roro Mendut kepada suaminya. Semua dilaporkan dengan apa adanya, tanpa ada penambahan ataupun pengurangan. Demi mendengar laporan istrinya dan penolakan Roro Mendut atas lamarannya, maka murkalah Tumenggung Wiroguno. Selanjutnya dipanggilah Roro Mendut untuk dijatuhi hukuman. Tumenggung Wiroguno menghukum Roro Mendut untuk membayar pajak sebesar 3 riyal. Jika Roro Mendut tidak dapat memenuhi hukuman itu, maka Roro Mendut harus mau diperistri olehnya.

Demi terhindar dari kewajiban menikah dengan Tumenggung Wiroyudo, maka Roro Mendut menyepakati hukuman itu. Namun dia minta syarat, yaitu agar diberi modal untuk memulai usaha berdagang rokok klobot. Nyai Ageng Wiroguno akhirnya memberi modal Roro Mendut sebesar 10 riyal dengan catatan tempat Roro Mendut berjualan nantinya ditutupi kain sebagai tabir. Maksudnya agar orang yang berlalu lalang di depan tempat jualan Roro Mendut tidak bisa melihat kecantikannya.

Maka dengan berbekal uang 10 riyal, mulailah Roro Mendut menjalani bisnis membuat dan menjual rokok klobot. Tak kurang dari 30 bungkus rokok klobot dapat dihasilkannya hari itu. Semua rokok klobot tersebut kemudian dipajang di atas bokor perak yang diletakkan di muka warung. Namun cara berdagang Roro Mendut cukup unik. Dia membakar dan menghisap dulu rokok klobotnya, baru ditawarkan kepada orang yang lalu lalang di depan warungnya.

Cerita dari mulut ke mulut tentang kecantikan Roro Mendut telah membius banyak orang. Banyak orang berkerumun di depan warungnya dan ingin membeli rokok klobot yang dijualnya. Sekalipun harga rokok klobot Roro Mendut lebih mahal dari rokok lainnya, namun tetap saja itu tidak menyurutkan minat orang untuk dapat menikmati rokok klobot Roro Mendut.

Berapa pun harga yang diminta Roro Mendut untuk setiap batang rokok yang telah dihisapnya, tidak ada yang kuasa menawarnya. Semua lelaki yang berkerumun di depan warungnya memiliki hasrat yang sama untuk dapat menikmati bekas bibir dan sisa air liur Roro Mendut pada tiap batang rokok klobot yang telah dihisapnya. Semakin pendek batang rokok itu, maka harga jualnya akan semakin mahal. Sebab bekas bibir dan air liur Roro Mendut yang tersisa di sana juga semakin banyak.

Syahdan menurut sahibul hikayat, berkat rokok klobot itulah Roro Mendut bisa terhindar dari kewajibannya untuk menikahi Tumenggung Wiroguno. Rokok klobot telah menyelamatkan kehidupan Roro Mendut dari cengkeraman nafsu birahi Tumenggung Wiroguno.

Sumber gambar: Eko Susanto via Flickr

Tentang Penulis

Membunuh Indonesia

Membunuh Indonesia

Redaksi Membunuh Indonesia mengumpulkan, mengarsipkan, dan memproduksi konten berupa artikel, dokumen, kajian ilmiah, dan sebagainya yang berkaitan dengan topik-topik ancaman kedaulatan ekonomi politik nasional.

Tinggalkan komentar