Pangan

Komoditi Ini Dikuasai Kartel Pangan

daging
Membunuh Indonesia
Ditulis oleh Membunuh Indonesia

Merujuk UU Nomor 5 Tahun 1999, kartel adalah persekongkolan beberapa perusahaan untuk memengaruhi harga dengan mengatur produksi atau pemasaran suatu barang atau jasa, atau disebut pula oligopoli. Berdasar penyelidikan Lembaga Pengkajian Penelitian dan Pengembangan Ekonomi (LP3E) Kadin, importir yang menjalin sistem bisnis oligopoli itu memperoleh keuntungan luar biasa. Sebagai missal, imbalan importasi dari negara asal bahan pangan yang diimpor, kartel bisa mengantongi laba Rp1.000 sampai Rp5.000 per kilogram. Sehingga dalam setahun, ditambah kenaikan harga yang mereka upayakan lewat penimbunan atau modus-modus lain, perkiraan kasar keuntungan kartel pangan mencapai Rp11,3 triliun.

Temuan Kadin ini memperkuat laporan Komite Ekonomi Nasional (KEN) bulan lalu yang menyatakan adanya sekelompok pengusaha yang menciptakan oligopoli bisnis bahan pangan. Situasi tersebut terjadi karena kontrol pemerintah lemah dan ada kebijakan kuota serta perizinan impor hanya untuk segelintir pengusaha yang akhirnya membuka celah bagi tumbuhnya kartel.

Berdasarkan data Kadin, inilah enam bahan pangan yang kemungkinan besar telah dikuasai kartel pangan di tanah air:

1. Daging Sapi
Daging sapi jadi perhatian masyarakat setelah skandal suap terkait permintaan penambahan kuota impor daging terkuak. Skandal ini melibatkan kolega Menteri Pertanian RI, Suswono, yang  pada waktu itu menjabat sebagai  Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Lutfi Hasan Ishak. Pemeriksaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) atas skandal ini mulai menunjukkan arah adanya kartel yang mengatur perdagangan daging sapi di Indonesia. Sebagai akibat dari skandal ini, beberapa pejabat eselon I Kementerian Pertanian diperiksa KPK, Presiden PKS ditahan dan dicopot jabatannya dari partai.

Skandal tersebut menyeruak menjelang akhir 2012, di mana komoditi daging sapi menjadi isu berkepanjangan karena Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan tidak kompak dalam penentuan kuota impor 80.000 ton untuk tahun ini. Selain itu, pengusaha juga turut memperkeruh suasana karena berulang kali menyatakan pasokan daging tidak cukup dan mendesak kuota impor ditambah.

Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa membenarkan dugaan harga daging sapi meroket lantaran permainan pengusaha. Menurutnya itu bukan dikarenakan kelangkaan, tetapi karena adanya kartel yang memainkan harga. Berdasar perhitungan Kadin, konsumsi daging nasional tahun lalu sebesar 549.670 ton. Jika kartel memainkan harga sampai di kisaran Rp90.000-95.000 dan mengambil untung hingga 30 persen, maka kartel daging sapi itu menangguk untung sampai Rp340 miliar per tahun.

2. Daging Ayam
Sampai akhir 2012, harga daging ayam di pasaran relatif stabil. Namun sejak mahalnya harga daging sapi, harga daging ayam juga turut meroket, dari Rp20.000 per kg jadi Rp27.000 per kg dan menyumbang inflasi nasional sebesar 0,14 persen. Kementerian Perdagangan menduga  tingginya harga ayam yang tiba-tiba terjadi di awal 2013 karena konsumen beralih membeli daging  ayam yang lebih murah, sebab tidak mampu lagi membeli daging sapi yang teramat mahal.

Namun, Kadin punya pendapat berbeda.  Menurutnya, daging ayam yang jadi bahan utama sate dan makanan olahan seperti nugget itu juga telah dimainkan oleh kartel. Sebab, pangsa pasar ayam dan sapi selama ini berbeda, hingga kenaikan harga daging sapi mustahil hanya dipicu karena peralihan konsumen saja.

Sebagai catatan, dengan konsumsi tahun  2012 lalu yang mencapai 1,9 miliar ekor, Kadin memprediksi kartel spesialis ayam bisa menangguk untung hingga  Rp1,4 triliun tiap tahun.

