Industri Hasil Tembakau

Lima Alasan Kenapa Kretek Harus Dipertahankan

rokok
Membunuh Indonesia
Ditulis oleh Membunuh Indonesia

Di tengah kampanye gencar dan tekanan untuk menguburnya, ternyata industri kretek Indonesia tetap dapat berdiri tegak sekalipun regulasi semakin memperketat belitannya. Penguburan industri kretek Indonesia sepenuhnya mewakili kepentingan negara asing yang bermaksud mengatur bisnis tembakau di seluruh dunia. Dengan berlindung di balik ketiak badan kesehatan dunia (WHO), mereka mengusung isu kesehatan untuk menghantam kretek. Selain itu, mereka juga menggunakan payung agama, dengan menyebut kegiatan merokok adalah sesuatu yang dibenci Tuhan.

Di Indonesia, industri kretek sebenarnya merupakan industri unggulan yang menopang hidup jutaan orang Indonesia. Nama yang sering disebut sebagai pelopor dalam industri ini adalah H. Jamhari, sais dokar asal Kota Kudus. Dia dipercaya sebagai orang pertama yang membuat rokok kretek dengan racikan tembakau dan cengkeh yang khas sekitar tahun 1880. Selanjutnya dia mempopulerkan dan menjual rokok kretek hasil racikannya, sebagai obat sesak napas.

Sepeninggal Haji Jamhari, industri kretek semakin berkembang pesat. Sebut saja nama M. Nitisemito yang jadi pelopor untuk industri kretek modern, dengan memberikan merek pada kemasan rokok kretek yang diproduksinya. Jika sebelumnya orang harus meracik dan melinting sendiri rokok kreteknya, maka setelah kemunculan rokok kretek kemasan produksi Nitisemito, maka kebiasaan itu semakin tergeser. Masyarakat pada akhirnya lebih menyukai rokok kretek yang siap dihisap, tanpa perlu repot melintingnya. Pergeseran kebiasaan inilah yang menjadi cikal bakal dari tumbuh pesatnya industri rokok kretek di Indonesia, hingga kini.

Ironisnya, industri kretek Indonesia kini harus berhadapan dengan kekuatan kapitalis asing yang bermaksud menguasai bisnis tembakau dunia. Serangkaian desakan mereka ajukan kepada pemerintah Indonesia. Mulai dari standardisasi bahan baku untuk menentukan kadar nikotin, mengatur perilaku perokok hingga memberikan sanksi pidana bagi perokok yang terbukti melanggar peraturan. Celakanya, pemerintah justru malah mematuhi desakan asing tersebut. Pemerintah tidak mengambil sikap untuk melindungi industri kretek Indonesia. Padahal industri kretek sebagai produk orisinil Indonesia terbukti telah tahan uji dalam menghadapi krisis dan berhasil menjadi topangan hidup bagi jutaan orang.

Ketika pemerintah tidak memiliki inisiatif untuk melindungi topangan hidup bagi jutaan warganya ini, maka saatnya bagi masyarakat untuk mengambil peran.  Setidaknya terdapat lima alasan kenapa kita harus mempertahankan industri kretek di Indonesia.

1. Penyumbang Cukai Terbesar
Cukai tembakau merupakan sektor dominan bagi penerimaan negara dari pajak. Pada tahun 2011, cukai tembakau yang diterima negara dari produk tembakau mencapai 77 triliun rupiah. Jumlah ini sepuluh kali lebih besar dari penerimaan negara yang didapat dari perjanjian kontrak karya Freeport di Papua setiap tahunnya. Bahkan angka itu juga jauh lebih besar ketimbang anggaran Kemenkes RI tahun 2013 yang mendapat anggaran dana 31,2 triliun rupiah  di APBN 2013. Jika dana cukai tembakau ini dialokasikan untuk Kementerian Kesehatan, maka problem jaminan kesehatan masyarakat terselesaikan.  Sebagai ilustrasi, dengan jumlah penduduk sekira 240 juta jiwa, dan pembayaran premi jaminan kesehatan 20 ribu rupiah per orang setiap bulannya, maka hanya dibutuhkan dana 4,8 triliun rupiah sebulan. Dalam setahun hanya memerlukan dana sekira 58 triliun rupiah dan seluruh rakyat Indonesia sudah terjamin kesehatannya.

2. Menggunakan Bahan Baku Lokal
Berdasar laporan Badan Pusat Statistik tahun 2009, industri kretek Indonesia menggunakan bahan baku lokal sebesar 96 persen dan sisanya impor. Penggunaan bahan baku lokal dalam porsi terbesar inilah yang menyebabkan industri rokok kretek Indonesia mampu bertahan dalam menghadapi krisis. Industri kretek kebal terhadap goncangan gejolak pasar internasional, bahkan dia sanggup meredam gejolak tersebut hingga tidak mampu mempengaruhi keseluruhan mata rantai industri kretek, mulai dari hilir hingga hulu.

3. Menampung Tenaga Kerja
Karakter industri tembakau yang padat karya telah menyebabkan industri ini mampu menyerap banyak tenaga kerja secara kontinu. Industri kretek melibatkan banyak petani tembakau yang menyediakan bahan baku juga pekerja pada tahap proses produksi yang mengolah tembakau menjadi rokok kretek dan pekerja pada tahap distribusinya. Selain itu, secara tidak langsung industri ini juga telah memberikan mata pencaharian bagi banyak pedagang asongan rokok. Bahkan sebenarnya, industri kretek ini juga jadi penopang bagi industri korek api. Sebab pengguna korek api kebanyakan adalah perokok.

4. Penyangga Pasar Dalam Negeri
Sekalipun mengalami penurunan dari tahun ke tahun secara prosentase, industri kretek Indonesia tetap merajai pangsa pasar rokok dalam negeri. Memang pada tahun 1990-an, industri kretek Indonesia menguasai 91, 74 persen pangsa pasar, dan menurun jadi 75 persen pada 2008. Namun penurunan tersebut juga disebabkan geliat akuisisi perusahaan rokok asing yang semakin gencar berusaha menguasai industri rokok lokal.

5. Menjadi Harapan Petani Tembakau
Pertanian tembakau di Indonesia tidak dapat dipisahkan dari industri kretek sebagai sektor hilir yang menyerap hampir seluruh hasil produksi pertanian tembakau. Mata rantai produksi dalam industri kretek menunjukkan hanya batang dan biji tembakau saja yang tidak terpakai dalam industri ini. Namun demikian biji tembakau tetap bisa disemai menjadi benih oleh petani guna ditanam pada musim tanam berikutnya.

Sumber gambar: Eko Susanto via Flickr

Tentang Penulis

Membunuh Indonesia

Membunuh Indonesia

Redaksi Membunuh Indonesia mengumpulkan, mengarsipkan, dan memproduksi konten berupa artikel, dokumen, kajian ilmiah, dan sebagainya yang berkaitan dengan topik-topik ancaman kedaulatan ekonomi politik nasional.

Tinggalkan komentar