Industri Hasil Tembakau

Komnas Pengendalian Tembakau Bawa Misi Asing

tembakau
Membunuh Indonesia
Ditulis oleh Membunuh Indonesia

Tokoh-tokoh anti-tembakau bermunculan. Mereka bersuara lantang menentang tembakau. Pelan tapi pasti, wacana tembakau berbahaya bagi kesehatan menjelma jadi kebenaran umum. Nyaris tidak ada wacana tandingan, semuanya seakan taken for granted.

Muncul skeptisme bahwa kampanye anti-rokok-tembakau sebetulnya tidak bebas nilai. Wacana anti rokok-tembakau tidak berdiri sendiri,  terdapat peran besar dari sebuah lembaga asing di balik pendanaan gerakan anti-rokok global, termasuk di Indonesia.

Berdasarkan data yang dilansir dari laman resmi Bloomberg Initiative To Reduce Tobacco Use Grants Program, kampanye anti-tembakau dan kretek ternyata dibiayai oleh Wali Kota New York, Michael Bloomberg. Tidak tanggung-tanggung, 6,4 juta dolar Amerika mengucur ke kantong sejumlah LSM dan lembaga pemerintah bahkan DPR terkait dengan program tersebut.

LSM seperti Komnas Pengendalian Tembakau (Komnas PT) pun bahkan tidak malu-malu mengakui bahwa mereka menerima aliran dana tersebut. Selama kurun waktu Desember 2009 sampai Maret 2013, tercatat Komnas PT mendapat US$ 304,5 ribu untuk mengampanyekan larangan iklan, sponsorship, dan promosi kretek dan tembakau di Indonesia.

Gencarnya kampanye anti-rokok dan tembakau yang didanai jutaan dolar Amerika dari Bloomberg Initiative kepada Komnas PT jelas merupakan serangan asimetris asing di tataran hilir dengan menggunakan “pemain lokal”, sedangkan serangan ke hulu atau sistem ialah dengan mendukung  PP 109 Tahun 2012 tentang dampak tembakau dan menolak Rancangan Undang-Undang Pertembakauan yang mereka anggap mempunyai semangat untuk melindungi petani dan menjamin keberlangsungan industri hasil tembakau.

Salah satu motivasi Komnas PT terlihat jelas, pertama, mematikan industri rokok dan tembakau, kedua, mengangkat industri farmasi milik asing melalui produk-produk farmasi seperti permen karet nikotin, koyok transdermal, habitrol, semprot hidung, obat hirup, dan lainnya.

Akibat kampanye yang dilakukan Komnas PT dan LSM anti-tembakau lain, selain bertujuan menekan produksi dan konsumsi rokok dan tembakau, negara juga terancam kehilangan sumber penerimaan dari industri tembakau.

Di saat puluhan juta orang terancam kehilangan mata pencaharian dan sumber kehidupan, korporasi farmasi multinasional, yang tidak berkontribusi untuk menyerap tenaga kerja dan tidak memberikan keuntungan yang signifikan bagi penerimaan negara, sibuk menghitung peluang keuntungan dari perdagangan obat-obat NRT ini dengan bersembunyi di balik topeng “kesehatan publik”.

Ketika para penggiat anti-tembakau masih sibuk mengampanyekan bahaya-bahaya tembakau dan ngotot menekan pemerintah untuk membuat aturan atau regulasi pengontrolan yang ketat atas tembakau, korporasi-korporasi farmasi multinasional yang mendapat keuntungan bisnis dari agenda ini sibuk menghitung keuntungan dari bisnis nikotin.

Tentang Penulis

Membunuh Indonesia

Membunuh Indonesia

Redaksi Membunuh Indonesia mengumpulkan, mengarsipkan, dan memproduksi konten berupa artikel, dokumen, kajian ilmiah, dan sebagainya yang berkaitan dengan topik-topik ancaman kedaulatan ekonomi politik nasional.

Tinggalkan komentar