3. Beras
Sekalipun Indonesia telah memiliki Badan Urusan Logistik (Bulog) yang mengatur ketersediaan dan distribusi pangan, ternyata beras yang bahan makanan pokok itu juga sudah dikuasai kartel. Jaringan kartel beras menurut Kadin bisa terendus dari aksi impor yang selalu dilakukan Bulog menjelang pergantian tahun. Pada 2012 kemarin, Bulog mengimpor satu juta ton beras dari Vietnam, Thailand, Myanmar, dan India. Alasannya, cadangan beras akhir tahun tidak sampai dua juta ton seperti direncanakan semula.

Buat Kadin, serapan beras dari petani yang awalnya cukup untuk ketahanan pangan nasional tetapi terbukti kemudian tidak sesuai merupakan indikasi permainan kartel. Apalagi masyarakat Indonesia “rakus” beras, lantaran konsumsinya mencapai 140 kilogram per tahun per individu.

Sebagai catatan, dengan konsumsi nasional 34 juta ton, maka aksi kartel beras ini akan menangguk untung hingga  Rp1,2 triliun setiap tahunnya.

4. Gula
Kadin menduga, pergerakan harga gula di pasaran tanah air sudah diatur sedemikian rupa oleh pelaku oligopoli. Selain itu, kartel disinyalir aktif bergerak lantaran pemerintah mengizinkan beberapa BUMN mengimpor gula mentah (raw sugar) mencapai 2,15 juta ton tahun lalu untuk memenuhi kebutuhan konsumsi gula Januari-Februari 2013.

Secara nasional, kebutuhan gula untuk konsumsi rumah tangga saja mencapai sekitar 2,97 juta ton gula kristal putih (GKP) per tahun, atau sekitar 250 ton per bulan. Bulan ini, mayoritas pasar tanah air menjual gula di kisaran Rp12.000 per kilogram.

KEN, KPPU, dan Kadin, kompak menuding ada enam perusahaan yang berkuasa mengatur pasokan gula. Bila harga gula ternyata turut dimainkan perusahaan besar yang bersekongkol, maka koalisi “kartel manis” ini menurut Kadin bisa mengantongi Rp4,6 triliun pada tahun 2012.

5. Jagung
Tidak dinyana, bahan pangan pokok utama setelah beras ini juga terkena sentuhan kartel. Salah satu turunan jagung yang konon dimainkan kartel adalah jagung kering alias pipilan. Saat ini jagung dijual Rp2.400 per kilogram, naik Rp400 dari bulan lalu. Untuk sementara, kenaikan harga diperkirakan akibat cuaca buruk yang melanda produsen jagung pelbagai negara.

Namun belang para kartel terendus dari laporan KEN. Pada industri pakan unggas yang hampir 70 persen bahan bakunya adalah jagung, empat perusahaan terbesar menguasai sekitar 40 persen pangsa pasar.  Pemerintah menargetkan produksi jagung mencapai 19,83 juta ton pada tahun ini. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan produksi tahun 2012 yang mencapai 18,96 juta ton, atau naik 8,7 persen. Bila kartel turut terlibat, maka potensi keuntungan mereka dari bisnis jagung mencapai Rp2,2 triliun.

6. Kedelai
Penyelidikan Kadin  dan KPPU yang bertugas membasmi keberadaan kartel,  membenarkan adanya kartel yang mengendalikan bisnis bahan baku pembuatan tahu dan tempe. Terlebih mengingat jumlah importer kedelai yang terbatas namun menguasai pasokan kedelai di Indonesia. Data KEN jelas menyebut bahwa importir kedelai di Indonesia hanya ada tiga, yakni PT Teluk Intan (melalui PT Gerbang Cahaya Utama), PT Sungai Budi, dan PT Cargill Indonesia.

Di sisi lain, konsumsi kedelai nasional tahun lalu mencapai 2,6 juta ton, maka kartel pengatur pasokan dan harga bahan baku tahu tempe ini bisa mendapatkan laba hingga Rp1,6 triliun.

Tentang Penulis

Membunuh Indonesia

Membunuh Indonesia

Redaksi Membunuh Indonesia mengumpulkan, mengarsipkan, dan memproduksi konten berupa artikel, dokumen, kajian ilmiah, dan sebagainya yang berkaitan dengan topik-topik ancaman kedaulatan ekonomi politik nasional.

Tinggalkan komentar